Faktor Cuaca, Perukyat di Pasuruan dan Malang Pastikan Tidak Melihat Hilal - NU Online
Faktor Cuaca, Perukyat di Pasuruan dan Malang Pastikan Tidak Melihat Hilal
Pasuruan, NU Online Jatim
Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Pasuruan menggelar rukyatul hilal di MAN Insan Cendekia Pasuruan, Selasa (16/02/2026) sore. Prosesi rukyatul hilal diwarnai cuaca mendung hingga hujan deras, sehingga dipastikan hilal tidak bisa terlihat. Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Malang.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian observasi hilal secara nasional yang hasilnya akan dilaporkan dan dibahas dalam sidang isbat penetapan awal Ramadhan oleh pemerintah.
“Berdasarkan hasil perhitungan falakiyah menggunakan berbagai metode, posisi hilal masih berada di bawah ufuk atau bernilai negatif,” ujar Sekretaris LFNU Kabupaten Pasuruan, M Rusdi, Selasa (17/02/2026).
Ia menjelaskan, perhitungan dilakukan menggunakan sejumlah metode, di antaranya Irsyadul Murid, Ephemeris, Nurul Anwar, hingga Badi’atul Mitsal. Seluruh metode menunjukkan hasil yang sama, yakni hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyat.
“Secara nalar falakiyah, hilal belum wujud dan belum memenuhi kriteria imkanur rukyat, baik menurut standar mabim lama maupun mabim baru,” ujarnya.
Berdasarkan hasil perhitungan, metode Adduru Al-Aniq menunjukkan ketinggian hilal sebesar -01° 50’ 49,15” sebagai posisi terendah, sedangkan metode Badi’atul Mitsal menunjukkan -0° 23’ 11” sebagai posisi tertinggi. Seluruh hasil tersebut masih berada di bawah ufuk.
Dengan kondisi tersebut, pihaknya memperkirakan bulan Syaban akan disempurnakan (istikmal) menjadi 30 hari. “Hari ini dapat dipastikan hilal tidak terlihat,” pungkasnya.
Malang Mendung, Hilal Tak Terlihat
Hal senada juga terjadi di Kabupaten Malang. Proses rukyatul hilal dipusatkan di Pendopo Pemerintah Kabupaten Malang, Selasa (17/02/2026). Meskipun berlangsung aman dan terbit, proses pemantauan hilal terkendala cuaca mendung.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur terkait, di antaranya Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang, Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) PCNU Kabupaten Malang, serta perwakilan instansi dan tim pemantau lainnya.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Mamuri, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil perhitungan astronomi, posisi hilal pada 17 Februari 2026 masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.
"Berdasarkan hasil perhitungan kami untuk wilayah Indonesia, pada tanggal 17 Februari posisi hilal masih bernilai negatif di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, hilal dapat dipastikan tidak terlihat pada hari ini," kata Mamuri kepada NU Online Jatim.
Ia menjelaskan, ketinggian hilal di Indonesia berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.
"Hal ini menunjukkan bahwa di seluruh wilayah Indonesia posisi hilal masih berada di bawah ufuk, sehingga tidak memungkinkan untuk terlihat pada sore hari ini," tandasnya.
Dengan hasil tersebut, pemantauan hilal di Kabupaten Malang menjadi bagian dari rangkaian laporan nasional yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah oleh pemerintah.