0
News
    Home Featured

    Sikap Tepat Seorang Mukmin Bila Sedang Dibully, - NU Online

    7 min read

     

    Sikap Tepat Seorang Mukmin Bila Sedang Dibully


    Dr. KH. Ahmad Musta’in Syafi’i M.Ag., Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng (Foto: Ayong)

    Oleh: Dr. KH. Musta’in Syafi’I, M.Ag.

    اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا

    اتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

    وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (الاحقاف:15)

    أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَیِّـَٔاتِهِمۡ فِیۤ أَصۡحَـٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِی كَانُوا۟ یُوعَدُونَ

    Melanjutkan konsep Al-Quran tentang panduannya bagi orang yang sudah berusia 40 tahun. Ada enam panduan untuk bagi mereka yang telah berusia 40 tahun. Dalam hal ini kita akan membahas panduan yang ketiga, yakni وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ (semoga amal saya diridai Allah). Seorang mukmin itu dituntut harus beramal saleh yang disukai oleh Allah. Karena tidak semua amal saleh itu disukai oleh Allah.

    Momen yang kita lewati hari ini yakni peringatan Resolusi Jihad. Penggunaan kata jihad dalam hal tersebut yang biasa dipakai dalam Al-Qur’an atau Hadis untuk mendeskripsikan sebuah perjuangan fisik. Yakni sebuah jerjuangan yang didasari oleh agama dan karena Allah, bukan perjuangan sembarangan. Kalimat jihad terdiri dari huruf jim, ha’, dan dal secara derifatif banyak perbedaan makna.

    Kalau huruf ji, ha’, dan dal diderivasikan kepada kata “jihad”, maka makna yang muncul adalah ada unsur fisik, termasuk perang karena Allah tentunya. Jika itu digunakan untuk menunjukkan makna pola pikir untuk menemukan ilmu-ilmu menuju Allah atau ilmu apa pun, maka disebut ijtihad. Lain lagi dengan untuk penggunaan yang bermakna zikir untuk mengelola spiritual kita menuju Allah, maka hal itu diderivasikan pada kata mujahadah.

    Berbicara tentang resolusi, makna sebuah resolusi merupakan tuntutan bersama. Kala itu kumpulan para kiai-kiai dari Jawa dan Madura bersepakat untuk mengadakan resolusi. Dan dokumen resolusi tersebut sangat rapi, bahkan terkesan sangat administratif. Dokumen dimulai dengan basmalah, kemudian disusul konsideran; mendengar, mengingat, dan memutuskan. Tuntutan saat itu adalah dua; pemerintah harus bersifat tegas terhadap penjajah, serta melanjutkan perjuangan sabilillah demi menjunjung tinggi kemerdekaan Republik Indonesia dan agama.

    Di samping kemerdekaan negeri ini juga ada klausul agama. Kecintaan terhadap tanah air atau lazim dengan sebutan hubbul wathan minal iman memang bukan hadis, hanya sebuah perkataan para salafussalih. Hingga kemudian dielaborasi oleh imam Al-‘Ajluni dalam kaysf al-khafa’ yang kemudian dilisankan kembali oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

    Perjuangan tersebut terjadi setelah kemerdekaan. Akan tetapi perjuangan kaum pesantren sudah jauh dilakukan sebelum kemerdekaan. Saya ambil sebuah contoh pergerakan Pangeran Diponegoro (Abdul Hamid Kuntowiryo) yang bergeriliya melawan penjajah selama kurang lebih enam tahun (1826-1830 M). Ia berpindah-pindah melawan penjajah bersama kelompoknya sendiri. Catatan saya pada tahun 2002, di sebuah dokumen tentang KH. Abdul Hamid Kuntowiryo, bahwa pasukannya terdiri dari 108 kiai, 31 di antara mereka sudah pernah haji, 15 orang dari kalangan habaib, 12 dari kalangan penghulu Yogjakarta, 4 dari kalangan tuan guru. Dan pertempuran yang mereka lakukan melawan penjajah itu adalah sebanyak 130 kali pertempuran. Sehingga pemerintah Belanda kalang kabut kehabisan dana, bahkan pemerintah Hindia Belanda terpaksa hutang ke bank dunia.

    Sebuah musium tentang Pangeran Diponegor di Jawa Tengah menampilkan mushaf Al-Qur’an. Mengapa demikian? Sebab para pejuang dulu kemana-mana tidak luput dari membaca Al-Qur’an. Kemudian terdapat juga tasbih. Mengapa? Karena sejatinya Abdul Hamid adalah pimpinan tarekat Naqsyabandiyah Qadiriyyah. Sehingga kaum sufi pun untuk mengangkat senjata untuk menjaga negeri ini. Ketiga yakni kitab fathul qarib. Sebab beliau bermazhab Syafi’i yang dikenal sebagai mazhab paling tegas dalam membicarakan persoalan jihad fi sabilillah. Catatan di atas bukan untuk menunjukkan kegigihan para kiai, bukan untuk memamerkan perjuangan pesantren, melainkan itulah fakta sejarah. Tugas kita adalah untuk mencatat dan meneruskan perjuangan mereka dalam menjunjung tinggi kalimatullah.

    Sekarang Allah rupanya mempunya cara sendiri untuk mengingatkan dunia, khususnya negeri ini agar melihat pesantren secara objektif. Bisa dibayangkan menjelang peringatan Hari Santri pondok pesantren mengalami framingbulliying, dan cibiran. Pertama, bahwa framing yang diciptakan adalah memojokkan para kiai. Kedua, bahwa framing yang ditonjolkan adalah robohnya bangungan pesantren. Perkara bangunan rubuh dan tidak adalah sunnatullah. Artinya sebuah bangunan yang tidak dibina melalui kontruksi yang sesuai, maka sunnatullah yang berlaku adalah roboh. Kecuali ada sunnatullah lain seperti mukjizat dan karomah. Itulah sesungguhnya cara Tuhan untuk mengingatkan bangsa ini “ini loh pesantren”. Terlepas dari itu semua kita harus mengambil hikmahnya.

    Al-Qur’an mengatakan bahwa lawmata la’im; kritikan atau cacian merupakan hal yang pasti dialami oleh mereka yang membaca kebenaran. Semua nabi mendapat perlawanan dan framing—bahkan lebih jahat dari kritikan hari ini—dari musuh-musuh mereka. Kita ambil contoh Hadraturrasul Muhammad SAW yang dihina sebagai penyair, sihir, hingga majnun. Lihat ayat berikut:

    كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ  فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَا أَنتَ بِمَلُومٍ  

    Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila”. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. Maka berpalinglah kamu dari mereka dan kamu sekali-kali tidak tercela. (Al-Dzariyat 52-54)

     Akan tetapi bagaimana nasihat Al-Qur’an yang di-bully sedemikian buruknya?

    وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

    Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (Al-Dzariyat 55)

    Jangan sampai kita jatuh seperti yang mereka katakan. Ketika cacian mereka memang ada dalam diri kita, maka kita wajib mengoreksi diri. Dengan demikian, bahwa gerakan seorang muslim entah dipuji atau dicacimaki, maka membawa kepada amal yang diridhai oleh Allah. Ketika Allah memberi peringatan kepada pengurus pondok dalam hal bangunan fisik pesantren, akhirnya pemerintah turut serta membantu dan peduli. Bukankah itu semua itu adalah hikmah.   

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Ditranskip oleh: Yuniar Indra Yahya
    Editor: Rara Zarary

    • TAG
    Komentar
    Additional JS