0
News
    Update Haji
    Home Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Khutbah Jumat: Kekayaan Sejati Adalah Kaya Hati - NU Online

    6 min read

     

    Khutbah Jumat: Kekayaan Sejati Adalah Kaya Hati

    Khutbah Pertama

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِإِيْمَانٍ يَمْلَأُ الْقُلُوْبَ غِنًى وَطُمَأْنِيْنَةً. نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلَّذِي كَانَ يَعِيْشُ غَنِيَّ النَّفْسِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ،

    اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah

    Allah menurunkan Al-Qur’an untuk memperbaiki konsep-konsep hidup kita. Salah satu konsep yang sering kita salahpahami saat ini adalah konsep Kekayaan dan Kemiskinan.

    Di mata dunia saat ini, kaya sering kali kita ukur dari saldo rekening, merek kendaraan, atau luasnya bangunan. Namun, Islam datang untuk meluruskan standar tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam:

    ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس

    “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan hati (jiwa).” (Muttafaqun ‘Alaih).

    Jamaah yang dirahmati Allah,

    Mengapa kekayaan hati jauh lebih penting daripada kekayaan harta? Mari kita renungkan beberapa poin penting berikut:

    1. Harta Tanpa Ketenangan Hati Adalah “Kemiskinan yang Terselubung”

    Kita bisa melihat contoh Qarun. Secara materi, ia adalah orang terkaya di dunia pada masanya. Namun, secara ruhani ia sangat miskin. Hartanya tidak membuatnya kenyang, kesombongannya justru membinasakannya.

    Banyak orang saat ini memiliki segalanya secara fisik, namun hidup dalam kegelisahan, kebingungan, dan ketidakpuasan yang tak berujung. Mereka rakus mencari lebih, seolah-olah dunia tidak pernah cukup. Inilah yang disebut oleh Nabi sebagai “Manhum”—orang yang rakus dan tidak pernah merasa kenyang terhadap dunia.

    Dalam hadisnya, Rasulullah yang mulia pernah bersabda:

    منهومان لا يشبعان: منهوم في العلم لا يشبع منه، ومنهوم في الدنيا لا يشبع منها؛ رواه الحاكم

    “Dua golongan orang yang rakus yang tidak pernah merasa kenyang: orang yang rakus terhadap ilmu, ia tidak pernah kenyang darinya; dan orang yang rakus terhadap dunia, ia tidak pernah kenyang darinya.” (HR. Al-Hakim)

    2. Berpaling dari Materi, Bergantung pada Ilahi

    Lihatlah teladan para Nabi. Ketika Nabi Sulaiman AS ditawarkan hadiah kemewahan, beliau berkata: “Apa yang Allah berikan kepadaku (kenabian dan hidayah) lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu.” (QS. An-Naml: 36).

    Begitu pula Zulkarnain saat seseorang tawarkan harta untuk membangun bendungan, ia menjawab: “Apa yang telah Tuhanku anugrahkan kepadaku adalah lebih baik.” (QS. Al-Kahfi: 95). Mereka merasa kaya karena mereka memiliki Allah, bukan karena mereka memiliki emas atau perak.

    3. Kekayaan dalam Bentuk Kesadaran akan Nikmat

    Seorang mukmin yang kaya jiwanya adalah mereka yang sadar bahwa nikmat Allah tidak terbatas pada uang. Allah berfirman: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18).

    Mari kita bertanya pada diri sendiri:

    • Berapa harga kesehatan yang kita rasakan hari ini?
    • Berapa harga keamanan yang membuat kita bisa tidur nyenyak semalam?
    • Berapa harga akal sehat yang masih berfungsi dengan baik?

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda bahwa barangsiapa yang di pagi hari merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan seluruh isinya telah dikumpulkan untuknya.

    Jamaah Jumat yang berbahagia,

    Banyak manusia menderita “penyakit merasa miskin”. Mereka selalu melihat ke atas, membandingkan hidupnya dengan kemewahan orang lain, sehingga mereka meremehkan nikmat Allah yang sudah ada di genggaman mereka. Inilah awal dari penderitaan jiwa.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

    Khutbah Kedua

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

    Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah

    Lantas, bagaimana cara kita meraih kekayaan jiwa di tengah gempuran gaya hidup materialistik saat ini?

    1. Berdoa Meminta Ridha
    2. Iffah (Menjaga Harga Diri):

    Berusahalah untuk merasa cukup dengan Allah dan tidak menggantungkan harapan kepada makhluk. Nabi bersabda: “Barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupinya.”

    1. Melihat ke Bawah untuk Urusan Dunia:

    Ini adalah terapi paling ampuh. Mari kita bersama-sama melihat mereka yang sedang terbaring di rumah sakit untuk mensyukuri kesehatan. Lihatlah mereka yang kehilangan rumah karena perang untuk mensyukuri keamanan. Lihatlah mereka yang kesulitan makan untuk mensyukuri sepiring nasi yang kita miliki.

    Dengan cara ini, kita tidak akan pernah meremehkan nikmat Allah. Hati kita akan menjadi “kaya”, tenang, dan penuh syukur.

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

     وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

    Komentar
    Additional JS