Khutbah Jumat: Mengambil Hikmah di Balik Hujan - NU Online
Khutbah Jumat: Mengambil Hikmah di Balik Hujan
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَبَّ الْمَاءَ صَبًّا، وَشَقَّ الْأَرْضَ شَقًّا، فَأَنْبَتَ فِيهَا حَبًّا وَعِنَبًا وَقَضْبًا، وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا، وَحَدَائِقَ غُلْبًا، وَفَاكِهَةً وَأَبًّا، مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، جَعَلَ فِي إِنْزَالِ الْمَاءِ وَمَا يُنْبِتُ بَعْدَهُ لِلْحَيَاةِ وَحَقِيقَتِهَا مَثَلًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا.
فَأُوصِيكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ وَنَفْسِيََ بِتَقْوَى اللَّهِ قال تعالى وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Amma ba’du, Fattaqullāh—wahai sekalian manusia—bertakwalah kepada Allah, karena seseorang akan senantiasa dalam kebaikan selama ia bertakwa, menyelisihi hawa nafsunya, dan tidak membiarkan dunianya melalaikan akhiratnya.
Hadirin Rahimakumullah,
Hari ini, atas karunia Allah, kita menyaksikan suasana turunnya hujan. Lembah-lembah Allah alirkan air, bendungan-bendungan mulai terisi, dan jiwa manusia kembali berseri-seri mengharap rahmat-Nya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. asy-Syura: 28).
Ketahuilah bahwa air adalah rahasia eksistensi. Ia adalah benda termurah yang pernah ada, namun menjadi sesuatu yang paling mahal jika ia tiada. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
وَجَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ كُلَّ شَىۡءٍ حَىٍّ ؕ
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. al-Anbiya: 30).
Hadirin Rahimakumullah,
Hujan bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan bukti kekuasaan (rububiyyah) Allah dalam menghidupkan yang mati. Sebagaimana bumi yang kering bisa bergetar dan tumbuh subur setelah disiram air, begitulah Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya kelak.
Penting bagi kita untuk memahami bahwa turunnya hujan adalah murni di tangan Allah. Dalam tafsirnya, sahabat Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan sebuah kaidah penting:
“Tidaklah ada satu tahun yang curah hujannya lebih banyak dari tahun lainnya, akan tetapi Allah memalingkan arah hujan itu ke mana pun yang Dia kehendaki.”
Kemudian beliau membacakan ayat: “Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara mereka agar mereka mengambil pelajaran…” (QS. al-Furqan: 50).
Ini mengingatkan kita bahwa hujan yang turun di satu tempat dan tidak di tempat lain adalah bentuk hikmah dan peringatan agar manusia tidak kufur nikmat.
Hadirin rahimakumullah,
Meskipun hujan adalah rahmat, Rasulullah ﷺ yang merupakan manusia paling mengenal Allah, tetap menunjukkan rasa harap sekaligus cemas. Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa jika Nabi ﷺ melihat awan mendung atau angin kencang, rona wajah beliau berubah. Beliau bersabda:
“Wahai Aisyah, apa yang bisa menjaminku bahwa di dalam awan itu tidak ada azab? Sungguh suatu kaum telah Allah azab dengan angin, mereka melihat azab itu (mendung) lalu berkata: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (HR. Bukhari).
Maka, sudah sepatutnya kita tidak lalai. Janganlah merasa terlalu aman dari peringatan Allah, dan jangan pula mencela waktu atau angin ketika hujan datang tidak sesuai keinginan kita. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: “Anak Adam menyakiti-Ku, ia mencela masa (waktu), padahal Aku-lah Pencipta masa.”
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
، صَلَّى اللَّهُ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا فَأُوصِيكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ وَنَفْسِيََ بِتَقْوَى أَمَّا بَعْدُ
Hadirin Rahimakumullah,
Marilah kita menghidupkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ saat hujan turun agar aktivitas kita bernilai ibadah:
- Membaca Doa: Saat melihat hujan, ucapkanlah:
“Allahumma shayyiban nāfi’ā” (Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat).
Jika hujan sangat lebat dan khawatir membawa bahaya, maka bacalah:
“Allahumma hawalaina wala ‘alaina…” (Ya Allah, turunkanlah di sekitar kami, bukan atas kami).
- Mengambil Berkah:
Nabi ﷺ terkadang menyingkap sebagian pakaiannya agar terkena tetesan air hujan pertama, seraya berkata:
إِنَّهُ حَديثُ عَهْدٍ، بِرَبِّهِ
“Sesungguhnya ia baru saja diciptakan oleh Tuhannya.” (HR. Muslim).
- Menjaga Keselamatan:
. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan diri kamu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195). Maka, di musim hujan ini, berhati-hatilah terhadap banjir, jauhi lembah saat air deras, dan ikutilah arahan pihak berwenang.
Terakhir, marilah kita bersyukur dengan cara menyandarkan nikmat hujan ini hanya kepada Allah, bukan kepada bintang, rasi, atau sekadar “alam”. Siapa yang berkata “Kita diberi hujan karena kemurahan Allah”, maka ia beriman kepada Allah. Namun siapa yang berkata “Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu”, maka ia telah menyekutukan Allah.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِينَ لَكَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ لَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدْمٍ وَلَا غَرَقٍ.
يا الله اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
يا رب بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَوَفِّقْنَا لِذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا عَمِلُوا عَمَلًا بَدَؤُوهُ بِاسْمِكَ، فَأَتْمَمْتَ لَهُمْ بِهِ الْبَرَكَةَ وَالتَّوْفِيقَ
عِبَادَ اللَّهِ، اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo