0
News
    Home Featured IAI Attarmasi Pacitan Spesial

    Wakil Rektor IAI Attarmasi Pacitan Sebut Ilmu Tanpa Spiritual Lahirkan Kesombongan - NU Online

    3 min read

     

    Wakil Rektor IAI Attarmasi Pacitan Sebut Ilmu Tanpa Spiritual Lahirkan Kesombongan

    Pacitan, NU Online Jatim

    Derasnya arus modernitas dan lompatan teknologi saat ini menuntut insan akademik untuk tidak sekadar cerdas secara intelektual, namun juga kokoh secara spiritual. Tanpa landasan wahyu, ilmu pengetahuan dikhawatirkan hanya akan menjadi instrumen pemuas ego yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai ketuhanan.


    Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor Pelaksana Harian (PLH) Institut Agama Islam (IAI) Attarmasi Pacitan, Ali Mufron. Dalam sesi wawancara khusus dengan NU Online Jatim, Rabu (28/01/2026), ia menekankan pentingnya integrasi antara sains dan wahyu sebagai pondasi pendidikan masa kini.


    Ali Mufron menjelaskan bahwa, perintah iqra’ (bacalah) dalam Al-Qur'an tidak boleh dipisahkan dari frasa bismirabbik (dengan nama Tuhanmu). Menurutnya, membedah ilmu pengetahuan tanpa menyandarkan diri pada Allah akan melahirkan sains yang bebas nilai.


    “Jika kita hanya membaca dan membedah ilmu pengetahuan tanpa menyertakan nama Allah, maka yang lahir adalah sains yang mengabaikan bimbingan wahyu. Tanpa spiritualitas, lompatan teknologi seperti AI justru berisiko memicu kesombongan intelektual, di mana manusia merasa istighna atau merasa cukup tanpa Tuhan,” ungkapnya.


    Pihaknya juga menyayangkan adanya dikotomi atau penyekatan antara ilmu umum dan ilmu agama. Fenomena ini, menurut Mufron mengakibatkan lahirnya saintis yang kering secara spiritual atau sebaliknya, ahli agama yang gagap terhadap realitas ilmiah.


    Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak para santri dan akademisi untuk berkaca pada kejayaan Islam masa klasik. Nama-nama besar seperti Ibnu Sina dan Al-Ghazali menjadi bukti nyata bahwa kepakaran sains dan kedalaman tasawuf bisa melebur menjadi satu kekuatan peradaban.


    “Ibnu Sina bukan sekadar Grand Master di bidang kedokteran, namun beliau adalah seorang filosof dan fakih yang mumpuni. Ini adalah teladan bagi kita semua,” tambahnya.


    Melalui IAI Attarmasi, Ali Mufron memiliki visi mencetak Insan Kamil dengan 4 pilar kecerdasan: intelektual (ketajaman logika), spiritual (kedalaman iman), emosional dan sosial (kepekaan nurani), dan kinestetik (ketangguhan fisik) untuk pengabdian keumatan.


    Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa tantangan zaman ke depan bukan sekadar soal adu kecerdasan otak, melainkan ketahanan mental dan spiritual. “Pendidikan yang ideal adalah yang mampu mencetak lulusan dengan otak yang cerdas, akhlak yang mulia, serta fisik yang kuat untuk berjuang di tengah masyarakat,” pungkasnya.


    Komentar
    Additional JS