Kisah Banser Disabilitas Tetap Sigap Amankan Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Malang - Times Indonesia
Kisah Banser Disabilitas Tetap Sigap Amankan Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Malang
Keterbatasan fisik bukan halangan untuk mengabdi. Muhammad Yusa Arifan, anggota Banser disabilitas yang tetap sigap amankan Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Malang.
MALANG – Semangat pengabdian tak pernah mengenal keterbatasan fisik. Hal itu tercermin dari sosok Muhammad Yusa Arifan, anggota Banser dari Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Sukun, Kota Malang, yang tetap menjalankan tugas pengamanan dalam Mujahadah Kubro 1 Abad NU meski mengidap disabilitas akibat polio sejak usia sembilan bulan.
Dengan bantuan tongkat sebagai alat bantu jalan, Yusa tetap berdiri sejajar dengan anggota Banser lainnya, menjaga titik-titik pengamanan selama dua hari pelaksanaan acara besar NU tersebut.
“Ini panggilan jiwa,” kata Yusa singkat, saat ditemui di sela-sela pengamanan.
Yusa mengungkapkan, dirinya mulai aktif melakukan pengamanan sejak Sabtu hingga Minggu. Tugas yang dijalani tidak berbeda dengan anggota Banser lain, yakni berjaga di pos pengamanan yang telah ditentukan oleh komando.
“Aktivitasnya sama dengan yang lainnya. Jaga di pos, sudah dibagi posnya, ya jaga di situ,” ujarnya.
Meski kondisi fisiknya menuntut tenaga ekstra, Yusa mengaku tak menjadikan hal tersebut sebagai keluhan. Menurutnya, rasa lelah adalah hal yang wajar dalam setiap tugas pengamanan.
“Capek ya pasti ada, namanya juga manusia. Tapi kalau dijalani dengan senang, rasanya capek itu hilang sendiri,” tuturnya.
Selama bertugas, Yusa mengaku tidak mengalami kendala berarti. Ia bersyukur selalu diberi kesehatan selama menjalankan pengamanan Mujahadah Kubro 1 Abad NU.
“Alhamdulillah, dikasih sehat,” ucapnya.
Keterlibatan Yusa dalam kegiatan Banser bukan hal baru. Ia tercatat telah bergabung sejak sebelum pandemi Covid-19, sekitar tahun 2019. Sejak saat itu, ia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pengamanan, terutama agenda keagamaan NU.
“Kalau bisa datang ya ikut. Kalau tidak bisa datang, ya mau bagaimana lagi,” katanya dengan nada sederhana.
Pengalaman pengamanan terjauh yang pernah dijalani Yusa adalah saat peringatan Satu Abad NU di Sidoarjo, Jawa Timur. Selain itu, ia juga kerap terlibat dalam pengamanan kegiatan sholawatan di berbagai daerah.
“Yang paling jauh pernah ke Sidoarjo, waktu satu abad NU. Juga sering ngawal acara sholawatan,” ungkapnya.
Menariknya, Yusa mengaku tidak menyiapkan obat-obatan khusus selama bertugas. Baginya, semangat dan rasa bahagia saat menjalankan tugas justru menjadi “obat” terbaik.
“Dijalani dengan senang itu sudah jadi obat sendiri,” ujarnya.
Kisah Muhammad Yusa Arifan menjadi potret nyata bahwa Banser NU adalah ruang pengabdian yang inklusif. Di tengah perhelatan akbar Mujahadah Kubro 1 Abad NU, kehadiran Banser disabilitas seperti Yusa menjadi simbol kuat bahwa semangat menjaga, melayani, dan mengabdi untuk umat dan bangsa dapat dilakukan oleh siapa pun, tanpa terkecuali. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.