Asal-usul Masjid Al Wustho Mangkunegaran Solo : Namanya Filosofis, Punya Makna Mendalam - Tribunnews
Asal-usul Masjid Al Wustho Mangkunegaran Solo : Namanya Filosofis, Punya Makna Mendalam
Ringkasan Berita:
- Masjid Al Wustho Mangkunegaran di Solo, awalnya “masjid negara” Kadipaten Mangkunegaran, dibangun sejak Mangkunegara I, dipindahkan Mangkunegara IV (1878) dan selesai menara pada 1926.
- Arsitektur dirancang Herman Thomas Karsten, menggabungkan gaya modern Belanda dengan tradisi Jawa, dilengkapi serambi, pawastren, menara, dan maligen.
- Nama “Al Wustho” resmi 1949 berarti “tengah-tengah”, masjid kini terbuka untuk umum, mendukung pendidikan Islam, dan kegiatan spiritual Pura Mangkunegaran.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Momen Ramadhan 2026 penting bagi Umat Muslim di Solo menyelami sejarah masjid-masjid di Kota Bengawan.
Solo, Jawa Tengah, memang memiliki banyak masjid yang punya sejarah panjang.
Salah satunya adalah Masjid Al Wustho Mangkunegaran.
Baca juga: Asal-usul Masjid Agung Surakarta di Kawasan Keraton : Dibangun 1763 Setelah Peristiwa Geger Pecinan
Masjid Al Wustho adalah masjid tua yang terletak di Kota Surakarta, tepatnya di Jalan Kartini, Kelurahan Ketelan, Banjarsari, di sisi barat Pura Mangkunegaran.
Masjid ini awalnya didirikan sebagai “masjid negara” untuk Kadipaten Praja Mangkunegaran.
Sejarah Pendirian
Ide pembangunan masjid berawal pada masa pemerintahan Mangkunegara I sebagai perwujudan tugas raja sebagai panatagama, yakni menata urusan agama di kerajaan.
Awalnya, masjid ini terletak di belakang Pura Mangkunegaran.
Pada masa pemerintahan Mangkunegara IV, lokasi masjid dipindahkan ke sisi barat Pura Mangkunegaran karena posisi lama dianggap kurang strategis.
Peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1878.
Baca juga: Asal-usul Umbul Langse di Boyolali : Sempat Kering Kerontang Sebelum Dilakukan Ritual
Pembangunan sempat terhambat karena kondisi ekonomi Mangkunegaran, baru dilanjutkan kembali oleh Mangkunegara VII dengan peletakan batu kedua pada 1918, dan pembangunan menara masjid rampung pada 1926.

Arsitektur Modern dengan Sentuhan Jawa
Masjid ini dirancang secara modern oleh arsitek Belanda, Herman Thomas Karsten, namun tetap mempertahankan ciri khas Jawa.
Masjid menempati lahan seluas 4.200 meter persegi dengan tipe bangunan “tajug”, bentuk khas masjid Jawa.
Fasilitas masjid meliputi:
Serambi timur dengan tratag rambat (lorong beratap yang menjorok ke depan) berkaligrafi.
- Pawastren, ruang salat Jumat khusus perempuan.
- Menara di sisi timur laut.
- Maligen, bangunan untuk khitanan.
Di sisi timur laut terdapat prasasti marmer yang menandai pembangunan masjid dan menara dalam bahasa Arab dan Jawa.
Baca juga: Asal-usul Umbul Kroman di Klaten : Ada Mitos Wanita Haid Dilarang Renang di Sini, Bisa Undang Ular
Nama dan Filosofi
Awalnya bernama Masjid Mangkunegaran, nama “Al Wustho” resmi diberikan pada 1949 oleh Kepala Takmir Pura Mangkunegaran, Raden Tumenggung K.H. Imam Rosidi.
- Arti Nama: “Al Wustho” dari bahasa Arab berarti “tengah-tengah”.
- Makna Filosofis: Masjid berada di tengah kota Surakarta dan memiliki posisi menengah di antara masjid-masjid besar lain di Solo.
- Perubahan Nama: Sebelumnya hanya disebut Masjid Mangkunegaran.
Fungsi dan Peran Budaya
Awalnya, masjid diperuntukkan bagi keluarga kerajaan.
Sejak 1924, Masjid Wustho dibuka untuk umum, terutama mendukung pendidikan Islam oleh Muhammadiyah.
Masjid ini juga menjadi pusat kegiatan spiritual Pura Mangkunegaran, seperti pelantunan Al-Qur’an saat kirab pusaka dan perayaan Tahun Baru Jawa di malam satu Sura.
Pada 1962, berdasarkan keputusan Menteri Agama, Masjid Al Wustho Mangkunegaran menjadi tanggung jawab Departemen Agama, dengan partisipasi masyarakat sekitar, dan hingga kini digunakan sebagai tempat salat umum dan ibadah bagi tamu Pura Mangkunegaran.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/masjid-al-wustho-solo.jpg)