0
News
    Home Featured Pilihan Tasawuf

    Keterkaitan Tasawuf dan Jiwa Kemerdekaan - JATMAN Online

    10 min read

     

    Keterkaitan Tasawuf dan Jiwa Kemerdekaan - JATMAN Online



    Published

    4 days ago

    on

    24/08/2023

    Allah sebagai Motif Utama

    Tasawuf merupakan upaya penyucian diri, membebaskan hati dan jiwa dari belenggu keterikatan pada dunia dan menuju pada Allah semata. Tasawuf menjadikan setiap jiwa merdeka dari perbudakan jiwa atas dunia, sebuah jiwa yang merasakan hati yang merdeka dari rasa terkekang atas segala tarikan belenggu himpitan dunia. Tasawuf juga mengajarkan akhlak sebagai manusia yang tunduk pada kehendakNya. Tasawuf bermakna pula ilmu yang berupaya mengetahui kebaikan dan keburukan jiwa serta berupaya untuk memperbaikinya (Gitosaroso, t.t.)

    Ide tasawuf tertuang dalam lagu Kebangsaan Indonesia Raya: “Bangunlah Jiwanya, bangunlah badannya”. Sebuah kalimat yang menunjukkan keutamaan anak bangsa untuk membangun jiwa yang kemudian disusul oleh pembangunan fisik tubuh manusia. Tasawuf bergerak dalam lapangan dalam jiwa manusia, ia memperbaiki jika ditemukan kekurangan, mempertebalnya jika telah baik. Tasawuf bergerak dalam lingkaran dalam hati dan kalbu manusia terdalam, dan syariah bergerak dalam lapangan fisik manusia. Lagu Indonesia Raya secara tidak langsung menunjukkan kesepaduan dan harmoni antara tasawuf dan syariah bagi manusia.

    Kemerdekaan Bangsa dalam lagu Kebangsaan Indonesia Raya tidak semata keluar dari belenggu penjajahan fisik, tetapi makna terdalam adalah menyangkut kemerdekaan setiap jiwa bangsa Indonesia dari belenggu apapun. Kemerdekaan yang hendak dicapai oleh Bangsa Indonesia memiliki nilai spiritualitas yang tinggi, karena kemerdekaan bangsa juga menyentuh sisi kemerdekaan jiwa manusia Indonesia.

    Hal ini juga dipertegas lagi dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea III yang dinyatakan bahwa “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Kalimat ini menunjukkan ide tasawuf yang dalam bahwa Kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah anugerah Allah subhanahu wa ta’ala. Bahwa hanya Allah yang menjadi kosmologi bertindak setiap jiwa manusia Indonesia. Kemerdekaan tercipta bukan sekedar kehendak manusia semata, tetapi di dalamnya ada peran kehendak Tuhan sebagai kehendak yang paling agung bagi Bangsa Indonesia.

    Kemerdekaan bagi manusia Indonesia hakikatnya bermakna kemandirian dalam bertindak untuk menentukan kehendaknya, terbebas dari bentuk penundukan oleh bangsa manapun karena dalam jiwa bangsa Indonesia yang ada hanyalah Allah semata. Menjadi wajar bahwa Sila Pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan Sila Ketuhanan ini menunjukkan karakter manusia Indonesia yang selalu melekatkan hati dan jiwanya semata kepada Tuhan. Dalam perspektif tasawuf maka yang ada dan terus hidup dalam diri manusia Indonesia hanyalah Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Pancasila sebagai jiwa bangsa bermakna meletakkan Allah sebagai satu-satunya motif penggerak abadi manusia Indonesia. Inilah kosmologi tasawuf dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Menempatkan Allah sebagai motif gerak dalam kosmologi befikir manusia Indonesia menunjukkan sebuah hubungan yang abadi antara manusia Indonesia dengan Tuhannya. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila sebagai jiwa bangsa (volkgeist) Indonesia menunjukkan pula sebuah totalitas penghambaan manusia Indonesia semata kepada Allah. Dengan Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan oleh Bung Karno maka manusia Indonesia menyatakan dirinya bukanlah budak bangsa manapun, bahwa manusia Indonesia adalah bangsa dengan jiwa merdeka yang berada dalam Rahman dan Rahim Allah semata.

    “Jika Aku telah mencintainya, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya” (HR. Bukhari No.6502).

    Tasawuf dan Jiwa Membangun

    Tasawuf memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap terbentuknya nation Indonesia. Para Pahlawan Indonesia sejak Syaikh Yusuf al Makassari, Pangeran Diponegoro, Hadaratussyaikh Hasyim Asyari, hingga Buya Hamka adalah para pengamal tasawuf yang meletakkan dasar kemerdekaan bangsa sebagai sebuah pengabdian kepada Allah semata. Kemerdekaan manusia itu membebaskan manusia dari belenggu penjajahan materi, dehumanisasi, membebaskan diri dari segala apapun, karena yang ada hanya Dia, Allah semata.

    Ketika jiwa sudah diliputi oleh Allah semata, maka desingan peluru dan ledakan bom sekalipun tidak menyurutkan para syuhada pejuang untuk rela mengorbankan nyawa demi tercapainya dan dalam upaya mempertahankan sebuah kemerdekaan. Yang dipandangnya bukan senjata dan peluru Belanda dan Sekutu, yang dipandangnya adalah surga Allah dan limpahan rahmat dan ampunanNya. Mereka tidak dibayar oleh Negara untuk berjuang, mereka adalah manusia yang berjuang demi kemerdekaan serta mempertahankannya dengan penuh keikhlasan. Tidak ada bayaran selain bayaran yang diterima oleh para syuhada pejuang kemerdekaan hanyalah rahman dan rahimNya semata.

    Relasi tasawuf dan kemerdekaan membuktikan bahwa tasawuf bukan berarti menyepi dari persoalan hidup manusia, tidak peduli dengan problematika kesulitan hidup manusia. Tasawuf justru melahirkan sikap kepedulian terhadap penderitaan sesama yang berujung pada perjuangan pencapaian kemerdekaan bangsa. Tasawuf memiliki dampak besar terhadap kehidupan sosial berbangsa. Penindasan yang dilakukan oleh kolonialis Eropa dilawan dengan semangat juang para pahlawan mengharap ridho Allah semata. Tasawuf telah memberikan pelajaran yang sangat berarti, bahwa tasawuf adalah kepedulian atas dasar cinta kepada Allah. Tasawuf adalah bentuk dari pemecahan problema sosial yang dihadapi manusia (Muhtador, 2017).

    Para pahlawan pejuang kemerdekaan sudah membuktikan begitu besarnya peran tasawuf dalam menggerakkan jiwa dan semangat berkorban. Tasawuf di tangan para syuhada pahlawan bangsa adalah seperangkat nilai-nilai pengorbanan. Walau kini Indonesia telah merdeka, perjuangan belumlah berakhir. Perlawanan terhadap kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, ekstremisme, ketimpangan sosial, masih terus diperjuangkan oleh para pengamal tasawuf yang mewarisi nilai-nilai kejuangan para Bapak Bangsa.

    Nilai pengorbanan dalam tasawuf mengajarkan sebuah gerak aktif membangun yang tiada henti, dengan semangat totalitas gerak itu hanya untuk Allah. Menjadikan Bumi Indonesia menjadi rumah yang nyaman bagi siapapun dan selalu berada dalam rahmat Allah terus diperjuangkan dan tidak pernah berhenti oleh para pengamal tasawuf. Membangun dengan menyebarluaskan kebaikan dan ketulusan berbuat menjadi sangat penting di tengah ramainya perhitungan materi untung-rugi di era postmoderen ini. Para pengamal ilmu tasawuf berupaya tetap terus menanamkan semangat ketulusan dan keikhlasan bagi setiap anak bangsa dalam membangun negeri.

    “Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (Qs. Al-Anfal [8]: 17)

    Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja (Dosen Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia)

    Share this:

    Jakarta, JATMAN Online – Masjid Istiqlal di Jakarta menjadi saksi atas berkumpulnya ribuan jamaah Muslim yang dengan semangat tinggi hadir untuk menghadiri kajian Subuh yang sangat istimewa. Kajian tersebut diisi oleh seorang ulama besar dari Hadramaut, Yaman, yaitu al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Kajian ini sangat ditunggu dan menjadi momen yang langka untuk mendengarkan nasihat dari seorang guru bagi banyak Habaib di Indonesia.

    Pada kesempatan kali ini beliau membahas kitab “Fath Basa’ir al-Ikhwan” karya Al-Habib Abdul Rahman bin Abdullah Balfaqih. Dalam kitab ini terdapat harta karun pengetahuan yang berharga tentang Islam, dan al-Habib Umar menjelaskan dengan penuh gairah.

    Dalam kajiannya, al-Habib Umar menyoroti pentingnya mengikuti ajaran para nabi dan mengikuti jejak mereka sebagai kunci menuju keberhasilan sejati dalam kehidupan dunia dan akhirat:
    “لم ينجح آدمي نجاحا صالحا كاملا في دنياه وأخراه إلا بواسطة الأنبياء واتباعه وأخذ ما جاؤوا به عن الله. وجميع الاتجاهات والحضارات قامت على مخالفتهم تفشل وتهلك”.

    “Tidak ada keberhasilan yang sempurna dalam kehidupan dunia dan akhirat kecuali melalui nabi-nabi dan pengikut-pengikut mereka serta mengikuti apa yang mereka bawa dari Allah. Semua arah dan peradaban yang menyimpang dari mereka akan gagal dan hancur,” ujarnya dengan penuh ketenangan.

    Beliau menekankan agar terus mengikuti guru-guru yang ajarannya bersambung kepada Nabi dan pewarisnya, terutama dalam urusan syariat, thoriqoh dan hakikat. Lebih lanjut beliau juga menjelaskan bahwa:
    “شؤون الشريعة والطريقة والحقيقة لها ترابط: معنى الطريقة: الإحسان في تطبيق الشريعة، ومعنى الحقيقة: ثمرة التحقق من الشريعة والطريقة. فمدعي الطريقة بلا شريعة كذاب، ومدعي الحقيقة بلا طريقة كذلك”.

    “Urusan syariah, tarekat, dan hakikat memiliki keterkaitan. Arti tarekat adalah melakukan kebaikan dalam menerapkan syariah, dan arti hakikat adalah hasil dari memahami syariah dan tarekat. Orang yang mengklaim hakikat tanpa tarekat adalah seorang pembohong, dan sebaliknya”.

    Momen berharga ini tidak hanya memberikan wawasan keagamaan yang mendalam tetapi juga menyatukan ribuan jamaah yang hadir dalam semangat persaudaraan dan cinta kepada ilmu. Acara ini diharapkan akan menjadi titik awal bagi lebih banyak kesempatan untuk mendengarkan nasihat dan pemikiran ulama besar yang dapat membimbing umat dalam menjalani kehidupan mereka dengan penuh makna dan berkah.

    Dalam suasana yang sarat dengan semangat kebaikan dan pengetahuan, para jamaah di Masjid Istiqlal Jakarta merasa lebih dekat dengan agama mereka dan siap menghadapi tantangan dunia modern. Semoga semangat kebaikan ini terus berkembang dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

    Pewarta: Ahmad Rizki Mukhlis

    Sejarah mencatat deklarasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945. Tanggal tersebut kini diperingati sebagai hari lahir bangsa Indonesia. Tapi tahukah Anda bahwa deklarasi kemerdekaan serupa diproklamasikan di Cirebon, pada 15 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan ini mendahului pembacaan Soekarno-Hatta di Jakarta. 

    Tepatnya di Kecamatan Kejaksan yang hingga kini berdiri sebuah tugu peringatan pembacaan Proklamasi tersebut. Namanya Tugu Pensil atau Tugu Kejaksan Cirebon atay juga Tugu Proklamasi. Lokasi ini disebut sebagai Tugu Proklamasi karena pada tanggal 15 Agustus 1945 telah dilakukan pembacaan teks Proklamasi oleh Dr. Soedarsono selaku pendiri Rumah Sakit Gunung Jati yang saat itu tergabung dalam gerakan pemuda.

    Sebenarnya banyak sumber yang membahas sejarah deklarasi proklamasi di Cirebon, salah satunya karena berita yang disiarkan oleh radio BBC London, yaitu seusai Amerika menjatuhkan bom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945.yang menyatakan Jepang kalah perang yang diketahui oleh Sutan Sjahir pejuang kemerdekaan asal Cirebon.

    Sutan Sjahrir tahu Jepang akan segera menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945. Dia tahu Jepang sudah lumpuh tak berdaya dan tidak bisa berlama-lama lagi menghadapi Amerika Serikat di kancah Perang Pasifik.

    Sjahrir, yang sejak lama membangun jaringan bawah tanah, lantas menggerakkan kelompoknya untuk bersiap dengan revolusi. Pemuda sosialis binaan Sjahrir di berbagai daerah manut. Mereka antusias menyambut kemerdekaan Indonesia.

    Sebelum deklarasi proklamasi kemerdekaan di Cirebon, Sjahir sudah beberapa kali konfirmasi kepada Soekarno. Akan tetapi karena ada sedikit percekcokan antara Soekarno dan Sjahrir, karena Soekarno dan Hatta belum mempercayai berita bawah Jepang sudah menyerah, beliau masih terus mencari buktinya.

    Dikatakan, bahwa dua hari sebelum proklamasi di Cirebon Sjahrir dan Hatta mendatangi Sukarno. Sjahrir tambah kecewa manakala Sukarno masih tak percaya Jepang menyerah karena siaran radio dari luar negeri banyak dikuasai Sekutu. Ia sendiri akan menanyakan kebenarannya ke otoritas pendudukan Jepang esok pagi, 15 Agustus.

    Sikap tim Soekarno dan Mohammad Hatta tersebut mengecewakan para pemuda yang sepakat dengan gagasan Bung Syahrir. Sebab, sikap itu beresiko kemerdekaan RI merupakan produk buatan Jepang.

    Sutan Sjahrir akhirnya meminta Dr. Soedarsono yang kala itu menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Kesambi atau yang sekarang menjadi RSUD Gunung Jati Cirebon untuk memproklamasikan Kemerdekaan di Alun-Alun Kejaksan Kota Cirebon.

    Kemudian, para pemuda di Cirebon hari itu tanggal 15 Agustus 1945, di bawah pimpinan Dr. Soedarsono, mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri. Proklamasi di Cirebon itu dibacakan di sebuah persimpangan jalan dekat Alun-Alun Kejaksan. Sekira 150 orang hadir dalam pembacaan itu yang sebagian besarnya adalah anggota PNI Pendidikan.

    “Akan tetapi tidak ada konfirmasi mengenai peristiwa ini; cerita mengenai pembacaan teks proklamasi Sjahrir itu hanya datang dari kalangan [PNI] Pendidikan. Sjahrir sendiri, kemudian dalam kisahnya, hanya menyinggung secara singkat saja peristiwa itu,” tulis Mrazek (hlm. 468).

    Selain memproklamasikan kemerdekaan, kelompok Sjahrir juga pembacaan naskah proklamasi di Alun-alun Ciledug, Cirebon (dekat Makam Habib Thoha bin Yahya). Sayangnya, lanjut Nurdin, naskah proklamasi yang dibacakan Sudarsono hilang tanpa jejak. Tidak tahu apakah naskah versi Sjahrir sama seperti yang Sukarno bacakan.

    Menurut sumber sejarawan Cirebon yang dikutip dari YouTube CNN Indonesia, bahwa teks proklamasi kemerdekaan yang dibacakan di Cirebon itu lebih panjang, sekitar 300 kata.

    “Kalau kita melihat misalnya, teks yang diketik oleh sayuti melik dengan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus. Konon kabarnya kalau untuk proklamasi di Cirebon itu lebih panjang sekitar 300 kata. namun sangat disayangkan  dokumen nya hilang, dokumen nya tidak ditemukan entah dimana” Tutur Akbaruddin Sucipto selaku Sejarawan dan Budayawan Cirebon.

    Share this:

    Komentar
    Additional JS