0
News
    Home Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Hati dan Lisan Penentu Baik Buruknya Seorang Hamba - Tebuirengonline

    7 min read

     

    Hati dan Lisan Penentu Baik Buruknya Seorang Hamba

    Sebuah ilustrasi macam-macam manusia (sumber: ai/ra)

    Khutbah Jum’at oleh: KH. Fahmi Amrullah Hadziq*

    Tiada bagian tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan hati dan lidah, jika keduanya benar-benar baik. Demikian pula tiada bagian tubuh yang lebih buruk dibanding dengan hati dan lidah, jika keduanya buruk.


    الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

    أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه وَلاَ نَبِيَّ بَعدَهُ

    اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

    فَيَاعِبَادَ اللهِ اوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقوَى الله اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    Marilah senantiasa kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan haqqa tuqahtihi (sebenar-benar takwa). Menjalankan perintah dan tinggalkan larangan-Nya.  Janganlah sekali-kali meninggalkan dunia ini, kecuali dalam keadaan Islam dan husnul khatimah.

    Baca Juga: Bagi Santri Ramadhan adalah Syahrul Ilmi

    Ada seorang budak bernama Lukman Al-Hakim. Suatu hari ia diperintah oleh majikannya untuk menyembelih seekor kambing. “Wahai Lukman, potonglah kambing ini, kemudian bawakan aku bagian tubuh yang paling baik!” Maka, ia menjalankan perintah majikannya. Setelah dipotong, lantas ia mengambil hati dan lidah kambing tersebut dan membawakannya kepada majikannya.

    Keesokan hari, majikannya meminta Lukman untuk memotong seekor kambing lagi. Tetapi kali ini pesannya, “Bawakan aku bagian tubuh kambing yang paling buruk!” Maka, ia memotong kambing dan membawakan lidah dan hati kambing tersebut kepada majikannya.

    Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

    Majikannya heran seraya bertanya, “Wahai Lukman, kemarin aku perintahkan engkau untuk membawakan tubuh paling baik dari kambing. Hingga engkau membawakanku hati dan lidah kambing. Kali ini engkau membawakan bagian tubuhnya paling buruk. Ternyata engkau membawakan hati dan lidahnya juga. Apa maksudnya?”

    “Wahai tuan, faktanya demikian. Tiada bagian tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan hati dan lidah, jika keduanya benar-benar baik. Demikian pula tiada bagian tubuh yang lebih buruk dibanding dengan hati dan lidah, jika keduanya buruk.”

    Baca Juga: Awas Terlena! Inilah Alasan Mengapa Banyak Orang Lalai di Bulan Sya’ban

    Jamaah Jum’at Rahimakumullah

    Ada pelajaran penting dari kisah tersebut, bahwa nampak sangat begitu penting menjaga hati dan lidah. Karena dua organ tubuh inilah yang paling menentukan baik buruknya seseorang. Juga menentukan selamat atau tidak seseorang. Terutama menjaga hati. Karena hati ini adalah pusat dari manusia. Sebagaimana Nabi bersabda:

    ألا وإنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً، إذا صَلَحَتْ، صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وإذا فَسَدَتْ، فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، ألا وهي القَلْبُ

    Ingatlah bahwa dalam diri ini ada segumpal daging. Ketika itu sehat, maka badan pun ikut sehat. Dan ketika itu rusak, maka badan pun ikut rusak.

    Artinya baik atau buruk seseorang itu tergantung pada hatinya. Karena itu kita selalu menyebut seseorang yang dermawan, suka menolong, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya dengan sebutan “baik hati”. Begitupun jika ada seseorang yang dianggap berbuat hal tercela, pasti kita menyebutnya “hatinya buruk”.

    Demikian halnya dengan menjaga lisan. Bahwa penting bagi kita untuk menjaga lisan. Ada pepatah arab menyebutkan “salamatul insan, fi hifd al-lisan” (keselamatan seseorang itu dari penjagaan lisannya). Sehingga hendaknya lisan kita ini selalu mengeluarkan kalimat-kalimat yang baik. Jika tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang baik, maka lebih baik diam saja. Seperti kata Nabi Saw:

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

    “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaknya ia berkata baik atau diam.”

    Baca Juga: Kejahatan Kuat Bukan Sebab Hebat, Melainkan Karena Kebaikan Bungkam

    Jamaah Jum’at Rahimakumullah

    Mungkin dosa kita bukan karena berzina, mabuk, narkoba, mencuri, atau korupsi. Tetapi bisa jadi dosa kita ini adalah disebabkan oleh ketiadaan kemampuan menjaga hati. Ingatlah, bahwa kemaksiatan iblis itu bukan karena berzina, narkoba, atau lainnya. Akan tetapi kemaksiatan iblis itu disebabkan oleh perasaannya yang lebih baik dari manusia “ana khairun minhu”.

    Bisa jadi dosa kita ini karena tidak mampu menjaga lisan kita. Mungkin banyak orang yang tersinggung dengan kata-kata kita, tersakiti oleh lisan kita. Bahkan saat ini kita bukan hanya diharuskan menjaga lisan, melainkan juga jari-jari kita. Karena bisa jadi ketikan-ketikan ini menyakiti orang lain melalui media sosial.

    Tiada satu kata pun terucap, melainkan di situ ada malaikat yang mencatat. Sebagaimana disebutkan dalam A-Qur’an surah Qaf:

    مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)

    Oleh karena itu berhati-hatilah dengan lisan kita. Karena lisan kita sudah mengucap, ibarat anak panah yang keluar dari busur. Artinya sudah tidak mungkin untuk ditarik kembali. Sebuah pepatah arab mengatakan:

    وَ قَدْ يُرجىٰ لِجُرحِ السيفِ برءٌ وَ لا برءٌ لِما جَرَحَ اللسانُ

    Baca Juga: Keutamaan Bulan Rajab dan Makna Shalat sebagai Pembersih Hati

    Terjemah bebas: bila pedang melukai tubuh masih ada harapan sembuh, bila lisan melukai hati kemana obat hendak dicari. Oleh karena itu, mari kita jaga hati dan lisan kita. Sehingga kita menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan dengan hati dan lisan yang bersih.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    *Kepala Pondok Putri Pesantren Tebuireng.



    Pentranskip: Yuniar Indra Yahya
    Editor: Rara Zarary

     


    Komentar
    Additional JS