Cerdas! Begini Jawaban Abu Nawas Saat Ditanya Dimana Keberadaan Allah SWT - Akurat
Cerdas! Begini Jawaban Abu Nawas Saat Ditanya Dimana Keberadaan Allah SWT

AKURAT.CO Dikisahkan pada suatu ketika, sepulangnya dari ibadah haji, Baginda Harun Al-Rasyid mengundang Abu Nawas yang sudah lama tidak berjumpa dan berbincang di istana. Baginda kemudian memerintahkan beberapa prajuritnya untuk menjemput Abu Nawas untuk dihadapkan ke istana.
Sesampainya di istana, baginda langsung menyambut Abu Nawas dengan mengajaknya menuju ke pendopo untuk berbincang-bincang sambil meminum teh.
Seperti biasanya, dalam setiap perbincangan, baginda selalu mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas. Kali ini baginda membahas seputar ibadah haji yang baru saja ia tunaikan.
Sang raja merasa penasaran dengan orang-orang yang berputar-putar mengelilingi Ka'bah Baitullah (Tawaf). Padahal orang yang menunaikan ibadah haji adalah tamu Allah SWT.
Jika status para jamaah haji adalah sebagai tamu Allah SWT, kenapa tidak dipersilahkan saja masuk ke dalam Baitullah satu persatu, begitu pikir baginda.
Baginda pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan pada Abu Nawas,
"Wahai Abu Nawas, apakah arti Ka'bah Baitullah?".
"Ka'bah Rumah Allah, baginda yang mulia," jawab Abu Nawas.
"Sebagai apakah orang yang menunaikan ibadah haji itu?" Tanya baginda berikutnya.
"Sebagai tamu Allah, baginda yang mulia," jawab Abu Nawas.
"Kalau sebagai tamu Allah mengapa mereka tidak dipersilahkan masuk saja ke dalam Baitullah?" Tanya baginda penasaran.
"Baitullah hanyalah sebagai lambang, wahai baginda," kata Abu Nawas.
"Kalau begitu di manakah Allah SWT bersemayam?" Tanya baginda yang masih penasaran.
"Di dalam hati orang mukmin," jawab Abu Nawas kembali.
Abu Nawas kemudian menjelaskan, "Karena tidak ada suatu ruang yang bagaimanapun luasnya mampu menampung Dzat Allah SWT kecuali hati orang mukmin. Qalbu Mukmin Baitullah (hati orang mukmin adalah rumah Allah)."
"Mengapa Baitullah dijadikan kiblat?" Tanya baginda kembali.
"Untuk memudahkan pemahaman orang awam, baginda raja yang mulia," kata Abu Nawas.
"Baitullah itu terlihat mata. Dari itu salat syariat kiblatnya adalah Baitullah, yang waktunya ditentukan dan dengan bacaan tertentu pula," tambah Abu Nawas.
"Sedangkan salat tharikat kiblatnya hati, waktunya bisa setiap saat dan bacaannya dzikir kepada Allah," jelas Abu Nawas.
Baginda Raja Harun pun merasa puas dengan jawaban yang diberikan Abu Nawas. Wallahu A'lam.[]