Asal-usul Masjid Agung Surakarta di Kawasan Keraton : Dibangun 1763 Setelah Peristiwa Geger Pecinan - Tribunnews
Asal-usul Masjid Agung Surakarta di Kawasan Keraton : Dibangun 1763 Setelah Peristiwa Geger Pecinan
Masjid Agung Surakarta merupakan salah satu masjid bersejarah yang terletak di kawasan Keraton Surakarta, tepatnya di sebelah barat Alun-Alun Utara.
Ringkasan Berita:
- Masjid Agung Surakarta dibangun oleh Sunan Pakubuwono III pada 1763-1768, sebagai bagian dari pemindahan pusat Kerajaan Mataram Islam ke Surakarta setelah peristiwa Geger Pecinan.
- Masjid ini menjadi pusat ibadah dan simbol keagamaan bagi kerajaan Surakarta, mendukung kegiatan keagamaan seperti Grebeg dan Sekaten.
- Masjid ini mengusung gaya arsitektur Jawa dengan atap tumpang tiga berpuncak mustaka, dilengkapi dengan mihrab, mimbar kayu jati, dan pawestren untuk wanita.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Momen Ramadhan 2026, tak ada salahnya menyelami sejarah masjid-masjid di Kota Solo, Jawa Tengah.
Solo sendiri memiliki sejumlah masjid bersejarah, salah satunya adalah Masjid Agung Surakarta.
Masjid Agung Surakarta merupakan salah satu masjid bersejarah yang terletak di kawasan Keraton Surakarta, tepatnya di sebelah barat Alun-Alun Utara.
Baca juga: Asal-usul Umbul Langse di Boyolali : Sempat Kering Kerontang Sebelum Dilakukan Ritual
Dikenal dengan nama resmi Masjid Agěng Karaton Suråkartå Hadiníngrat, masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwono III dan telah menjadi bagian penting dalam sejarah dan budaya Kota Solo.
Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat syiar Islam dan kegiatan keagamaan bagi kerajaan Surakarta Hadiningrat.
Sejarah Pendirian Masjid Agung Surakarta
Masjid Agung Surakarta dibangun pada tahun 1763 oleh Sunan Pakubuwono III, dan selesai pada tahun 1768.
Pembangunannya terkait erat dengan pemindahan pusat Kerajaan Mataram Islam dari Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745, setelah peristiwa Geger Pecinan yang menghancurkan Kartasura.
Saat itu, Pakubuwono II, yang memimpin kerajaan Mataram, memutuskan untuk mendirikan keraton baru di Surakarta, yang diiringi dengan pembangunan masjid sebagai simbol keberadaan kerajaan Islam di wilayah tersebut.
Setelah peristiwa tersebut, Surakarta menjadi pusat kekuasaan baru bagi Kerajaan Mataram, yang kemudian terpecah menjadi dua kesultanan: Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Baca juga: Sejarah Umbul Cokro atau Objek Mata Air Cokro OMAC di Klaten yang Dulunya Bernama Umbul Ingas
Masjid Agung Surakarta menjadi pusat ibadah dan simbol keagamaan bagi kerajaan, berfungsi mendukung berbagai kegiatan keagamaan kerajaan, seperti perayaan Grebeg, Sekaten, dan Maulid Nabi.

Arsitektur Masjid Agung Surakarta
Masjid Agung Surakarta dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Jawa yang sangat kental.
Bangunan masjid ini menggunakan gaya tajug dengan atap tumpang tiga yang berpuncak mustaka (mahkota).
Keunikan gaya arsitektur ini membuat masjid ini menjadi salah satu contoh penting bangunan masjid Jawa-Islam yang khas.
Bangunan utama masjid dilengkapi dengan serambi dan ruang utama yang memiliki empat saka guru dan dua belas saka rawa.
Baca juga: Asal-usul Umbul Kroman di Klaten : Ada Mitos Wanita Haid Dilarang Renang di Sini, Bisa Undang Ular
Di dalam masjid terdapat beberapa kelengkapan yang biasa ditemukan di masjid kerajaan, seperti mihrab, maksura, dan mimbar untuk khatib.
Mihrab yang berbentuk relung setengah lingkaran memiliki arsitektur yang mirip dengan masjid-masjid di Timur Tengah, menandakan pengaruh budaya Islam yang sangat kuat dalam pembangunan masjid ini.
Masjid ini juga dilengkapi dengan mimbar berbentuk persegi panjang dari kayu jati, tempat khatib menyampaikan khutbah saat salat Jumat.
Di samping itu, terdapat pawestren, ruang khusus yang digunakan untuk wanita yang ingin beribadah di masjid, serta balai rapat yang digunakan untuk kegiatan keagamaan lainnya.
Fasilitas ini menunjukkan betapa pentingnya fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan keagamaan kerajaan.
Fasilitas Pendukung dan Perubahan Seiring Waktu
Masjid Agung Surakarta juga dilengkapi dengan berbagai bangunan pendukung lainnya yang memiliki fungsi kultural dan keagamaan, seperti gapura, menara, tugu jam, dan sekolah Mambaul Ulum yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar agama.
Gedang Slirang, sebuah bangunan yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal abdi dalem atau marbot masjid, juga menjadi bagian dari kompleks masjid ini.
Pada tahun 1858, pagar keliling masjid dibangun untuk melindungi kawasan masjid dan menjaga privasinya.
Gapura utama berbentuk paduraksa dibangun di sisi timur menghadap alun-alun, sedangkan dua gapura kecil terletak di sisi utara dan selatan.
Menara adzan, yang dibangun pada tahun 1928, memiliki desain arsitektur yang terinspirasi dari Qutub Minar di Delhi, India.
Menara ini menjadi salah satu ikon masjid yang mencolok di kawasan tersebut.
Seiring waktu, masjid ini mengalami beberapa renovasi dan penambahan fasilitas.
Pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwono VII (1930-1975), masjid ini diperluas dengan penambahan pawestren (sayap kembar), perluasan serambi, penggantian mustaka, dan pembangunan pagar tembok.
Mustaka yang sebelumnya tersambar petir pada 1950 diganti dengan yang baru.
Perubahan-perubahan ini dilakukan untuk mempertahankan fungsi dan kelestarian masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan budaya.
Peran Masjid Agung dalam Kehidupan Kerajaan dan Masyarakat
Masjid Agung Surakarta memiliki peran penting dalam kegiatan keagamaan kerajaan Surakarta.
Sebagai masjid kerajaan, masjid ini tidak hanya digunakan untuk salat berjemaah, tetapi juga untuk kegiatan besar yang berkaitan dengan kebudayaan dan agama, seperti perayaan Grebeg yang diadakan untuk memperingati hari-hari besar Islam dan upacara adat kerajaan.
Dalam perayaan Sekaten, misalnya, gamelan kraton diletakkan di pagongan yang terletak di sisi utara dan selatan masjid.
Sebagai pusat syiar Islam, masjid ini juga berfungsi sebagai tempat pengajaran agama bagi warga kerajaan dan masyarakat sekitar.
Sekolah Mambaul Ulum yang terletak di kawasan masjid menjadi tempat pendidikan agama, sementara Gedang Slirang digunakan untuk tempat tinggal abdi dalem yang mengurusi masjid.
Masjid ini juga menjadi tempat pertemuan bagi para tokoh agama, pejabat kerajaan, dan masyarakat untuk berdiskusi mengenai urusan agama dan sosial.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Masjid-Agung-Solo-2024.jpg)