0
News
    Update Haji
    Home Burdah Featured Sholawat Burdah Spesial

    Sejarah Shalawat Burdah: Ditulis Imam Busyiri saat Lumpuh, Sembuh Setelah Bermimpi Jumpa Nabi - Langit7.id

    4 min read

     

    Sejarah Shalawat Burdah: Ditulis Imam Busyiri saat Lumpuh, Sembuh...

    Sejarah Shalawat Burdah: Ditulis Imam Busyiri saat Lumpuh, Sembuh Setelah Bermimpi Jumpa Nabi



    Muhajirin Senin, 04 Oktober 2021 - 12:37 WIB
    Kaligrafi yang bertuliskan potongan syair Qasidah Burdah (foto: istimewa)
    LANGIT7.ID - Shalawat Burdah merupakan syair yang berisi puja-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Syair ini sarat pesan moral nilai spiritual dan semangat perjuangan yang sering dibaca dalam peringatan maulid nabi, diba’an rutin yang dilakukan pondok salaf maupun masyarakat.

    Shalawat Burdah juga dikenal sebagai Qasidah Burdah. Syair ini dikarang oleh Imam Al-Busyiri. Ia ulama yang memiliki nama lengkap Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Busyiri itu lahir di Dallas, Maroko pada tahun 609 Hijriah dan dibesarkan di Busyir, Mesir.

    Sejak kecil ia mendapat pendidikan Al-Qur’an dari sang ayah. Ia juga merupakan murid seorang sufi besar bernama Abdul Abbas al-Mursi, murid kesayangan pendiri Tarekat Syadziliyah Imam Abu Hasan As-Syadziliy. Setelah belajar ilmu kesustraan Arab di Kairo, dia menjelma menjadi seorang sastrawan dan penyair ulung.

    Al-Busyiri diberi gelar ‘Sayyidul Maddah’ (pemimpin para pemuji Rasulullah). Ini karena shalawat burdah dianggap sebagai puncak karya sastra dalam memuji Rasulullah.

    Mengutip laman ibadah.co.id, Al-Busyiri menulis syair burdah saat tengah menderita sakit lumpuh. Dia mengisi kekosongan waktu dengan harapan bisa mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW. Ia menulis sajak-sajak indah tentang sosok beliau, yang pada akhirnya sering dilantunkan hingga kini dalam kegiatan keagamaan seperti diba’an dan muslimatan.

    Meski seorang sastrawan dan penyair, ia masih menghadapi berbagai rintangan dalam mengarang dan menyusun syair burdah. Suatu ketika, saat mengarang syair itu, ia berhenti pada kalimat ‘Fa mablaghul ilmi fihi annahu basyarun’.

    Ia sama sekali tidak bisa melanjutkan penggalan kalimat syair yang beliau karang. Hingga akhirnya ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpinya itu, ia membacakan syair tersebut kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

    Sampai pada kalimat ‘Fa mablaghul ilmi fihi annahu basyarun’, ia terdiam dan tidak bisa melanjutkan. Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘bacalah'. Al-Busyiri pun mengaku tak bisa melanjutkan potongan syair tersebut. Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Wa annahu khairu khalqillahi kullihimi.’

    Al-Busyiri lalu menambahkan syair tersebut dalam karangannya. Setelah itu, nabi melepas jubahnya dan diselimutkan kepada tubuh Al-Busyiri. Nabi juga mengusap wajah Al-Busyiri. Saat itu pula ia terbangun dan melihat jubah pemberian nabi menyelimutinya.

    Tak hanya itu, Al-Busyiri sembuh dari penyakit. Dia juga mendapati potongan syair yang tak tuntas di karangannya sudah lengkap.

    Menurut Syekh Ali al-Qari dalam Az Zubdah fi Syarhil Burdah, Qasidah Burdah bisa dijadikan media untuk memohon kepada Allah agar dipenuhi segala kebutuhan.

    Karenanya, menurut Syekh Ali al-Qari alasan di balik penamaan qasidah ini dengan nama “Burdah” yang berarti kain selimut, baju, karena qasidah ini dapat menjadi penyebab seseorang selamat dari berbagai cobaan, dan dapat menjadi media penyembuhan berbagai penyakit, sebagaimana baju yang bisa menjadi pelindung dari panasnya terik matahari dan lainnya.

    Namun membaca Burdah bukan berarti memohon keselamatan dan kesehatan dengan menuhankan lafal-lafal yang ada di dalamnya, apalagi beranggapan burdah merupakan penyebab dari kesembahan tersebut, namun murni bertawasul kepada Rasulullah saw dengan memujinya dengan membaca Qasidah Burdah, dengan harapan semoga semua kebutuhan dan keinginan dipenuhi oleh Allah.

    Teks lengkap shalawat burdah terdiri dari 10 pasal dan 160 bait. Berikut potongan syairnya yang paling masyhur dan terdapat di pasal awal:

    مَوُلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا اَبَدًا، عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ

    أَمِنْ تَذَكُّرِ جِرَانٍ بِذِى سَلَمِ، مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَاى مُقْلَةٍ بِدَمِ

    أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَا ظِمَةٍ، وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِى الظَّلْمَاءِ مِنْ إِضَمِ

    يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا، وَغْفِرْلَنَامَامَضَى يَاوَاسِعَ الْكَرَمِ

    Maulaa ya shollli wasallim daaiman abada, ‘alaa habiibika khoiril kholqi kullihimi

    Amin tadzakkuri jirooni bidzi salami, mazajta dam’an jaroo muqlatin bidami

    Am habbatirriihu mintilqooi kaadhzimatin, wa auwmadhzol barqu fidz dhzomaai idhzomi

    Ya Robbi bil Musthofa balligh maqoo sidanaa, waghfirlana mamadhzo yaa wa-asi’al karomi

    Artinya:

    Wahai Tuhan kami (Allah Swt) curahkanlah selalu sholawat dan salam selalu selama – lamanya dan abadi, kepada kekasih-Mu (Muhammad) yang terbaik diantara semua makhluk

    Apakah karena teringat tetangga yang didzalimi, sehingga engkau cucurkan airmata bercampur darah yang mengalir di matamu

    Ataukah karena tipuan angin kencang yang kencang yang berhembus dari arah “Kadzhimah”, atau karena sinar kilat yang membelah kegelapan malam dari Gunung “Idhzam

    Wahai Tuhanku demi Al-Musthofa Muhammad, sampaikanlah maksud dan hajat – hajat kami, dan ampunilah dosa – dosa kami yang terdahulu wahai Yang Maha Luas dan wahai Yang Maha Dermawan.

    (jqf)
    Bagikan Artikel Ini :
    Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
    melalui notifikasi browser Anda.
    TOPIK TERKAIT
    Komentar
    Additional JS