0
News
    Home Featured Spesial

    Nasihat yang Tepat Waktu, Kunci Membentuk Hati Anak - Tebuiremg

    4 min read

     

    Nasihat yang Tepat Waktu, Kunci Membentuk Hati Anak

    5 Oktober 2025
    Ilustrasi orang tua mendidik anak (sumber: albata)

    Seringkah kamu menjumpai orang tua yang lelah memberikan nasihat kepada anak kecil karena nasihatnya tidak dihiraukan? ataukah kamu pernah memberikan nasihat kepada adekmu yang masih kecil, namun nasihatmu tidak digubris? pasti perasaan jengkel menyelimuti hati jika nasihat yang diberikan tidak dianggap. Namun, perlu kita cari tahu alasan dibalik semuanya, mengapa nasihat yang telah diberikan tidak mempan?

    Kebanyakan orang tua menasihati anak, hanya lewat telinga tidak sampai ke hati. Apakah kamu tahu sebabnya? Jangan-jangan nasihat tersebut tidak sampai dihati anak bukan karena isi nasehatnya yang salah, tapi waktunya yang kurang tepat. Waktu yang tepat dapat membantu anak dalam meresapi apa yang kita sampaikan, segala nasihat maupun pelajaran ataupun larangan.

    Hati anak itu seperti tanah, kalau sedang keras karena marah, takut atau sedih maka nasihat apapun akan mental. Namun jika tanahnya sedang subur di saat hati anak merasa tenang, senang, dan dekat dengan orang tuanya nasihat akan tumbuh menjadi akar yang kuat. Hal tersebut selaras dalam Q.S. Qaf ayat 37 yang berbunyi; اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِمَنْ كَانَ لَهٗ قَلْبٌ Artinya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai hati…”

    Anak hanya dapat menerima nasihat saat hatinya siap seperti tanah subur yang siap menumbuhkan benih. Pentingnya mencari waktu yang tepat agar nasihat yang kita berikan benar-benar dapat diterima oleh anak.Jika menasihati anak saat anak sedang emosi maka nasihat yang diberikan tidak akan mengena di hati anak.

    Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: وَتَعْلِيمُ العِلْمِ لِقَلْبِ مَغْلُوبٍ عَلَيْهِ بِالْغَضَبِ كَزَرْعٍ فِي أَرْضٍ صَلْبَةٍ, artinya: “Mengajarkan ilmu pada hati yang sedang penuh amarah, seperti menanam di tanah keras”.

    Ketika anak sedang marah, menangis, atau takut jangan terburu-buru untuk menasehati. Coba tenangkan anak dahulu, nasihat itu butuh pendekatan kepada anak agar isi yang disampaikan mengena dihati anak. Studi psikologi menunjukkan anak lebih mudah menerima nasihat dari orang tua yang mempunyai ikatan emosional positif dengannya. Kita coba mengaca pada ajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendidik anak dengan kelembutan bukan membentak. Beliau menunggu momen yang tepat untuk menegur, jadi bukan sekedar bicara namun bagaimana hati bisa terhubung dengan anak.

    Pilihlah momen setelah hati anak merasa tenang dan sampaikan nasihat setelah anak selesai dengan emosinya dan rileks, misalnya selesai menangis, setelah bermain atau saat anak sedang bahagia dan rileks dalam suasana tenang nasihat lebih terasa sebagai pelukan bukan hukuman. Jangan lupa teladan lebih mengena dan berdampak pada anak daripada kata-kata saja.

    Nasihat yang terbaik adalah keteladanan. Imam Malik berkata; “Ilmu itu bukan sekedar hafalan, tetapi cahaya yang Allah letakkan di hati”. Anak akan lebih respect terhadap apa yang kita lakukan dibandingkan apa yang kita ucapkan. Anak-anak adalah peniru yang ulung, mereka belajar dari apa yang kita lakukan bukan hanya dari apa yang kita katakan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menjadi contoh yang baik bagi mereka, tindakan kita memiliki dampak yang lebih besar daripada kata-kata.

    Anak-anak melihat bagaimana kita berperilaku, bagaimana kita menghadapi tantangan dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Ketika kita mengatakan suatu hal tapi melakukan hal yang lain. Anak-anak akan lebih mempercayai apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan. Maka, kita harus berusaha menjadi contoh yang baik bagi mereka.

    Anak-anak yang tumbuh dengan melihat tindakan baik dan positif dari orang dewasa di sekitar, mereka cenderung akan meniru perilaku tersebut, mereka akan belajar untuk menjadi orang yang jujur, pekerja keras dan peduli dengan orang lain. Jadi marilah kita berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita, marilah kita tunjukkan kepada mereka bahwa tindakan nyata lebih berharga daripada kata-kata kosong.

    Dengan demikian kita dapat membantu mereka tumbuh menjadi individu yang baik dan bertanggung jawab.Dan jangan lupa untuk terus mendoakan anak, karena nasihat bisa ditolak namun doa orang tua tidak pernah terhalang. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiga doa yang mustajab: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.” (HR. Tirmidzi). Doa orang tua merupakan senjata yang paling ampuh. Mari tanamkan nasihat dengan kata, rawatlah dengan teladan dan kuatkan dengan doa. Maka nasihatmu akan hidup di hati anak bahkan setelah engkau tiada.

    Penulis: Amalia Dwi Rahmah, alumnus Unhasy
    Editor: Rara Zarary

    • TAG
    Komentar
    Additional JS