0
News
    Home Featured Ning Uswah Syauqie Pesantren Spesial

    Ning Uswah Syauqie: Santri di Pesantren Tugasnya Mencari Ilmu, Bukan Jodoh - NU Online

    3 min read

     

    Ning Uswah Syauqie: Santri di Pesantren Tugasnya Mencari Ilmu, Bukan Jodoh

    Kamis, 15 Januari 2026 | 13:00 WIB


    Ning Uswah Syauqie saat mengisi seminar di Pondok Pesantren Mahika Sidoarjo. (Foto: NOJ/Boy Ardiansyah)
    Boy Ardiansyah

    Sidoarjo, NU Online Jatim

    Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto, Ning Uswah Hasanah mengatakan, santri belajar di pesantren tugas utamanya adalah untuk mencari ilmu, bukan mencari jodoh. Penegasan ini disampaikan saat mengisi seminar bertajuk 'Cinta-Circle dan Kontrol Diri' di Pondok Pesantren Manbaul Hikam (Mahika) Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (14/01/2026).


    Ning Uswah Syauqie sapaan akrabnya menerangkan, masa menempuh pendidikan di pesantren seorang santri boleh memiliki rasa cinta, karena cinta murni dari Allah SWT. Yang tidak boleh adalah tindak lanjut dari rasa cinta itu, seperti bertemu dan berkirim surat.

    Native Banner 1


    “Mondok itu mencari ilmu, bukan mencari jodoh. Biasanya ujian seorang santri yang menghafal Al-Qur’an adalah dicintai atau mencintai lawan jenis,” ungkapnya.

    Baca Juga

    Cerita Nyantri Ning Uswah Pengasuh Pesantren Al-Azhar Mojokerto


    Oleh karena itu jika ada yang datang menyatakan cinta ketika hafalan masih 20 juz, itu bukanlah jodoh melainkan cobaan. Yang terpenting bagi santri adalah menyelesaikan hafalan atau pendidikan di pesantren. Nantinya jodoh akan datang dengan sendirinya.

    Native Banner 2


    Ning Uswah juga mengajak santri agar tidak membuat circle dalam pergaulan di pesantren. Menurutnya, circle biasanya terjadi di kalangan santri putri. Misalnya, memilih teman yang hanya sering memberi makanan. 


    "Berpikirlah positif, teman yang jarang memberi makanan mungkin orang tuanya belum bisa membeli makanan yang lebih untuk bisa dibagikan ke teman-teman,” jelasnya.


    Sedangkan yang terjadi di pergaulan laki-laki biasanya bullying dengan memanggil nama orang tua, menyuruh ini dan itu, senioritas. Ia berharap hal-hal semacam itu sudah tidak boleh lagi terjadi di pesantren. Tidak boleh menganggap remeh perbuatan bullying yang merupakan perbuatan dosa.

    Baca Juga

    Ning Uswah Syauqi Ungkap Perempuan yang Bakal Diangkat Derajatnya


    “Pesantren adalah tempat yang suci. Maka ketika kita melakukan kebaikan akan dilipatgandakan kebaikannya. Dan sebaliknya, bila melakukan bullying, dosanya akan berlipat ganda,” tuturnya.


    Kandidat Doktor di Universitas KH Abdul Chalim, Pacet, Mojokerto itu mengajak santri agar bisa melawan jika mengalami bullying dengan cara menunjukkan gestur tidak suka. “Di pesantren sumua santri sama, maka dari itu tidak ada yang boleh merasa berhak menyuruh. Tidak boleh pula menormalisasi senioritas,” pungkasnya.

    Komentar
    Additional JS