Begini Sejarah Natal yang Sebenarnya, Sekaligus Cara Menyikapinya -, NU Online
Begini Sejarah Natal yang Sebenarnya, Sekaligus Cara Menyikapinya

Oleh: Dr. KH. Musta’in Syafi’I, M. Ag.
اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا
اتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (الاحقاف:15).
أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَیِّـَٔاتِهِمۡ فِیۤ أَصۡحَـٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِی كَانُوا۟ یُوعَدُونَ
Melanjutkan konsep Al-Quran tentang panduannya bagi orang yang sudah berusia 40 tahun. Ada enam panduan untuk bagi mereka yang telah berusia 40 tahun. Dalam hal ini kita akan membahas panduan yang ketiga, yakni وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ (semoga amal saya diridai Allah). Seorang mukmin itu dituntut harus beramal saleh yang disukai oleh Allah. Karena tidak semua amal saleh itu disukai oleh Allah.
Meskipun 25 Desember dinyatakan sebagai hari kelahiran Yesus, akan tetapi saya masih ingat saat belajar di Tebuireng dulu ada mata pelajaran perbandingan agama. Disebukan bahwa penobatan nabi Isa atau Yesus sebagai tuhan itu bukan karena kitab sucinya, melainkan karena keputusan Konsili Necia 325 M yang dipimpin kaisar Romawi, Konstantinus Agung untuk menyatukan persepsi teologis. Sehingga Yesus diangkat sebagai Tuhan sekaligus ditetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran.
Kita sebagai muslim yang berpedoman kepada Al-Qur’an, bahwa telah diisyarakatkan dalam Qur’an kelahiran Isa As:
هُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
Ayat di atas mengisahkan bahwa Sayyidah Maryam diperintah oleh Allah agar berpegangan kepada batang kurma, kemudian digoyang-goyangkan agar buah kurma berjatuhan. Isyarat ayat ini menunjukkan bahwa kelahiran nabi Isa As itu bertepatan dengan musim kurma berbuah. Dan musim kurma berbuah itu berada pada bulan Juli-Agustus. Sehingga mungkin saja pohon kurma berbuah di bulan Desember, akan tetapi musim kurma tidak mungkin berada di bulan Desember.
Toleransi yang diajarkan Al-Qur’an itu merupakan bentuk toleransi antar umat, bukan antar konsep keagamaannya. Pada ranah konsep keagamaan Islam jelas tidak ada kompromi dengan yang lainnya. Di Al-Qur’an tidak ada ayat “Ya Ayyuhalladzina Kafaru” yang berkonteks dialog Tuhan dengan mereka, kecuali satu kali pada surah Al-Tahrim; Yā ayyuhal-lażīna kafarū lā ta’tażirul-yaum, innamā tujzauna mā kuntum ta’malūn(Wahai orang-orang yang kafir! Janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini. Kamu hanya diberi balasan menurut apa yang telah kamu kerjakan). Dan ayat tersebut bukan dialog Tuhan dengan orang kafir, melainkan cemoohan-Nya kepada mereka.
Dari sini yang sering diperdebatkan pasti satu hal, bagaimana hukum santri mengucapkan selamat Natal? Saya tahu beberapa ilmuan yang memberikan kebolehan mengucap selamat Natal berdasar pada dalil;
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
Dan kesejahteraan (dari Allah) bagiku pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.
Kami dulu sudah pernah menyampaikan uraian sanding, bahwa salam dalam ayat tersebut merupakan dalam konteks nabi Isa sebagai Abdullah yang diberikan kitab Injil. Sehingga ayat ini bertujuan untuk mempertegas nabi Isa sebagai hamba Allah dan utusan-Nya, bukan sebagai Tuhan. Maka ayat ini tidak relevan dijadikan sebagai dalil untuk kebolehan mengucapkan selamat Natal.
Mengapa saya singgung bahwa 25 Desember itu merupakan hari kelahiran dewa Matahari, kemudian diadopsi menjadi hari kelahiran Yesus. Ini semakin jelas ketika kita melihat nama-nama hari; Sunday, Monday, dan seterusnya. Mereka menamai nama-nama hari dengan nama dewa. Hal itu adala bukti bahwa ternyata penamaan hari-hari dengan nama dewa itu mengandung kesyirikan. Lalu direvisi oleh Al-Qur’an dengan nama-nama yang kita kenal saat ini. Hari dewa matahari (Sunday) diganti menjadi Ahad, hari dewa rebulan diganti dengan (isnain).
Kalau kita tengok sejarah bahwa dulu gereja-geraja di Indonesia mencetak kalender besar-besaran dengan mengubah nama hari Ahad menjadi Minggu. Apa artinya? Itu dewa; dominggos, dominicus yang berarti tuhan. Islam sudah mengoreksi itu semua. Oleh karena itu, jangan menulis atau mengucap hari Ahad dengan sebutan Minggu.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Pentranskrip: Yuniar Indra Yahya
Editor: Muh. Sutan