0
News
    Home Featured Spesial

    KH. Ahmad Haris Shodaqoh: Melestarikan Tradisi, Mengoreksi yang Perlu Dikoreksi- Lirboyo ne5

    6 min read

     

    KH. Ahmad Haris Shodaqoh: Melestarikan Tradisi, Mengoreksi yang Perlu Dikoreksi

    tradisi pesantren

    Dalam acara Malam Puncak Haul & Haflah Akhirussanah 1447 H./2026 M. Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Ahmad Haris Shodaqoh berkesempatan memberikan Mauidzotul Hasanah. Beliau menyampaikan tentang tradisi Pondok Pesantren.

    Pesantren hidup dari tradisi. Namun pesantren juga akan kehilangan ruhnya bila tradisi menjadi dogma yang beku. KH. Ahmad Haris Shodaqoh tidak memposisikan tradisi pesantren sebagai hal yang kebal terhadap kritik. Sebaliknya, beliau membedakan secara tegas antara tradisi yang harus kita jaga dan tradisi yang harus kita luruskan:

    “Memang ada tradisi-tradisi pesantren yang mesti dilestarikan, tetapi ada juga tradisi-tradisi yang harus dikoreksi.”

    Baca juga: KH. An’im Falahuddin Mahrus: Santri adalah Aset Berharga Bangsa

    Salah satu tradisi yang menurut beliau patut untuk kita pertahankan adalah metode pengajian kitab klasik:

    “Menurut saya yang harus dilestarikan adalah membaca kitab dengan metode utawi iku. Itu ciri khas pesantren yang sangat melekat dan dikenali oleh orang banyak.”

    Metode utawi iku bukan sekadar gaya bahasa, tetapi sistem berpikir. Ia melatih ketelitian gramatikal, kedalaman makna, dan disiplin intelektual Bahasa Arab santri. Bahkan ketika metode ini dipertanyakan, beliau menjawab dengan argumentasi ilmiah:

    “Saya sering dikritik oleh teman-teman, kenapa ngajinya pakai utawi iku? Saya jawab: bahwa dengan utawi iku ini mubtada’ ini khobar, ini hal, menunjukkan bahwa kita ini sangat cermat terhadap fungsi kalimat-kalimat yang disusun di situ.”

    Baca juga: Refleksi Kejujuran Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Pesan KH. Abdulloh Kafabihi

    Pesannya jelas: pesantren bukan anti-modernitas, tetapi juga tidak alergi pada kedalaman metodologi klasik.

    Tradisi Unggah-Ungguh di Pesantren

    Salah satu ciri paling fundamental pesantren adalah adab. Hal itu bukan sekadar etika sosial, melainkan menjadi fondasi keberkahan ilmu. KH. Ahmad Haris Shodaqoh menekankan hal ini dengan lugas:

    “Kemudian masalah unggah-ungguh kepada masyayikh, ini betul-betul budaya yang tidak dimiliki oleh pendidikan yang lain. Kalau lembaga pendidikan yang lain itu kesannya hanya transfer ilmu saja. Dan inilah bagi saya adalah kunci keberkahan kita, kunci keberkahan ilmu kita di dalam pesantren.”

    Baca juga: Hubungan Orang Tua dan Anak; Pesan KH. Abdulloh Kafabihi

    Kalimat ini seperti pengingat halus bagi mereka yang mengedepankan keilmuan yang tanpa memperhatikan adab di dalamnya.

    Tradisi Salah Kaprah yang Harus Kita Tinggalkan

    Namun, KH. Ahmad Haris Shodaqoh juga mengingatkan kepada para santri adanya kebiasaan yang selama ini dianggap “lumrah”, padahal sejatinya keliru dan berbahaya bagi marwah pesantren:

    “Namun ada juga yang perlu kita koreksi. Seperti tadi saya mendengar satu pantun yang masih menganggap sandal hilang, sandal dighosob itu biasa di pesantren atau kalau sholat subuh itu kawanen lillahi ta’ala.”

    Baca juga: Keteladanan Mbah Kyai Abdul Karim dalam Mencari Ilmu, Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus

    Ini bukan guyonan, akan tetapi kritik terhadap para santri yang masih menganggap hal tersebut adalah hal yang lumrah. Hal ini juga bisa menyebabkan “tradisi” yang merusak nilai pesantren itu sendiri. Pesantren bukan tempat normalisasi pelanggaran, sekecil apa pun.

    Pesantren di dalam Akuarium

    Di era keterbukaan informasi, pesantren tidak lagi hidup di ruang tertutup. KH. Ahmad Haris Shodaqoh menggambarkannya dengan metafora yang sangat kuat:

    “Sekarang ini waktunya transparansi, semua bisa dilihat di mana-mana ada CCTV. Bahkan kita kelompok pesantren itu seperti kita berada di akuarium yang mudah dilihat dari luar.”

    Segala gerak-gerik pesantren kini diawasi—bukan hanya oleh kamera, tetapi oleh opini publik. Dan ironisnya, yang sering disorot justru kekurangannya:

    “Maka banyak sekali orang yang membaca kita, tetapi anehnya memang sejak awal orang itu punya rasa tidak senang kepada kita. Maka yang ditampakkan adalah kekurangan-kekurangannya.”

    Baca juga: KH. An’im Falahuddin Mahrus: Ciri Orang Munafik dan Akhlak sebagai Cermin Kejujuran Iman

    Karena itu, beliau menutup dengan peringatan yang penuh kebijaksanaan:

    “Ini yang perlu kita koreksi, perlu kita hati-hati.”

    Penutup

    Dawuh KH. Ahmad Haris Shodaqoh ini bukan sekadar nasihat internal pesantren. Ini adalah nasihat yang mendalam tentang bagaimana pesantren harus bersikap: berakar kuat pada tradisi, jujur pada kekurangan, dan siap hidup di bawah sorotan zaman.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo


    Komentar
    Additional JS