0
News
    Home 10 November 1945 Bung Tomo Featured Spesial

    Kisah Bung Tomo, Tokoh Pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang Hidup Religius dan Dekat dengan Kiai - SINDOnews

    2 min read

     

    Kisah Bung Tomo, Tokoh Pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang Hidup Religius dan Dekat dengan Kiai

    Senin, 10 November 2025 - 07:55 WIB

    Bung Tomo merupakan sosok Pahlawan Nasional yang menjadi tokoh dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 melawan tentara Sekutu dan Inggris. Foto/Ist
    A
    A
    A
    BUNG TOMO yang bernama lengkap Sutomo merupakan Pahlawan Nasional yang menjadi tokoh dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Keberaniannya menentang penjajahan hingga mengkritisi kebijakan pemerintahan saat itu tak lepas dari kedekatannya dengan Tuhan.

    Bung Tomo memiliki kepribadian religius, di mana sudah sejak kecil dididik dengan ajaran agama kuat. Sejumlah kewajiban ibadah dijalankannya mulai dari salat, puasa, membaca Alquran, hingga bersedekah ke kaum fakir miskin.

    Baca juga: Hari Pahlawan, Prabowo Kenang Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

    Didikan agama dari keluarganya itu membuat Bung Tomo tumbuh menjadi seorang pribadi yang cinta kepada bangsanya, menentang kemiskinan, akibat kesewenang-wenangan para penjajah, dan selalu berjuang membela setiap orang yang lemah.



    Sejak masa kecilnya, ia tumbuh menjadi seorang muslim yang taat beribadah, menghargai sesamanya, namun ia juga kritis terhadap lingkungan sosialnya, pemimpinnya, para tokoh di masanya, para politisi, termasuk juga para kiai.

    Karena banyak mengikuti jejak para kiai, serta banyak mengenyam pendidikan keagamaan yang salah satunya menekankan pada kejujuran, maka sejak kecil Bung Tomo terbiasa berbicara dengan terus-terang, sebagaimana dikutip dari "Bung Tomo: Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November".

    Bung Tomo adalah seorang anak yang suka bekerja keras tanpa mengenal lelah, dan selalu termotivasi untuk memperbaiki keadaan.

    Baca juga: Presiden Prabowo Umumkan Penerima Gelar Pahlawan Nasional pada 10 November

    Segala keadaan yang dianggapnya melenceng tidak benar, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan orang banyak, ia selalu berhasrat memperbaikinya, minimal dengan sebuah saran dan kritik yang tajam dan lugas.

    Sosoknya juga memiliki kedekatan dengan para kiai dan tokoh agama di Jawa. Hal ini pula yang mengukuhkan semangat dan asumsi dasar dalam jiwa Bung Tomo, bahwa sesungguhnya sebuah perjuangan dengan niat ikhlas membela rakyat Indonesia dari penjajahan dan menegakkan kemerdekaan atas nama Allah sangat diyakininya tidak akan mendatangkan kerugian sedikit pun, meskipun nyawa adalah taruhannya.

    Walaupun masa kecil Bung Tomo tidak pernah nyantri di pesantren, namun hampir semua kiai berpengaruh di Jawa Timur, pada masa itu sangat dekat dan searah dengan perjuangan dengan Bung Tomo. Itu berarti, sebenarnya Bung Tomo tidak hanya berinteraksi dengan kalangan tokoh nasionalis, tetapi ia juga berinteraksi dengan kalangan ulama yang berpengaruh.

    Tokoh-tokoh agama pendukung perjuangan kemerdekaan yang terdiri dari kalangan ulama, serta kiai- kiai pondok pesantren tersohor di tanah Jawa, seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, dan beberapa kiai pesantren menjadi mitra yang cukup dekat dengan Bung Tomo. Mereka searah dan seideologi dengan perjuangan Bung Tomo.

    Buktinya, para kiai itu juga mengerahkan santri-santrinya dan masyarakat sipil di lingkungan pesantrennya sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap penjajah ketika terjadi Pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang dipelopori oleh Bung Tomo. Para masyarakat sipil pun mengikuti perintah kiai pondok pesantren tersohor di tanah Jawa untuk melawan penjajah.
    (shf)
    Komentar
    Additional JS