Makna Ilmu yang Sesungguhnya - Tebuireng
Makna Ilmu yang Sesungguhnya
Ilmu sering kali dipahami sebagai kumpulan hafalan, deretan definisi, atau angka-angka yang tersimpan rapi di ingatan. Namun sejatinya, ilmu bukan sekadar apa yang melekat di kepala, melainkan apa yang hidup dalam sikap dan tindakan. Pengetahuan yang hanya berhenti pada hafalan mudah menguap, sementara ilmu yang memberi manfaat akan menetap, karena ia bekerja bersama hati dan kesadaran. Suratan indah dalam Diwan Imam Syafi’i menegaskan:
لَيْسَ الْعِلْمُ مَا حُفِظَ، الْعِلْمُ مَا نَفَعَ
“Ilmu bukanlah apa yang dihafal, tetapi ilmu adalah apa yang memberi manfaat.”
Baca Juga: Ridha sebagai Jalan Menuju Ketenangan Jiwa
Ilmu yang bermanfaat menggerakkan seseorang untuk berubah, meski perlahan. Ia menuntun cara berpikir, memperhalus cara bersikap, dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Ketika ilmu hadir sebagai penerang, ia tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi, tetapi justru lebih rendah hati dan mudah memahami orang lain. Di titik inilah ilmu mulai menunjukkan nilainya.
Hafalan memang penting sebagai pintu awal, tetapi ia bukan tujuan akhir. Tanpa pengamalan, hafalan bisa kehilangan makna. Seseorang boleh menguasai banyak teori, namun jika pengetahuannya tidak mendorong kebaikan, maka ilmu itu belum sepenuhnya hidup. Ilmu sejati selalu mengajak untuk bergerak, memberi, dan menghadirkan manfaat, sekecil apa pun bentuknya.
Manfaat ilmu tidak selalu tampak dalam hal besar. Kadang ia hadir dalam kejujuran yang dijaga, keputusan yang bijak, atau sikap sabar dalam menghadapi perbedaan. Ilmu yang bermanfaat tidak harus selalu lantang, karena sering kali ia bekerja diam-diam, memperbaiki diri dari dalam. Justru dari ketenangan itulah dampaknya terasa lebih panjang. Dengan demikian, ukuran ilmu bukan seberapa banyak yang diingat, tetapi seberapa banyak memberi manfaat dan seberapa jauh ia mengubah cara hidup. Ilmu yang memberi manfaat akan terus mengalir, bahkan ketika pemiliknya telah lama pergi. Ia meninggalkan jejak kebaikan, bukan sekadar ingatan, dan dari sanalah ilmu menemukan maknanya yang paling utuh.
Baca Juga: Seni Menata Arah Pikiran
Pesan yang sama juga disampaikan dengan indah dalam QS al-Baqarah ayat 269, sebagai pengingat lembut bagi kita semua tentang makna yang lebih dalam dari ilmu dan kehidupan.
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, hikmah dijelaskan sebagai ilmu yang disertai pemahaman, pengamalan, dan ketepatan dalam bertindak. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hikmah bukan sekadar banyaknya pengetahuan atau kuatnya hafalan, tetapi ilmu yang mampu membimbing seseorang pada kebenaran, amal saleh, dan akhlak yang baik. Oleh karena itu, orang yang diberi hikmah disebut telah memperoleh “kebaikan yang banyak”, karena ilmunya membawa dampak nyata dalam hidup.
Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa ilmu yang tidak melahirkan amal dan manfaat belum mencapai derajat hikmah. Ilmu sejati adalah yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah, memperbaiki perilaku, dan membawa maslahat bagi diri sendiri maupun orang lain. Inilah sebabnya mengapa hanya ulul albab yang mampu mengambil pelajaran dari ilmu tersebut.
Baca Juga: Waktu Adalah Catatan Amal
Ayat di atas menegaskan bahwa nilai ilmu tidak diukur dari seberapa banyak yang diketahui atau dihafal, melainkan dari manfaat dan hikmah yang lahir darinya. Ilmu yang hidup akan membentuk sikap, membimbing keputusan, dan menghadirkan kebaikan yang berkelanjutan. Dengan demikian, pesan ayat ini sejalan dengan gagasan bahwa ilmu sejati bukanlah tumpukan hafalan, tetapi cahaya yang bekerja dalam kehidupan nyata dan memberi manfaat bagi sesama.
Alhasil, ilmu tidak diminta untuk dipamerkan, melainkan dihidupkan dalam keseharian. Ia menemukan maknanya ketika mampu menenangkan hati, memperbaiki sikap, dan menghadirkan kebaikan bagi sekitar. Mungkin tidak semua yang dipelajari akan selalu diingat, tetapi selama ilmu itu menuntun langkah menjadi lebih jujur, lebih bijak, dan lebih peduli, di sanalah ia benar-benar tinggal dan memberi arti.
Penulis: Silmi Adawiya, Mahasiswa S3 UIN Malang
