0
News
    Home Andalusia Berita Featured Selat Gibraltar Spesial

    Cahaya & Bayangan di Selat Gibraltar: Sejarah Kejayaan dan Keruntuhan Islam Andalusia - Tebuireng

    6 min read

     

    Cahaya & Bayangan di Selat Gibraltar: Sejarah Kejayaan dan Keruntuhan Islam Andalusia


    ilustrasi Islam di Andalusia

    Andalusia merupakan wilayah di Semenanjung Iberia. Dahulu Andalusia merupakan kota pusat pembelajaran di Eropa. Selain itu, Andalusia merupakan pusat pendidikan utama. Jalan pertukaran budaya dan karya ilmiah antara dunia Islam dan Kristen. Islam masuk ke Andalusia sejak zaman Khilafah Bani Umayyah. Tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid II.

    Saat itu, khalifah memerintah Thariq bin Ziyad untuk melakukan penaklukan ke wilayah Semenanjung Iberia. Pasukan Thariq berjumlah 7.000 pasukan kuda dan berasal dari orang-orang Bar-bar yang baru masuk Islam. Sesampainya di Semenanjung Iberia, mereka mendirikan kemah di kaki gunung yang kemudian dinamakan Jabal Thariq (sekarang disebut dengan Gibraltar). Penguasa setempat kala itu adalah Raja Roderick.

    Saat itu pasukan Roderick berjumlah 100.000 pasukan yang tidak semuanya loyal terhadap Roderick. Meletuslah pertempuran antara pasukan Thariq dan pasukan Roderick. Pertempuran itu dimenangkan oleh pasukan Thariq. Setelah itu, Thariq membagi pasukan menjadi 4 divisi. Keempat divisi itu diutus untuk menaklukkan wilayah yang berbeda-beda. Divisi pertama yang dipimpin oleh Al-Mughits Ar-Rumi berhasil menaklukkan kota Cordoba. Sedangkan divisi-divisi lain berhasil menaklukkan kota-kota lain seperti Granada. Sedangkan Thariq, ia masih menjadi ketua divisi yang berhasil menaklukkan kota Toledo.

    Beberapa wilayah pun dapat ditaklukan oleh muslimin hingga masuklah wilayah Semenanjung Iberia yang kemudian dikenal dengan Andalusia ke wilayah kekuasaan Bani Umayyah. Beberapa tahun kemudian terjadilah perselisihan antara orang Barbar dan orang Arab yang tinggal di wilayah Andalusia. Hal itu disebabkan oleh perbedaan kasta. Orang Barbar mendapatkan tugas yang relatif lebih berat daripada tugas yang diberikan kepada orang Arab. Dikarenakan hal tersebut, akhirnya orang Barbar memberontak dan mendirikan negara sendiri.

    Saat kekuasaan Bani Umayyah di timur mulai terpojok oleh orang-orang Bani Abbasiyah, wilayah mereka yang di Afrika Utara dan Spanyol pun tidak terurus. Pada tahun 745 M direbutlah wilayah itu oleh Klan Fihri. Kemudian dibagi menjadi dua, Abdurrahman Al-Fihri di Afrika Utara dan Yusuf Al-Fihri di Spanyol. Beberapa waktu berikutnya saat Bani Umayyah runtuh, mereka mendatangi penguasa Abbasiyah meminta supaya wilayah yang mereka kuasai saat itu tidak berpindah tangan. Penguasa Abbasiyah pun menolak dan Klan Fihri tetap diminta untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil. Akan tetapi Klan Fihri tetap bersikukuh untuk mempertahankan wilayah tersebut. Hingga pada tahun 756 M Abdurrahman I (Ad-Dakhil) yang masih keturunan Bani Umayyah datang ke Spanyol dan menggulingkan Yusuf Al-Fihri dan mendeklarasikan bahwa dia adalah emir Cordoba.

    Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

    Satu setengah abad berikutnya, Abdurrahman III berhasil memulihkan kekuasaan Bani Umayyah di seluruh Andalusia. Bahkan kekuasaannya pun meluas hingga Afrika Utara bagian barat. Lalu ia mengubah status Cordoba yang sebelumnya berbentuk emirat menjadi khilafah. Dengan demikian, Abdurrahman III pun turut mendeklarasikan bahwa dirinya adalah seorang Khalifah.

    Pada zaman Abdurrahman III tersebut Andalusia mencapai puncak kejayaannya. Andalusia memiliki sistem perekonomian dan pertanian yang baru. Wilayah Andalusia dan sekitarnya menjadi daerah dengan ekonomi pertanian paling maju di Eropa saat itu. Hal itu juga memicu revolusi pertanian di sebagian wilayah di Jazirah Arab. Cordoba berhasil menyalip Konstantinopel sebagai kota terbesar dan paling makmur seantero Eropa.

    Cordoba juga menjadi pusat budaya terkemuka yang melahirkan banyak filsuf dan ilmuwan besar. Para filsuf dan ilmuwan itu juga punya pengaruh besar di intelektual Eropa. Muslim dan non muslim berbondong-bondong datang ke Andalusia dari luar negeri untuk belajar. Salah satu ilmuwan Barat yang terkenal terpengaruh oleh karya ilmuwan  Andalusia adalah Michael Scot. Michael membawa karya Ibnu Rusyd (Averrous) dan Ibnu Sina (Avicena) ke Italia.

    Memang sudah menjadi sunnatullah bahwa ketika sebuah negara berada di puncak kejayaannya maka semakin dekat pula kejatuhannya. Muslim Andalusia mulai mengalami kemunduran. Dimulai saat Perang Sipil pada 1009-1013 meletus. Mereka diinvasi oleh orang-orang Barbar sehingga Cordoba pecah. Penduduknya dibantai. Kota-kotanya dijarah. Komplek istana dibakar. Pada tahun 1031 Andalusia pecah menjadi negara-negara kecil.

    Setelah tahun 1031 itu pun kerajaan-kerajaan kecil itu sangat sulit untuk mempertahankan diri dari serangan dan tuntutan upeti dari negara-negara Kristen sekitar yang dikenal dengan sebutan Bangsa Galicia. Akhirnya Bangsa Galicia berhasil menaklukkan beberapa negara kecil itu. Negara-negara yang belum ditaklukkan pun mencari bantuan ke Afrika Utara, ke orang-orang Barbar. Akan tetapi pada akhirnya mereka juga dicaplok oleh orang-orang Barbar itu.

    Dari pertengahan abad 13 sampai akhir abad 15 satu-satunya wilayah yang tersisa adalah emirat Granada. Granada masih berdiri kokoh. Ia menjadi benteng muslim terakhir di Andalusia. Emirat Granada didirikan oleh Muhammad bin Al-Ahmar pada tahun 1230. Walaupun masih berdiri kokoh, emirat ini masih punya kewajiban untuk membayar upeti ke Kerajaan Castilla. Granada juga menjadi tempat bagi muslim yang berhasil lari selama Reqoncuista atau penaklukan ulang oleh negara-negara Kristen. Disebabkan banyaknya orang yang mengungsi, Granada pun harus memperluas wilayah hingga jadilah Granada salah satu kota terbesar di Eropa sepanjang abad 15 dalam hal populasi.

    Pada tahun 1469 Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu Isabella dari Castilla menikah. Pernikahan keduanya menjadi tanda bahwa Emirat Granada akan runtuh. Hal itu karena keduanya berhasil meyakinkan paus saat itu untuk memerangi Granada. Mereka juga meyakinkan bahwa perang yang mereka lakukan termasuk dari Perang Salib. Serangan pun dilancarkan ke Emirat Granada. Hingga pada 2 Januari 1492, setelah pengepungan yang cukup lama akhirnya sultan terakhir Emirat Granada yaitu Muhammad XII menyerahkan kota beserta seluruh isinya. Awal mulanya muslim yang menetap di kota tersebut pasca ditaklukkan ada sekitar setengah juta jiwa. Akan tetapi, setelah musim gugur 100.000 orang meninggal akibat perbudakan, 200.000 orang bermigrasi mencari tempat tinggal baru, dan 200.000 orang tetap disana sebagai masyarakat minoritas. Kaum elit Emirat Granada pun diberi wilayah di pegunungan Alpujarras sebagai tempat tinggal mereka.

    Pada tahun 1492 itu juga muslimin masih diizinkan untuk mempraktikkan agama Islam. Akan tetapi pada tahun 1502 raja-raja Katolik memaksa semua muslim yang hidup di situ untuk pindah agama. Bila tidak mau, mereka akan disiksa dan diusir dari Spanyol. Pengusiran tersebut terjadi antara tahun 1609-1614. Akhirnya pada tahun 1727 setelah terjadi penuntutan massal, Islam telah dianggap mati atau tidak ada di Spanyol.

    Islam pernah masuk dan membawa kejayaan di Spanyol. Saat negara-negara di Eropa tak mengenal ilmu dan sastra, Spanyol mendahului mereka dalam hal itu. Ilmu pengetahuan menyebar luas di Spanyol. Banyak masjid dan istana megah berdiri. Tentu tidak dengan perkiraan arsitektur yang biasa saja. Ilmuwan mereka dikenal seantero Eropa bahkan seantero dunia. Ilmu yang mereka bawa tersisa sampai sekarang. Bahkan diajarkan di banyak perguruan tinggi di seluruh dunia.

    Nama Al-Qurthubi mungkin tidak asing lagi di kalangan ahli tafsir. Ibnu Rusyd atau yang lebih dikenal oleh orang Barat dengan nama Averrous sangatlah terkenal dengan ilmu filsafatnya. Ibnu Sina atau Avicena dikenal dengan ilmu kedokterannya. Az-Zahrawi dikenal dengan ilmu bedahnya. Mereka adalah bukti bahwa Islam pernah jauh terbang di atas orang-orang Barat. Melebihi mereka pada banyak hal. Seharusnya itu semua cukup membuat kita memahami bahwa sejarah adalah hal perlu diingat. Diingat untuk kembali diajarkan dan dijadikan sebagai motivasi agar umat Islam bangkit dan bersinar kembali. Wallahu a’lam.

    Baca Juga: Fatimah al-Fihri Perempuan yang Mengubah Arah Peradaban


    Penulis: Shofiyah Nur Azizah

    Editor: Muh. Sutan


    Komentar
    Additional JS