Habib Luthfi Sebut Cara Syukur Merayakan Kemerdekaan Indonesia Mulai dari Pembangunan Lingkungan Sekitar - JATMAN Online
Habib Luthfi Sebut Cara Syukur Merayakan Kemerdekaan Indonesia Mulai dari Pembangunan Lingkungan Sekitar - JATMAN Online
Published
4 days agoon
16/08/2023By
Warto'i
Kabupaten Bekasi, JATMAN Online – Ketua Forum Sufi Dunia Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya atau Habib Luthfi menghadiri istigasah bersama pada Senin kemarin (14/8) sampai Selasa (15/8) dini hari di Lapangan Plaza Kantor Pemerintahan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
“Kita mendapatkan anugerah yang luar biasa Abah Habib Luthfi untuk kedua kalinya bisa kembali hadir dalam istigasah dalam rangka peringatan Hari Jadi Kabupaten Bekasi tahun lalu ke-72 dan tahun ini ke-73,” kata Penjabat Bupati Bekasi Dani Ramdan, dalam keterangan yang diterima, Rabu (16/8).
“Tentu ini luar biasa, karena kedatangan Habib memberikan berkah kepada kita, doa dan tausiah Beliau memberikan pencerahan,” lanjutnya.
Dani menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Bekasi telah menjalankan nasihat dari Habib Luthfi dalam acara istigasah tahun lalu untuk melakukan pembangunan dalam bidang keagamaan.
Selain mendukung pelaksanaan program pendidikan bagi kader Majelis Ulama Indonesia, menurut dia, Pemerintah Kabupaten Bekasi melanjutkan pembangunan kegiatan usaha wisata religi.
Acara istigasah dan doa bersama yang berlangsung mulai Senin (14/8) pukul 19.00 WIB hingga Selasa pukul 01.00 WIB diikuti oleh warga, pejabat pemerintah daerah, dan ulama.
Dalam acara itu, Habib Luthfi berpesan kepada masyarakat Kabupaten Bekasi untuk mewujudkan raya syukur atas nikmat kemerdekaan Indonesia dengan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan mulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Bentuk terima kasih, rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Tapi mampukah kita membelanjakan rasa syukur itu. Memanfaatkan terima kasih untuk diimplementasikan. Begitu senangnya para leluhur kita yang telah andil memerdekakan negara ini dari penjajah. Senang luar biasa,” ujar Habib Luthfi.
Kegiatan istigasah dan doa bersama itu diharapkan dapat mendatangkan kebaikan bagi masyarakat Bekasi.
“Kita mengharapkan hal ini bisa membangun masyarakat bukan hanya aspek fisik, ekonomi, infrastruktur, tapi juga budaya, dan terutama agama melalui iman dan takwa dan moderasi beragama,” ujar Penjabat Bupati ini.
Share this:
Kiai Zakky Mubarak Jelaskan Cara Mencapai Serambi Makrifat
Published
11 hours agoon
19/08/2023Jakarta, JATMAN Online – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr. KH. Zakky Mubarak, MA menjelaskan mengenai cara mencapai serambi makrifat. Setelah memahami secara sederhana pengertian makrifat, baik dari pengertian etimologi maupun terminologi, maka selanjutnya akan memasuki serambi makrifat.
Namanya serambi, kata Kiai Zakky, tentu belum menembus sampai ke hakikat makfirat, tetapi baru memasuki tangga demi tangga untuk mencapai makrifat yang sesungguhnya.
“Kita sebagai hamba Allah dan sebagai salah satu makhluk ciptaan-Nya, sudah selayaknya senantiasa beribadah dan berserah diri dengan sungguh-sungguh untuk menggapai keridhaan-Nya. Keridhaan yang senantiasa didambakan oleh setiap manusia mukmin,” tulis Kiai Zakky diakses JATMAN Online, Sabtu (19/08/2023) dalam akun facebook Zakky Mubarak Syamrakh.
Kiai kelahiran Cirebon, 20 April 1950 ini menyampaikan salah satu kriteria seseorang yang telah memasuki serambi makrifat, orang itu tidak pernah angkuh, sombong, dan merasa paling benar. Sebagai makluk yang lemah, manusia harus menyadari bahwa segala apa yang ada padanya adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala Seseorang tidak bisa berbuat apapun, kecuali dengan izin dan pertolongan-Nya.
“Dengan demikian, ia akan selalu berusaha menapaki jalan menuju taqarrub kepada Allah agar memperoleh pertolongan, perlindungan, dan karunia-Nya. Segala sesuatu yang dapat merintangi jalan menuju Allah subhanahu wa ta’ala, harus disingkirkan jauh-jauh dari lubuk hati, seperti sifat serakah terhadap kehiudupan dunia, kikir, ujub, riya’ dan berbagai sifat tercela lainnya,” jelasnya.
Kiai Zakyy menerangkan bahwa manusia belum bisa memasuki serambi makrifat atau tangga-tangga makrifat, sebelum ia memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
(1) mengenal Allah secara mendalam, sehingga seolah-olah ia dapat melihat-Nya atau berhubungan langsung dengan-Nya.
(2) segala aktivitas yang dilakukannya selalu berpedoman pada al-Qur’an dan al-Sunnah.
(3) berpasrah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan selalu memerangi hawa nafsunya.
(4) meyakini bahwa dirinya adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya akan kembali.
Menurut Imam al-Ghazali, ada empat hal yang harus dikenali dengan baik dan kemudian didalami secara sungguh-sungguh bagi mereka yang memasuki tangga makrifat;
(1) mengenali dan memahami dengan baik terhadap dirinya sendiri.
(2) mengenal Tuhannya dengan bersungguh-sungguh dan mendalam.
(3) mengenal dan memahami kehidupan dunianya, dan
(4) mengenal akhirat secara mendalam.
“Memperhatikan uraian di atas, maka yang dimaksud bertaqarrub kepada Allah atau mengenal-Nya dengan baik adalah dilakukan dengan baik secara lahir dan batin, baik ketika sendirian ataupun di depan orang banyak. Mengikuti al-Qur’an dan al-Sunnah maksudnya segala aktivitas harus berpedoman kedua sumber ajaran Islam itu dan meneladani akhlak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam selanjutnya, ia tidak akan terpengaruh oleh kebencian orang lain terhadap dirinya atau pujian mereka,” ucapnya.
Dosen Senior Universitas Indonesia ini mengatakan hatinya menerima dengan tulus semua ketentuan Allah, baik yang ringan ataupun yang berat. Tetap mendekatkan diri kepada-Nya, baik dalam keadaan berbahagia ataupun dalam menghadapi berbagai kesulitan maupun kesusahan.
“Ia bukan saja meninggalkan yang haram, tetapi juga meninggalkan yang makruh dan syubhat dan bersifat istiqamah dalam melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Agar kembali kepada-Nya dalam suka dan duka, dilakukan dengan cara bersyukur pada saat memperoleh karunia dan bersikap tabah pada saat menghadapi musibah,” ujarnya.
Dalam rangka melaksanakan semua ketentuan tersebut di atas, lanjutnya, pada dasarnya berpangkal pada lima hal, yaitu;
(1) semangat yang tinggi untuk melaksanakan kebajikan dan meninggalkan berbagai hal tercela.
(2) bersikap hati-hati dalam menghadapi yang syubhat dan menjaga kehormatan.
(3) meningkatkan kemampuannya dalam berkhidmat pada sesama.
(4) melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan dengan sungguh-sungguh.
(5) mensyukuri dan menjunjung tinggi karunia nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.
“Barang siapa yang memiliki semangat yang tinggi, maka akan naik derajatnya. Siapa yang meninggalkan larangan Allah, maka akan terjaga kehormatannya. Orang yang melakukan ketaatan dengan benar, akan mencapai dan memahami keagungan dan kemuliaan Tuhannya. Siapa yang mensyukuri dan menjunjung tinggi nikmat Allah, maka akan meraih karunia yang lebih tinggi lagi,” tuturnya.
Menurut Dewan Pakar Lajnah Dakwah Islam Nusantara (LADISNU) ini perilaku seseorang yang memasuki serambi makrifat, hendaklah ia tidak pergi, kecuali untuk menggapai keridhaan Allah. Ia tidak duduk di suatu majelis, kecuali yang aman dari murka-Nya.
“Ia tidak bersahabat, kecuali dengan orang-orang yang bisa membimbingnya menuju ketaatan kepada-Nya. Ia tidak memilih sahabat karib kecuali orang yang dapat menambah keyakinannya untuk meningkatkan keimanan dan kesucian dirinya,” pungkasnya.
Kiai Zakky mengungkapkan seorang yang melangkah memasuki tanda-tanda makrifat adalah;
(1) bersikap benar, adil dan jujur.
(2) berserah diri dengan sepenuh hati kepada Allah subhanahu wa ta’ala,
(3) menepati janji dengan baik terhadap segala hal yang dijanjikannya.
(4) bersikap tabah dan sabar dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik yang berat maupun yang ringan.
(5) menjaga kewajiban-kewajibannya agar terus dipenuhi dengan baik dan
(6) menjaga diri dari segala perbuatan yang tercela.
Share this:
Subang, JATMAN Online – Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (JATMAM) Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya menghadiri Tasyakuran HUT ke-78 RI dan Pelantikan MUI Kabupaten Subang yang digelar di Lapangan Bintang, Kelurahan Pasirkareumbi, Subang, Jawa Barat, Jumat (18/8/2023) malam.
Habib Luthfi dalam ceramahnya menegaskan bahwa Indonesia kuat karena persatuan bangsa. Hal ini sudah dibuktikan oleh leluhur bangsa Indonesia sejak ratusan, bahkan ribuan tahun silam.
“Bangsa kita ini bangsa yang besar, bukan bangsa yang lemah,” kata Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini.
Dilansir dari NU Online, Ketua Forum Sufi Dunia ini menyatakan bahwa kekuatan bangsa Indonesia menjadi lemah karena konflik internal. Ia mencontohkan konflik bersaudara antara kerajaan Singosari dan Daha, hingga datanglah invasi pasukan Kubilai Khan dari Kerajaan Mongol yang dikenal memiliki angkatan perang kuat.
Saat itu, pasukan Kubilai Khan menekan dan meminta upeti kepada Raja Singosari, Raden Wijaya. Permintaan itu kemudian diterima dengan syarat pasukan Kubilai Khan harus menaklukkan dulu Kerajaan Daha yang saat itu dipimpin Jayakatwang. Usai menaklukkan Jayakatwang, Singosari menyerang balik pasukan Mongol dan akhirnya pasukan Mongol pun menyerah.
“Dari sekian puluh kapal (pasukan Kubilai Khan) hanya satu saja yang selamat. Ini menjadi mata pelajaran pada waktu di Majapahit,” jelasnya.
Habib asal Pekalongan ini juga membuka sejarah Gajah Mada yang berhasil melakukan ekspansi dan menguasai wilayah dari Sri Langka hingga Indocina. Jika ditafsirkan, hal itu menjadi show of force kepada dunia internasional. Terlebih kepada pasukan Mongol agar jangan sembarangan dengan Indonesia yang saat itu masih Nusantara.
“Ini Majapahit, jangan sekali-kali kalian masuk Indonesia, kalian Kubilai Khan paling cuma bisa masuk ke Singosari. Ini Gajah Mada yang mampu masuk Sri Langka sampai Indocina,” ucapnya disambut tepuk tangan ribuan hadirin yang memadati lokasi acara.
Dalam kesempatan tersebut, Habib Luthfi juga mencontohkan lemahnya pertahanan kerajaan Aceh karena konflik internal akibat adanya provokasi dari Portugis. Selain itu, Habib Luthfi juga membeberkan sikap toleransi yang dilakukan oleh para leluhur bangsa Indonesia.
“Contoh yang sangat luar biasa, Prabu Siliwangi mengangkat Syekh Quro, yang ngangkat agamanya beda, yang diangkat agamanya beda,” tandasnya.
Zaman Majapahit, lanjut Habib Luthfi, Prabu Brawijaya mengangkat Maulana Malik Ibrahim menjadi menteri urusan irigasi dan Syekh Ibrahim as-Samarqandi (ayah Sunan Ampel) diangkat menjadi menteri keuangan.
“Jadi toleran itu sudah kita yang ketinggalan, sudah 700 tahun yang lalu. Apalagi zaman Hijrah dengan adanya Piagam Madinah,” tuturnya.
Dijelaskannya, Rasulullah menjaga persatuan negara Arab yang heterogen dari berbagai suku bangsa dan agama dengan lahirnya Piagam Madinah.
“Kaum Yahudi diberi hak, kepala-kepala suku dengan segala macam paham dan ideologinya diberi hak. Sedangkan Rasulullah berjalan dengan risalahnya karena risalahnya untuk rahmatan lil alamin, bukan untuk bangsa Arab saja,” ungkapnya.
Mengingat hal tersebut, Habib Luthfi mengajak kepada masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Ia juga mengajak masyarakat untuk kembali membuka sejarah, terlebih sejarah perjuangan bangsa Indonesia agar generasi berikutnya tidak kehilangan jati diri dan memiliki nasionalisme yang kuat.
Share this:
Pekalongan, JATMAN Online – Syekh Dr. Riyadh Hassan Bazo, merupakan ulama thariqah dunia yang terpilih sebagai Wakil Ketua Persatuan Sufi Dunia yang lahir di Beirut pada tahun 1965 Masehi.
Sosok ulama yang tumbuh di pangkuan keluarga yang sederhana ini menjalani komitmen sejak usia dini untuk memelihara nilai-nilai keimanan dan mendorong dirinya untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala.
Meskipun ia kehilangan ayahnya ketika berada di masa kanak-kanak, tetapi itu tidak menghalangi ambisinya untuk menempuh pendidikan yang tinggi. Sebaliknya, hal itu bahkan mendorong dirinya untuk melanjutkan jalan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh setiap orang tua dari putranya, yakni menjadi pensuluk.
Menjadi murid di bawah naungan para ulama yang memumpuni, ia pun menjadi yang termuda tampil di mimbar sebagai pengkhutbah saat usianya baru tujuh belas tahun. Dan pada saat itu, ia adalah salah satu pengkhutbah termuda di Beirut.
Pada masa mudanya ia juga belajar kepada Syekh Abdullah Siraj al-Din, Syekh Adeeb Hassoun, Syekh Dr. Rajab Deeb tokoh ulama Tarekat Naqsabandiyah, juga kepada Mufti Besar Suriah Syekh Ahmad Kaftaro.
Hingga kini Syekh Dr Riyadh Bazo menjadi ulama thariqah yang mendapatkan ijazah dari para Syekhnya.
Di antara ijazah-ijazah tersebut, Syekh Riyadh Bazo mendapatkan ijazah dari Syekh Thariqah An Naqsabandiyah Dr. Rajab Deeb pada tahun 1999/1420 Hijriah.
Ia juga mendapatkan ijazah Thariqah Rifaiyah, Qadiriyah, Syadziliyah dari negara Libanon, Suriah dan Turki pada tahun 2010 dan mendirikan Majelis Shalatu ‘alan Nabi atas ijin Syekh Murabbi Said Al Kahil pada tahun 2012.
Selain itu, ia juga mendapatkan ijazah Alkhulashah Adzkar Al yaum wa lailah dari Al allamah Habib Umar bin Hafidz pada tahun 2014 serta ijazah dari Al allamah Habib Salim bin Abdullah Asy-Syatiri pada tahun 2014 (Thariqah Alawiyah).
Syekh Riyadh Bazo juga terpilih sebagai anggota pendiri Persatuan Sufi Dunia di Aljazair yang dihadiri oleh 50 negara pada tahun 2016 dan dijadikan sebagai Wakil Ketua Persatuan Sufi Dunia. Ia juga menjadi salah satu anggota pendiri Persatuan Sufi Dunia di Jakarta Indonesia pada tahun 2018 yang kini menjadi Majelis Sufi Dunia dan menjadi Ketua Bidang Dakwah pada tahun 2019.
Pada agenda World Sufi Assembly yang akan diselenggarakan di Pekalongan pada tanggal 29-31 Agustus mendatang, Syekh Riyadh Bazo akan hadir di sebagai Perwakilan Masyayikh Luar Negeri.
Penulis : Abdul Mun’im Hasan