0
News
    Home Featured Spesial

    Gus Luqman Tremas Sebut Menghafal Nadhom Tradisi Salaf yang Harus Dijaga - NU Online

    3 min read

     

    Gus Luqman Tremas Sebut Menghafal Nadhom Tradisi Salaf yang Harus Dijaga

    Pacitan, NU Online Jatim

    Menghafal kitab (tahfidzul kutub) merupakan tradisi intelektual pesantren yang telah berlangsung selama berabad-abad. Meski diakui berat, tradisi ini merupakan kunci dalam menjaga kemurnian ilmu agama.

     

    Penegasan itu disampaikan Ketua Majelis Ma’arif Perguruan Islam Pondok Tremas, KH Luqman Haris Dimyathi, dalam acara Haflah Attasyakur Lil Hifzhi Nazhom Perguruan Islam Pondok Tremas, Pacitan, Kamis (05/02/2026).

     

    Dalam kesempatan itu, ia memberikan motivasi kepada para santri yang sedang menempuh proses hafalan kitab. Ia menyebutkan bahwa para ulama terdahulu memiliki standar hafalan yang sangat kuat, yakni lafdhan wa ma’nan (secara lafal maupun makna).

     

    "Hafalan apa pun, baik itu kitab, hadits, maupun Al-Qur’an, memang berat. Tapi dalam sejarahnya, ulama-ulama dulu itu hafalannya lafdhan wa ma’nan," ujar Gus Luqman, sapaan akrabnya.

     

    Dirinya menjelaskan, hampir semua disiplin ilmu dalam khazanah pesantren, mulai dari fikih, nahwu, hingga falak, telah disusun dalam bentuk bait-bait syair (nadhom) untuk memudahkan santri.

     

    Ia pun mencontohkan kitab Zubad dalam ilmu fikih dan Alfiyah dalam ilmu nahwu serta mustholahul hadits. Uniknya, mayoritas nadhom tersebut menggunakan bahar Rojaz dalam ilmu Arudl.

     

    "Rata-rata bait itu ber-bahar rojaz karena enak, simpel, gampang dihafalkan, dan gampang dipahami," ungkap Gus Luqman.

     

    Ia juga menyoroti kehebatan Ibnu Malik, pengarang kitab Alfiyah Ibnu Malik. Meskipun berasal dari Spanyol (Eropa), Ibnu Malik mampu menyusun kaidah nahwu yang sangat teliti dengan pendekatan Al-Qur'an. “Khususnya qira’ah sab’ah dan asyrah,” tuturnya.

     

    Lebih lanjut, Gus Luqman menekankan sebuah prinsip penting yang menjadi pegangan kaum sarungan, yaitu kullul khoir man ittaba’as salaf, wa kullu syarrin man ibtada’al kholaf. (Segala kebaikan ada pada orang yang mengikuti jejak ulama terdahulu, dan segala keburukan ada pada orang yang mengada-ada hal baru di masa kemudian).

     

    Dirinya mengingatkan bahwa ‘kesalafiahan’ bukan sekadar soal masa lalu, melainkan menjaga prinsip-prinsip dan peninggalan para masyayikh, termasuk tradisi menghafal bait-bait ilmu.

     

    "Percayalah Nak, semua kebaikan itu bagi orang yang mengikut prinsip-prinsip kesalafiahan. Apa itu? Antara lain bait-bait (nadhom). Itulah tinggalan yang harus kita ikuti," pesan Gus Luqman.

     

    Ia pun menuturkan bahwa gelar akademik yang tinggi di era modern (kholaf) tetap harus bersandar pada pondasi keilmuan salaf agar tidak terjerumus pada pemahaman yang keliru.

     

    “Tradisi menghafal yang dijalankan di Pondok Tremas merupakan bentuk nyata dari ittaba as-salaf untuk menjaga keberkahan ilmu para guru,” pungkasnya.


    Komentar
    Additional JS