Kisah Perempuan yang Membaca Surat Al-Ikhlas di Bulan Rajab - Lirboyo net

Rajab adalah bulan yang mulia. Namanya berasal dari kata tarjīb, yang bermakna pengagungan dan pemuliaan. Sejak penamaannya saja, Rajab telah menandai dirinya sebagai waktu istimewa—bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum spiritual yang sarat makna.
Sebutan bulan Rajab
Rajab juga mempunyai sebutan al-Aṣabb, yakni bulan ketika rahmat Allah turun tanpa henti kepada para hamba yang bertobat, dan limpahan penerimaan bercucuran kepada mereka yang bersungguh-sungguh dalam amal. Pada bulan ini, pintu langit seolah terbuka lebih lebar, menunggu siapa saja yang ingin kembali dan mendekat.
Selain itu, Rajab juga mempunyai nama al-Aṣamm—bulan yang “sunyi”. Kesunyian ini bukan ketiadaan makna, melainkan simbol kedamaian; sebab pada bulan ini tidak terdengar suara peperangan. Ia adalah bulan hening, tempat jiwa diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk mendengar bisikan ilahi.
Rajab: Arti per huruf
Para ahli isyarat memaknai kata Rajab dari susunan tiga hurufnya: ra, jim, dan ba.
Huruf ra melambangkan rahmat Allah, jim melambangkan dosa dan kesalahan hamba, sedangkan ba melambangkan kebaikan Allah. Seakan-akan Allah berfirman: “Aku letakkan dosa hamba-Ku di antara rahmat dan kebaikan-Ku.” Sebuah pesan yang menenangkan: betapa luas kasih sayang Allah, bahkan terhadap hamba yang penuh cela.
Rajab termasuk salah satu dari empat bulan haram yang Allah muliakan, bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Namun di antara keempatnya, Rajab berdiri sendiri—datang di tengah tahun, seakan mengingatkan bahwa kesucian tidak menunggu musim haji atau Ramadan semata.
Sebuah kisah mengharukan dari Baitul Maqdis. Seorang perempuan salehah setiap hari di bulan Rajab membaca surat Qul Huwallāhu Aḥad (Al-Ikhlas) hingga dua belas ribu kali. Ia mengenakan pakaian wol sebagai simbol kezuhudan. Ketika ajal menjemput, ia berwasiat agar pakaian wol itu dikuburkan bersamanya. Namun sang anak, dengan niat memuliakan, justru mengafanikannya dengan pakaian yang indah dan mahal.
Tak lama kemudian, perempuan itu hadir dalam mimpi anaknya seraya berkata, “Aku tidak ridha kepadamu, karena engkau tidak melaksanakan wasiatku.” Sang anak terbangun dengan gemetar, lalu segera menggali kembali kubur ibunya. Namun jenazah itu tak lagi ada di sana. Dalam kebingungan, terdengarlah suara yang berkata:
أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ مَنْ أَطَاعَنَا فِي رَجَبَ لَا نَتْرُكُهُ فَرْدًا وَحِيدًا
“Tidakkah engkau tahu bahwa siapa saja yang menaati Kami di bulan Rajab, Kami tidak akan membiarkannya sendirian dan terasing.”
Penutup
Dari kisah tersebut dapat kita simpulkan bahwa bulan Rajab memiliki keistimewaan yang sangat agung. Rajab merupakan salah satu dari bulan-bulan mulia (asyhurul ḥurum), sejajar kedudukannya dengan bulan Muharram, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bulan ini kita isi dengan peningkatan kualitas ibadah dan kebaikan. Memperbanyak tilawah Al-Qur’an, melaksanakan puasa sunnah, memperluas sedekah, menghidupkan shalat malam, serta menebarkan kebaikan kepada sesama menjadi bentuk penghormatan nyata terhadap kemuliaan bulan Rajab.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo