0
News
    Home Featured Romadhon Spesial Sya’ban

    Mengetahui Arti Bulan Sya’ban, Momen Persiapan Menyambut Ramadhan - NU Online

    4 min read

     

    Mengetahui Arti Bulan Sya’ban, Momen Persiapan Menyambut Ramadhan



    Penanggalan hijriyah kini telah memasuki bulan Sya’ban. Bulan kedelapan ini mengandung makna yang mendalam, karena menjadi momentum atau persiapan untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

     

    Bulan Sya’ban terletak di antara dua bulan mulia, yaitu setelah bulan Rajab dan sebelum bulan Ramadhan, yang menyimpan banyak keutamaan dan keistimewaan. Meski sering terabaikan, bulan Sya’ban juga memiliki keistimewaan yang tak kalah penting dengan adanya malam Nisfu Sya’ban.

     

    Kembali pada pembahasan makna bulan Sya’ban, dalam sebuah artikel di NU Online Jatim, disebutkan bahwa Sya'ban berasal dari kata syi'ab, yang artinya jalan di atas gunung. Makna ini selaras dengan posisi bulan Sya’ban yang menyongsong bulan Ramadhan. Hal ini sebagai kiasan bahwa bulan Sya’ban merupakan momentum untuk menapaki jalan kebaikan dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.   

     

    Dari segi linguistik, Al-Imam ‘Abdurraḥmān As-Shafury dalam kitab Nuzhatul Majâlis wa Muntakhabun Nafâ’is, menjelaskan bahwa kata Sya’bān (شَعْبَانَ) merupakan singkatan dari huruf shīn yang berarti kemuliaan (الشَّرَفُ).

     

    Selain itu, ada huruf ‘ain yang berarti derajat dan kedudukan yang tinggi yang terhormat (العُلُوُّ) dan huruf ba’ yang berarti kebaikan (البِرُّ). Serta, melingkupi huruf alif yang berarti kasih sayang (الأُلْفَة) dan huruf nun yang berarti cahaya (النُّوْرُ).

     

    Posisi bulan Sya’ban yang terletak di antara Rajab dan Ramadhan seringkali kurang mendapat perhatian lebih dibanding dua bulan mulia yang menghimpitnya itu. Pada Rajab, keutamaan-keutamaan seputar puasa dan amalan lainnya kerap kita dengar. Di bulan Rajab pula kita mengenang peristiwa dahsyat yang dialami Rasulullah, yaitu Isra’ Mi’raj.  

     

    Bulan Ramadhan lebih hebat lagi. Orang-orang seakan-akan menjadi manusia baru, berburu fadilah dan pahala berlipat di bulan suci ini. Semua berlomba-lomba berbuat kebaikan, mulai bersedekah hingga laku baik lainnya. Tidak demikian dengan Sya’ban.

     

    Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Nasai, Nabi menyebut Sya’ban sebagai bulan yang biasa dilupakan umat manusia. Dilupakan bukan berarti terhina. Ia diabaikan manusia karena manusianya sendiri yang kurang menyadari kemuliaan bulan Sya’ban, bukan akibat bulan Sya’ban itu sendiri tidak mulia.

     

    Dalam artikel lainnya di NU Online Jatim disebutkan, pada bulan Sya’ban terdapat tradisi yang lazim dilaksanakan oleh umat Islam, khususnya di Nusantara, yaitu malam Nisfu Sya’ban. Secara bahasa, Nisfu Sya’ban bermakna pertengahan Bulan Sya’ban, yang menunjukkan momentumnya tiba di malam kelima belas bulan istimewa tersebut. 

     

    Malam Nisfu Sya’ban adalah kesempatan untuk menggapai Ridho-Nya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagai malam penuh keutamaan dan keistimewaan, ulama menganjurkan memperbanyak amalan dan ibadah di malam Nisfu Sya’ban. 

     

    Berdasarkan penjelasan dalam kitab Kanzun Najah was Surur, kesunahan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban sebagaimana dijelaskan hadis dalam Targhib at Targhib riwayat Al Asfahani berikut ini:

     

    "Dari Muaz bin Jabal: Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa menghidupkan lima malam wajib baginya masuk surga, yaitu malam tarwiyah, malam Arafah, malam Nahr, malam Idul Fitri, dan malam Nisfu Sya’ban."

     

    Disebutkan pula, cara menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan membaca surah Yasin sebanyak 3 kali. Setiap selesai bacaan per surahnya diikuti dengan doa memohon umur panjang, dijauhkan dari bala, dan memohon dijadikan hamba yang mandiri, tidak bergantung pada makhluk manapun.


    Komentar
    Additional JS