0
News
    Home Featured Ilmu Laduni Nabi Khidir Nabi Musa AS Spesial

    Nabi Khidir dan Nabi Musa As, Hikmah Ilmu Laduni dan Jejaknya dalam Tradisi Ulama Nusantara - NU Online

    5 min read

     

    Nabi Khidir dan Nabi Musa As, Hikmah Ilmu Laduni dan Jejaknya dalam Tradisi Ulama Nusantara


    Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa adalah salah satu narasi Al-Qur’an yang kaya dengan makna dan pelajaran spiritual. Dalam surah Al-Kahfi ayat 60-82, Allah swt menyingkap bahwa ilmu hakiki bukan hanya ilmu rasional dan formal, tapi ilmu laduni ilmu yang langsung diberikan Allah kepada hamba-Nya. Nabi Musa, meski seorang Nabi dengan kitab Taurat, diminta belajar dari Nabi Khidir, sosok misterius yang ilmu dan hikmahnya sering sulit dipahami oleh akal manusia biasa.

     

    Kisah ini tidak hanya menjadi pelajaran klasik bagi umat Islam, tapi dalam tradisi pesantren Nusantara, kisah tersebut hidup dalam cerita turun-temurun, di mana Nabi Khidir dipercaya pernah menampakkan diri dan berjumpa dengan ulama-ulama besar tanah air seperti Kiai Kholil Bangkalan, Mbah Hasyim Asy’ari, Kiai Hamid, dan Mbah Maemun Zubair. Perjumpaan ini bukan sekadar mitos, melainkan simbolisasi hubungan spiritual antara ilmu laduni yang dibawa Khidir dengan kearifan lokal para ulama Nusantara.

     

    Ilmu Khidir dan pembelajaran Nabi Musa tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 60-82. Di dalamnya tertuang firman Allah swt tentang perjalanan Nabi Musa yang meminta ilmu dari Nabi Khidir. Khidir melakukan beberapa tindakan yang tampak janggal, seperti melubangi perahu, membunuh seorang anak kecil, dan memperbaiki tembok yang hampir roboh tanpa imbalan. Nabi Musa tidak mampu menerima tindakan tersebut secara langsung, sehingga Khidir menjelaskan hikmah di baliknya: perlindungan terhadap rakyat tertindas dari tiran, penghapusan potensi keburukan masa depan, dan menjaga harta seorang yatim.

     

    Ayat-ayat ini mengajarkan dua hal fundamental. Pertama, ilmu Allah itu sangat luas, bahkan para Nabi pun harus belajar dari hamba yang diberi ilmu laduni. Kedua, hikmah Tuhan sering tidak bisa langsung diterima oleh nalar manusia tanpa kesabaran dan keikhlasan.

     

    Selanjutnya, di Nusantara sendiri ada kisah yang tidak kalah menarik, yakni kisah kiai Kholil Bangkalan Madura yang sabar dan mempunyai prinsip bahwa Ilmu untuk mengabdi. Dalam tradisi pesantren Madura, kiai Kholil Bangkalan dikenal sebagai ulama yang sangat sabar dan tekun melayani masyarakat, khususnya dalam bidang pengobatan dan keagamaan. Santri dan masyarakat sering meriwayatkan bahwa kiai Kholil pernah mendapat petunjuk dan ujian dari sosok misterius yang kemudian dikenal sebagai Nabi Khidir.

     

    Kiai Kholil mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar untuk pengetahuan semata, melainkan harus diiringi dengan kesabaran, keteguhan hati, dan ikhlas dalam mengabdi. Kesabaran ini sejalan dengan pembelajaran Nabi Musa yang harus menerima ilmu Khidir secara bertahap, meski penuh ujian. Dari perjumpaan ini, para santri diajarkan untuk tidak mudah putus asa dalam menuntut ilmu dan beramal. Sedangkan murid kinasihnya yakni mbah Hasyim Asy’ari sendiri mendapat ilmu dan kerendahan hati dalam menuntut ilmu pada kiai Kholil Bangkalan.

     

    Mbah Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, adalah tokoh sentral dalam pengembangan ilmu dan spiritualitas Islam di Nusantara. Dalam kitab-kitabnya dan catatan sejarah pesantren, beliau menekankan pentingnya kerendahan hati dalam menuntut ilmu, sebagaimana Nabi Musa pun harus belajar dari Khidir yang ilmunya lebih tinggi.

     

    Mbah Hasyim mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya perkara memegang kitab suci atau memahami hukum, tetapi juga soal memahami hikmah dan rahasia di balik setiap ayat dan kejadian. Hal ini menguatkan ajaran bahwa kesombongan ilmiah harus dihindari, dan seorang ulama harus terbuka pada pengetahuan yang tidak selalu mudah dipahami, seperti yang tercermin dari kisah Khidir.

     

    Kisah lain ialah Kiai Hamid. Dalam kajian ilmu tasawuf yang juga diwariskan di pesantren-pesantren Jawa Timur, Kiai Hamid sering membahas tentang ilmu laduni, ilmu yang langsung diberikan oleh Allah tanpa perantara. Ilmu ini berakar dari pengalaman spiritual dan kedekatan dengan Allah.

     

    Penulis menganalisis, perjumpaan Nabi Khidir dan Musa melambangkan perjalanan seorang hamba dari ilmu rasional menuju ilmu spiritual, yang membutuhkan kesabaran dan pembuktian batin. Kiai Hamid mengajarkan bahwa santri harus berproses dengan sabar dan ikhlas agar ilmu tersebut tidak sekadar di kepala, tapi sampai ke hati dan jiwa.

     

    Selain mbah Hamid ada juga mbah Maemun Zubair guru langsung Gus Baha. Dalam banyak kisah Mbah Mun menginspirasi kita tentang konsep tawakal dan ketundukan pada ketetapan Ilahi. Mbah Maemun Zubair, ulama karismatik Rembang, terkenal dengan pendekatannya yang bijaksana dan penuh kesabaran dalam membimbing umat. Dalam catatan sejarah pesantren dan cerita-cerita santri, beliau sering mengutip kisah Nabi Khidir sebagai contoh utama ketundukan kepada ketetapan Allah.

     

    Perjumpaan simbolis antara Khidir dan Mbah Maemun ketika beliau nyantri di Ponpes Lirboyo mengajarkan bahwa manusia harus menerima segala kejadian dengan tawakal, meski sering kali tampak menyakitkan dan tidak adil. Sikap ini menumbuhkan ketenangan jiwa, yang menurut Mbah Maemun, adalah pondasi utama dalam beragama dan berilmu.

     

    Apabila kita analisis integrasi hikmah Nabi Khidir dalam tradisi pesantren Nusantara ini menyerap tiga pesan utama:

     

    1. Ilmu harus disertai kesabaran dan kerendahan hati: seperti Nabi Musa yang belajar dari Khidir, para santri diajarkan untuk rendah hati dan menerima ilmu dalam berbagai bentuk, bahkan yang sulit dipahami secara rasional.

     

    2. Ilmu Laduni sebagai ilmu spiritual yang esensial: tidak semua ilmu bisa diperoleh dari buku atau guru, tapi juga dari pengalaman batin dan rahasia Allah yang hanya bisa dicapai lewat ketundukan dan penghambaan.

     

    3. Tawakal sebagai sikap utama dalam menghadapi ujian ilmu dan kehidupan: ujian dan kesulitan adalah bagian dari proses belajar dan beribadah, yang harus dihadapi dengan sabar dan pasrah kepada Allah.

     

    Wahyu IryanaPenulis merupakan Wakil Ketua Lakpesdam PWNU Lampung


    Komentar
    Additional JS