Mimpi Menyampaikan Khutbah Jumat, Pertanda Apa? - NU Online
Mimpi Menyampaikan Khutbah Jumat, Pertanda Apa?
NU Online · Senin, 22 September 2025 | 15:00 WIB
Penulis
Bayangkan suatu malam. Anda tertidur lelap, lalu bermimpi berdiri tegak di atas mimbar masjid. Jamaah menyimak dengan khusyuk, khutbah Jumat Anda mengalir lancar, penuh wibawa. Begitu terbangun, Anda pun bertanya-tanya: apa makna mimpi berkhutbah di mimbar itu?
Menurut Ibnu Sirin, seorang ulama besar dalam bidang tafsir mimpi, khutbah dalam mimpi memiliki banyak arti. Dalam kitab Muntakhab fi Tafsir Ahlam, ia menjelaskan beberapa penafsirannya.
Pertama, bila seseorang bermimpi menyampaikan khutbah Jumat dengan sempurna, khutbahnya baik, jamaah menyimak dengan tenang, dan ibadah berlangsung khidmat, maka itu ditafsirkan sebagai simbol kepemimpinan. Orang yang bermimpi demikian, kata Ibnu Sirin, akan memperoleh kedudukan, dihormati, dan dipatuhi masyarakat.
Baca Juga
Tafsir Mimpi Membunuh Orang menurut An-Nablusi
Namun, bila khutbah dalam mimpi itu terhenti di tengah jalan atau disampaikan dengan buruk, maka kepemimpinan yang diperoleh tidak akan bertahan lama. Kekuasaan yang tampak kokoh bisa runtuh sewaktu-waktu, dan jabatan akan segera dicabut darinya.
Kedua, jika seorang perempuan bermimpi berkhutbah dengan menyampaikan nasihat dan hikmah, maka itu merupakan pertanda kekuatan moral. Ia akan menjadi penopang bagi keluarganya. Akan tetapi, jika khutbah yang disampaikan berisi hal-hal yang jauh dari kebijaksanaan, maka mimpi itu justru menjadi tanda akan terbukanya aib dan fitnah.
Ketiga, tafsir ini juga berlaku bagi non-Muslim. Jika seseorang yang bukan Muslim bermimpi berkhutbah, maka menurut Ibnu Sirin, itu adalah pertanda ia akan masuk Islam, atau ajalnya sudah dekat. Sebab, khutbah Jumat adalah simbol iman sekaligus jalan menuju kebenaran. Simak penjelasan berikut ini:
Baca Juga
Tafsir Mimpi tentang Ular: dari Musuh, Anak, hingga Kekayaan
ومن رأى كأنّه أحسن الخطبة والصلاة وأتمها بالناس وهم يستمعون لخطبته فإنّه يصير والياً مطاعاً، فإن لم يتمها لم تتم ولايته وعزل. ومن رأى من ليس بمسلم أن يخطب فإنّه يسلم أو يموت عاجلاً. فإن رأت امرأة أنّها تخطب وتذكر المواعظ فهو قوة لقيمها، وإن كان كلامها في الخطبة غير الحكمة والمواعظ فإنّها تفتضح وتشتهر بما ينكر من فعل الناس. وأما المنبر فإنّه سلطان من العرب والمقام الكريم وجماعة الإسلام. فمن رأى أنّه على منبر وهو يتكلم بكلام البر فإنّه إن كان أهلاً أصاب رفعة وسلطان، وإن لم يكن أهلاً للمنبر اشتهر بالصلاح، ثم إن لم يكن له أهلاً ورأى كأنّه لم يتكلم عليه أو يتكلم بالسوء فإنّه يدل على أنّه يصلب.
Artinya; “Barangsiapa melihat dirinya dalam mimpi berkhutbah dengan baik, melaksanakan shalat dengan sempurna bersama orang-orang, dan mereka mendengarkan khutbahnya, maka ia akan menjadi pemimpin yang ditaati. Jika ia tidak menyempurnakan khutbah atau shalatnya, maka kepemimpinannya tidak sempurna, bahkan ia akan dicopot.
Barangsiapa melihat orang non-Muslim berkhutbah, maka ia akan masuk Islam atau mati dalam waktu dekat. Jika seorang wanita melihat dirinya berkhutbah dan menyampaikan nasihat, maka itu pertanda kekuatan bagi wali atau pengasuhnya. Namun jika ucapannya dalam khutbah bukan berupa hikmah dan nasihat, maka ia akan dipermalukan dan dikenal dengan perbuatan yang tercela di mata manusia," (Ibnu Sirrin, Muntakhab fi Tafsir Ahlam, Jilid I, hlm. 102).
Baca Juga
Tafsir Mimpi tentang Kucing menurut Ibnu Sirrin
Lebih menarik lagi, menurut Ibnu Sirrin, simbol mimbar bukan sekadar tempat khutbah, tetapi simbol kekuasaan. Seorang raja, pemimpin, atau penguasa yang bermimpi berdiri di atas mimbar dan berbicara dengan kebaikan, akan memperoleh wibawa dan kejayaan. Namun, bila mimbar itu patah, ia ditarik turun, atau dipaksa meninggalkannya, maka tafsirnya adalah hilangnya kekuasaan, entah karena wafat, digulingkan, atau dicopot dari jabatannya.
فمن رأى أنّه على منبرِ وهو يتكلم بكلام البر فإنّه إن كان أهلا أصاب رفعة وسلطان وإن لم يكن المنبر أهلاَ اشتهر بالصلاح ثم إن لم يكن للمنبر أهلا ورأى كأنّه لم يتكلم عليه أو يتكلم بالسوء فإنه يدل على أنّه يصلب
Artinya; "Barang siapa bermimpi berada di atas mimbar dan ia berbicara dengan perkataan yang baik, maka jika ia memang layak, ia akan memperoleh kedudukan tinggi dan kekuasaan. Jika ia tidak layak untuk mimbar, maka ia akan dikenal sebagai orang saleh. Namun, apabila ia tidak layak untuk mimbar dan melihat dirinya tidak berbicara di atasnya, atau berbicara dengan perkataan yang buruk, maka hal itu menunjukkan bahwa ia akan jatuh dari jabatannya," (Ibnu Sirrin, Muntakhab fi Tafsir Ahlam, Jilid I, hlm, 102).
Apa yang bisa kita renungkan dari tafsir mimpi yang sarat simbol ini? Khutbah Jumat dalam mimpi ternyata bukan sekadar gambaran ritual ibadah, melainkan cermin bagaimana masyarakat memandang kepemimpinan. Seorang pemimpin, layaknya khatib di atas mimbar, dituntut untuk memberi nasihat, menghadirkan kebijaksanaan, serta menjaga moralitas di hadapan umatnya. Kekuasaan hanyalah titipan; dan mimbar, setegak apa pun ia berdiri, bisa runtuh sewaktu-waktu.
Dalam konteks bangsa kita hari ini, tafsir ini seolah mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari kursi, jabatan, atau lamanya berkuasa, melainkan dari kelayakan moral, keteladanan, serta keberanian berkata benar.
Seorang pemimpin yang gagal menuntaskan "khutbahnya", yakni amanah rakyat, akan berhenti di tengah jalan. Maka bijaklah bila ia memberi ruang bagi yang lebih mampu menunaikan tugas, sebab kepemimpinan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan, bukan sekadar kehormatan yang dipertahankan. Wallahu a'lam.
Ustadz Zainuddin Lubis, Pegiat Kajian Keislaman Tinggal di Parung.