Romadhon
Khutbah Jumat: Tiga Tingkatan Orang yang Berpuasa Ramadhan, Mengapa Puasa Anda Bisa Berbeda?

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah, setiap orang berpuasa dengan cara dan tujuan yang berbeda. Tiga tingkatan puasa menurut Imam Al-Ghazali memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana kualitas puasa kita bisa membawa kita lebih dekat kepada Allah. Apakah kita hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, atau sudah berusaha untuk membersihkan hati dan memperbaiki diri? Khutbah Jumat ini akan mengajak kita merenungi tingkatan-tingkatan puasa yang mungkin belum kita sadari.
Naskah khutbah Jumat ini berjudul, “Khutbah Jumat: Tiga Tingkatan Orang yang Berpuasa Ramadhan, Mengapa Puasa Anda Bisa Berbeda?” Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ الْجَسِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، اَلْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Puji syukur alhamdulillahi Rabbil 'alamin, mari senantiasa kita ucapkan melalui lisan dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua tanpa terhitung jumlahnya. Khususnya kita masih diberi kesempatan untuk beribadah dan berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah, ampunan, dan limpahan rahmat dari Allah. Semoga setiap ibadah yang kita lakukan di dalamnya diterima sebagai amal saleh dan semakin mendekatkan kita kepada-Nya.
Shalawat dan salam mari senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaih, yang telah menjadi panutan dan teladan sempurna bagi kita semua dalam menjalankan kehidupan di dunia, khususnya beribadah di bulan Ramadhan. Semoga kita semua diakui sebagai umatnya, dan mendapatkan syafaatnya kelak di akhirat. Amin ya Rabbal 'alamin.
Sudah menjadi kewajiban bagi kami selaku Khatib, untuk senantiasa mengingatkan jamaah shalat Jumat agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, yaitu dengan terus istiqamah dalam menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Dengan takwa, itu artinya kita sedang mempersiapkan bekal untuk kita bawa menuju akhirat, karena pada hakikatnya, dunia adalah tempat kita menanam, dan akhirat tempat kita memanen. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ
Artinya, “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Surat Al-Baqarah ayat 197).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Tidak terasa kita semua sudah berada di pertengahan akhir bulan Ramadhan. Tidak lama lagi bulan mulia nan penuh berkah akan segera meninggalkan kita semua.
Namun perlu kita syukuri, bahwa dengan berpuasa di bulan ini, kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga saja, tetapi juga melatih kesabaran, keikhlasan, serta kedisiplinan dalam menjalankan perintah Allah. Sebab, inilah spirit dari tujuan puasa itu sendiri, yaitu untuk meningkatkan ketakwaan kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Surat Al-Baqarah ayat 183).
Perlu kita ketahui bersama, setiap orang yang berpuasa di bulan Ramadhan memiliki cara dan pemahaman yang berbeda. Ada yang sekadar menahan diri dari makan dan minum. Ada juga yang juga menahan ucapan untuk tidak berkata kotor, menahan mata untuk tidak melihat sesuatu yang dilarang dalam Islam. Ada pula yang benar-benar menjadikannya sebagai momen untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah.
Karena itu, Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, jilid I, halaman 234, mengatakan, derajat orang yang berpuasa terbagi menjadi tiga:
- Puasa orang awam.
- Puasa orang pilihan.
- Puasa orang yang sangat istimewa.
Seperti apa kriteria dari masing-masing ketiganya? Imam Al-Ghazali menjelaskan:
أَمَّا صَوْمُ الْعُمُوْمِ فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَضَاءِ الشَّهْوَةِ. وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوْصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ. وَأَمَّا صَوْمُ خُصُوْصِ الْخُصُوْصِ فَصَوْمُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللهِ بِالْكُلِّيَّةِ
Artinya, “Adapun puasa orang awam, yaitu menahan perut dan kemaluan dari memenuhi syahwat. Adapun puasa orang pilihan, yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.
Sedangkan puasa orang yang sangat istimewa, yaitu puasa hati dari keinginan-keinginan rendah dan pikiran-pikiran duniawi, serta menahannya dari segala sesuatu selain Allah secara total."
Lantas, di tingkatan manakah puasa kita berada?
Apakah kita masih berada dalam tingkatan awam yang sekadar menahan lapar dan dahaga?
Ataukah kita sudah berusaha menjaga seluruh anggota tubuh dari maksiat, sebagaimana puasanya orang-orang pilihan?
Atau bahkan, kita telah mencapai puncak kesempurnaan dengan menjaga hati dari segala sesuatu selain Allah?
Sisa-sisa Ramadhan yang masih ada ini merupakan waktu yang tepat untuk merenungi hal ini, agar puasa yang kita jalani tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan benar-benar menjadi jalan menuju derajat yang lebih tinggi di sisi Allah swt.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Sebab itu, mari kita manfaatkan sebaik mungkin sisa-sisa bulan Ramadhan yang masih ada ini, dengan meningkatkan value puasa kita menjadi lebih baik dan terus meningkat. Jangan biarkan detik-detik yang tersisa berlalu begitu saja tanpa ada peningkatan dalam ibadah dan ketakwaan kita.
Jika sebelumnya kita masih berada di tingkatan puasa orang awam, maka berusahalah naik ke tingkat yang lebih tinggi dengan menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Jika kita telah berada di tingkatan puasa orang pilihan, maka berupayalah untuk sampai pada puncaknya, yaitu puasanya hati yang benar-benar terhubung kepada Allah.
Demikian adanya khutbah Jumat perihal tiga tingkatan derajat orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Semoga khutbah ini tidak hanya menjadi pengingat, tetapi juga menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus meningkatkan kualitas ibadah, khususnya dalam menjalankan puasa.
Mari kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, mendekatkan hati kepada Allah, dan meraih derajat puasa yang lebih tinggi di sisi-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur, dan Awardee Beasiswa non-Degree Kemenag-LPDP Program Kepenulisan Turots Ilmiah di Maroko.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar