Makna di Balik Nasi Bogana, Sajian Khas Perayaan Isra Miraj di Cirebon - detik
Makan bersama atau berbagi makanan menjadi salah satu tradisi yang dilakukan saat Isra Miraj. Selain nasi tumpeng, rupanya nasi bogana juga menjadi makanan yang hadir dalam perayaan ini.
Isra Miraj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram, Makkah, menuju Masjidil Aqsa, Yerussalem, dan melanjutkan perjalanan ke Sidratul Muntaha. Perjalanan luar biasa Nabi Muhammad ini pun menjadi momen penting penguatan iman dan ibadah umat islam. Oleh karena itu, setiap tanggal 27 Rajab, banyak umat muslim memperingatinya dengan cara pengajian akbar, salah berjamaah, dan kegiatan sosial, seperti silaturahmi.
Selain itu, makan bersama atau berbagi makanan dengan orang sekitar juga menjadi rangkaian peringatan isra miraj. Di berbagai daerah Indonesia, tradisi makan perayaan Isra Miraj sangat beragam. Ada yang memperingatinya dengan menyajikan hidangan nasi tumpeng, nasi mandhi, nasi kuning, hingga kue apem.
Namun di Cirebon, Jawa Barat, nasi bogana yang hadir dalam perayaan Isra Miraj. Hidangan gurih ini terdiri dari nasi dengan aneka macam lauk, seperti ayam suwir, opor, oseng tempe, tumis kacang panjang, sambal ati ampela, dendeng, dan telur rebus. Lalu nasi dan lauk ini dibungkus menggunakan daun pisang.
Tidak hanya tentang rasa, tetapi cara penyajian yang unik juga memiliki arti tersendiri. Bungkusan daun pisang tidak hanya menambah aroma khas dan membuat semua elemennya menyatu, tetapi juga digunakan untuk menjaga kehangatan dan kelembutannya.
Tradisi ini juga mencerminkan nilai-nilai ekologis dan kearifan masyarakat lokal yang memanfaatkan hasil alam bumi dalam kehidupan sehari-hari, lapor boganaanlay.com(16/1).
Sejak dulu, nasi bogana sudah dikenal menjadi hidangan yang sering disajikan pada upacara adat dan syukuran tertentu, termasuk perayaan rajab atau isra miraj.
Dikutip dari berbagai sumber, nasi bogana melambangkan kebersahajaan dan semangat berbagi. Melalui tradisi rajaban, masyarakat mempererat silaturahmi dan ukhuwah islamiyah dengan berbagi nasi bogana ini.
Secara etimologis, kata bogana berasal dari bahasa Sunda 'saboga-bogana' yang artinya seada-adanya. Hal ini merujuk pada penggunaan bumbu dapur sederhana di dalam hidangan nasi bogana, seperti kunyit, serai, dan rempah lainnya.
Dilansir dari Jurnas.com (15/1), dalam tradisi Rajaban, Keraton Kasepuhan Cirebon juga biasa mengawalinya dengan pengajian terlebih dahulu. Lalu pihak keraton membagikan nasi bogana ke warga keraton, kaum masjid, abdi dalem, hingga masyarakat setempat.
Sultan Kacirobonan, Pangeran Abdul Gani Natadiningrat menuturkan bahwa nasi bogana menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT. Nasi ini juga biasanya dibungkus dengan daun berbentuk kerucut yang mencerminkan doa kepada Tuhan. Sedangkan ciri khas lauk pauk yang dicampur ke dalam nasi ini melambangkan pengendalian diri dan kesederhanaan.
Tetapi kini nasi bogana tidak sebatas menjadi tradisi di lingkungan keraton. Masyarakat luas juga kerap menyajikannya dalam upacara atau syukuran tertentu, termasuk dalam prosesi Rajaban.

