Biar Jemaah Haji Tak Kesasar dan Aman Usai Ibadah di Masjidil Haram - Kumparan
Biar Jemaah Haji Tak Kesasar dan Aman Usai Ibadah di Masjidil Haram

Entah sudah berapa banyak jemaah haji yang tersesat, lupa arah pulang, atau bahkan hanya bisa berdiam diri karena bingung harus berbuat apa setelah beribadah di Masjidil Haram.
Biasanya, kasus jemaah tersesat muncul setelah mereka melakukan salat berjemaah atau umrah wajib. Kondisi Masjidil Haram yang penuh dan lalu lintas jemaah yang satu arah kerap membuat jemaah terpisah atau lupa arah pulang.
Nah, biar gak tersesat bisa coba dari ini:
1. Gelang dan ID Card
Selalu bawa gelang identitas dan ID Card yang diberikan ketika terbang ke Arab Saudi dan tiba di Makkah. Di sana tercantum nama jemaah termasuk embarkasi mana.
Dari situ, bisa diketahui jemaah tinggal di mana, harus menuju ke terminal apa, dan naik bus nomor berapa.
Bahkan, QR code yang ada di ID Card, jemaah maupun petugas bisa dengan mudah melacak di mana jemaah ini tinggal. Tinggal scan lewat aplikasi Haji Pintar, muncul semua data jemaah.
2. Sandal
Walau kecil, sandal jadi masalah paling krusial di Masjidil Haram. Biasanya, jemaah lupa menaruh sandal sehingga kembali ke hotel tidak pakai alas kaki.
Ini sangat bahaya bila di Masjidil Haram. Cuaca Makkah yang mencapai 45 derajat membuat jalanan begitu panas. Bila jemaah tak pakai sandal, kaki bisa melepuh.
Kasus ini juga sudah banyak ditemui petugas. Petugas di sekitar Masjidil Haram maupun di terminal memang sudah menyiapkan sandal-sandal untuk jemaah.
Tapi, akan lebih baik kalau jemaah membawa plastik dan tidak menitipkan sandal ke rekannya. Apalagi menaruh di sembarang tempat. Bukan soal hilang, tapi potensi tidak ketemu karena tak bisa kembali ke titik semula.
"Bawa tempat sandal atau plastik, bawa jangan ditinggal sandalnya. Nanti kalau dia pulang cuaca panas kaki bisa melepuh," ujar Kasie Perlindungan Jemaah (Linjam) Daker Makkah, Rijalkani.
Jangan lupa juga minum setiap saat, paling tidak setiap 5-10 menit sekali. Jangan menunggu haus untuk minum. Sebab cuaca panas dan kelembapan rendah membuat jemaah tidak merasa haus.
Ini juga dilakukan untuk menghindari jemaah dari bahaya dehidrasi dan kelelahan.
3. Terminal
Ada 3 terminal besar di sekitar Masjidil Haram: Jiad, Bab Ali, dan Syib Amir. Tidak jarang jemaah haji lupa naik dari terminal mana atau malah lupa jalan menuju terminal.
Setiap jemaah haji sudah dibekali kartu terminal oleh petugas. Di sana berisi rute dan nomor bus. Jemaah cukup menghapalkan bus nomor berapa yang harus dinaiki, dengan begitu lebih mudah mengingat nama terminal yang akan dituju.
a. Jiad (Nomor Bus: 11-12)
Melayani jemaah haji tinggal di kawasan Misfalah. Kawasan itu dihuni oleh jemaah embarkasi Lombok dan sebagian embarkasi Solo
b. Bab Ali (Terminal Internasional Tanpa Nomor)
Melayani jemaah yang tinggal di kawasan Mahbas Jin. Di sana dihuni oleh jemaah dari embarkasi Jakarta-Bekasi dan sebagian embarkasi Kertajati.
c. Syib Amir (Nomor bus 2-10)
Melayani jemaah yang tinggal di Jarwal, Raudhah, dan Syisyah.
- Jarwal meliputi: embarkasi Jakarta-Pondok Gede, Balikpapan, Aceh, Medan, Padang
- Raudhah meliputi: embarkasi Solo, sebagian Surabaya
- Syisyah meliputi: sebagian embarkasi Kertajati, sebagian embarkasi Surabaya, embarkasi Makassar, Batam, Banjarmasin, dan Palembang
4. Taksi
Jemaah haji biasanya punya kegiatan pribadi selain menuju ke Masjidil Haram. Bisa saja sekadar membeli oleh-oleh di sejumlah titik di kota Makkah.
Tak jarang jemaah memilih menumpangi taksi untuk menuju tempat itu. Tapi, tak bisa sembarangan memilih taksi di sana.
Pastikan jangan pergi sendiri. Bawa uang secukupnya. Pilih taksi resmi yang terdapat merek dan mahkota.
Lebih jauh lagi, sebaiknya tak menggunakan taksi untuk beraktivitas. Selama di Makkah baiknya fokus ibadah atau beristirahat di hotel untuk menjaga stamina prima menjelang puncak haji.
"Untuk itu kepada jemaah untuk berupaya datang dan pulang dari Masjid Haram dan Nabawi hendaknya menggunakan bus selawat. Sudah ada rute-rute yang disiapkan petugas. Kalau tidak mendesak hindari pakai taksi atau mobil yang disewa," ujar Kabid Linjam PPIH Arab Saudi, Harun Al-Rasyid.
5. Hati-hati Menyeberang
Jemaah haji harus hati-hati saat beraktivitas di Makkah. Mobil-mobil yang melintas biasanya berkecepatan tinggi.
Kegiatan rutin jemaah memang difasilitasi bus selawat. Tapi, tak jarang jemaah yang punya kegiatan lain.
Atau seperti jemaah di kawasan Mahbas Jin. Mereka tinggal di jalur bus internasional. Bus selawat tak berhenti di depan hotel mereka.
Akhirnya, mereka harus menyeberang 2 jalan besar. 4 lajur jalan umum dengan lalu lintas cukup padat.
Ada 6 lajur bus selawat di jalur internasional yang harus mereka seberangi saat dari dan ke Masjidil Haram.
Jemaah haji baiknya mengikuti arahan petugas yang ada di lokasi saat menyeberang. Atau pakai fasilitas underpass pejalan kaki agar lebih aman.
6. Petugas
Jangan ragu tanya petugas. Ini yang terus digaungkan kepada jemaah. Petugas haji sudah disebar di setiap titik kumpul jemaah.
Misalnya di Masjidil Haram, 3 terminal, hingga di hotel-hotel jemaah.
Bila bingung atau membutuhkan pertolongan jangan ragu mendatangi petugas terdekat. PPIH Arab Saudi dibekali seragam khusus kemeja putih celana hitam dan rompi hitam dengan tulisan Indonesia.
Petugas akan melayani jemaah sesuai dengan kebutuhan mereka. Mulai dari masalah kesehatan menggendong ke bus, hingga mengantar jemaah tersesat sampai ke hotel.