0
News
    Home Featured Isra Mi'raj Khutbah Jum'at Spesial

    Khutbah Jumat: Isra Mi’raj, Gelar Kemuliaan Nabi Muhammad dan Kewajiban Shalat - NU Online

    10 min read

     

    Khutbah Jumat: Isra Mi’raj, Gelar Kemuliaan Nabi Muhammad dan Kewajiban Shalat

    NU Online  ·  Kamis, 15 Januari 2026 | 11:55 WIB

    Khutbah Jumat: Isra Mi’raj, Gelar Kemuliaan Nabi Muhammad dan Kewajiban Shalat

    Khutbah Jumat: Isra Mi’raj (Suwitno)

    Alwi Jamalulel Ubab

    Kolomnis

    Salah satu peristiwa penting dan bersejarah dalam Islam ialah peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Peristiwa di mana Allah Swt dengan mudah memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina hanya pada satu malam saja. Setelahnya Nabi Muhammad diangkat menuju Sidratul Muntaha (Mi’raj) menerima perintah shalat 5 waktu dari Allah swt. 


    Teks khutbah Jumat berikut berjudul “Khutbah Jumat: Isra Mi’raj, Gelar Kemuliaan Nabi Muhammad dan Kewajiban Shalat”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.

    Khutbah I


    الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِيْ بَارَكَ حَوْلَهُ، لِيُرِيَهُ مِنْ آياتِهِ، إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. وَأَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.


    اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ


    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, 

    Baca Juga

    Khutbah Jumat: Tiga Hal Penting di Bulan Rajab


    Mengawali khutbah Jumat pada siang hari ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan terutama nikmat iman dan Islam yang merupakan nikmat terbesar yang kita miliki.

    Tak lupa pula shalawat beserta salam, mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Aamiiin ya Rabbal ‘alamin. 


    Khatib juga mengajak pada jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah Swt dengan cara menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.


    Allah Taala berfirman:


    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

    Baca Juga

    Khutbah Jumat: Hikmah dan Berkah Bulan Ramadhan


    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (Qs. Ali-Imran: 102).


    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, 


    Salah satu peristiwa yang sangat agung dan bersejarah dalam ajaran Islam adalah peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Peristiwa mulia ini terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah Swt., ketika Allah Swt. memperjalankan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina hanya dalam satu malam.

    Setelah peristiwa Isra’ tersebut, Nabi Muhammad saw. kemudian diangkat menuju Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu sebagai kewajiban bagi seluruh umat Islam. Perintah ini menjadi bukti betapa agungnya kedudukan salat dalam kehidupan seorang mukmin.

    Terkait dengan peristiwa Isra’, Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1;


    سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ


    Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Qs. Al-Isra: 1)


    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, 

    Melalui ayat tersebut, Allah Swt. menampakkan kepada seluruh makhluk betapa agung dan sempurnanya kekuasaan Allah Swt. Dengan kehendak dan kekuasaan Allah Swt., Nabi Muhammad saw. diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina hanya dalam satu malam.

    Setelah peristiwa Isra’ tersebut, Nabi Muhammad saw. kemudian mengalami peristiwa Mi’raj, yaitu diangkat menuju Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah Swt. Perintah yang mulia ini menegaskan kedudukan salat sebagai ibadah yang paling utama dalam kehidupan seorang mukmin.


    Ayat ini sekaligus menjadi penegasan atas penganugerahan gelar yang paling tinggi kepada Nabi Muhammad saw., yaitu sebagai hamba Allah (‘abdullah), sebuah derajat kemuliaan tertinggi di sisi Allah Swt.


    Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol 7, hal 400 menjelaskan bahwa kata sub-ḫâna pada ayat di atas merupakan tanda bahwa peristiwa Isra merupakan peristiwa yang luar biasa. Sebab lafadz tersebut biasa digunakan untuk menunjukkan keheranan atau keajaiban sesuatu. Ini menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam. 


    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, 

    Peristiwa Isra’ Nabi Muhammad Saw ini juga sekaligus menjadi tanda bahwa Nabi Muhammad Saw mendapatkan gelar tertinggi sebagai makhluk (abdullah). Penyematan gelar tertinggi oleh Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad saw dengan menyebutnya seorang hamba. Sebab tidak ada gelar yang lebih tinggi dibandingkan penghambaan diri kepada Allah swt. 


    Syekh Ahmad Al-Sawi dalam Hasyiyah As-Shawi ala Tafsirul Jalalain  jilid II, hal 311berkata:


    (قَوْلُهُ بِعَبْدِهِ) لَمْ يَقُلْ بِنَبِيِّهِ وَلَا بِرَسُوْلِهِ إِشَارَةً عَلَى أَنَّ وَصْفَ الْعُبُوْدِيَّةِ أَخَصُّ الْأَوْصَافِ وَأَشْرَفُهَا لِأَنَّهُ إِذَا صَحَّتْ نِسْبَةُ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ بِحَيْثُ لَا يُشْرِكُ فِيْ عِبَادَتِهِ لَهُ أَحَدًا فَقَدْ فَازَ وَسَعِدَ

    Artinya: “(Firman Allah biabdihi): Allah tidak menggunakan kata Nabi ataupun Rasul menunjukan bahwa sifat ubudiyyah, penghambaan merupakan sifat yang paling istimewa dan mulia. Karena ketika seorang hamba telah diberi pangkat demikian dan tidak melakukan kemusyrikan maka ia telah mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan”. 


    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, 

    Sekembalinya dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Nabi Muhammad saw. tidak hanya dianugerahi gelar tertinggi sebagai hamba Allah, tetapi juga membawa sebuah kewajiban agung bagi umatnya, yaitu salat lima waktu. Kewajiban ini menjadi oleh-oleh spiritual yang paling berharga bagi seluruh kaum muslimin.

    Terdapat banyak hikmah di balik diwajibkannya salat lima waktu pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj tersebut. Salah satu hikmah itu dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam karyanya Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Jilid I, halaman 460.


    Ibnu Hajar Al-Asqallani berkata:


    وَالْحِكْمَةُ فِي وُقُوعِ فَرْضِ الصَّلَاةِ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ أَنَّهُ لَمَّا قُدِّسَ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا حِينَ غُسِلَ بِمَاءِ زَمْزَمَ بِالْإِيمَانِ وَالْحِكْمَةِ وَمِنْ شَأْنِ الصَّلَاةِ أَنْ يَتَقَدَّمَهَا الطَّهُورُ نَاسَبَ ذَلِكَ أَنْ تُفْرَضَ الصَّلَاةُ فِي تِلْكَ الْحَالَةِ وَلِيَظْهَرَ شَرَفُهُ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى وَيُصَلِّي بِمَنْ سَكَنَهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَبِالْمَلَائِكَةِ وَلِيُنَاجِيَ رَبَّهُ وَمِنْ ثَمَّ كَانَ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ جَلَّ وَعَلَا 


    Artinya: “Hikmah diwajibkannya salat pada malam Mi‘raj adalah karena ketika Nabi Muhammad  telah disucikan lahir dan batin, saat Rasulullah dicuci dengan air Zamzam yang disertai iman dan hikmah, sedangkan shalat itu sendiri mensyaratkan adanya penyucian sebelumnya. Maka sangatlah sesuai jika salat diwajibkan pada keadaan tersebut.


    Hal itu juga agar tampak kemuliaan Nabi di hadapan makhluk-makhluk di alam tertinggi, agar menjadi imam shalat bagi para nabi yang berada di sana serta para malaikat, dan agar beliau bermunajat kepada Tuhannya. Dari sinilah kemudian dipahami bahwa orang yang melaksanakan shalat sejatinya sedang bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi.”

    Jamaah yang dimuliakan Allah Swt.,

    Demikianlah sebagian hikmah dari peristiwa agung Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad, khususnya terkait diwajibkannya shalat lima waktu. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana munajat dan komunikasi seorang hamba dengan Allah Swt., Tuhan Yang Mahamulia lagi Mahatinggi.


    Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga dan menyempurnakan shalat kita, baik dari segi waktu, syarat, rukun, maupun kekhusyukannya. Jadikanlah shalat sebagai penopang utama kehidupan, penenang hati, serta sumber kekuatan iman dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ


    Khutbah II 


    الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
    أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

     اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

    اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. 


    اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. 


    رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ  


    ------
    Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu

    Komentar
    Additional JS