0
News
    Home Featured Fiqh Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Hukum Salat Sunah Saat Khutbah Jumat - L

    7 min read

     

    Hukum Salat Sunah Saat Khutbah Jumat

    Hari Jumat adalah momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Denting azan berkumandang, khatib pun naik ke mimbar untuk menyampaikan khutbahnya. Pada saat itu jamaah harus khusyuk mendengarkan setiap kata yang khatib sampaikan. Namun, sering kali ada yang datang terlambat lalu melaksanakan salat sunah ketika khutbah sudah mulai. Nah, muncul pertanyaan menarik: bagaimana sebenarnya hukum salat sunah di tengah khutbah Jumat berlangsung?

    Baca juga: Menikahkan Anak yang Sedang Mondok

    Perintah ketika khutbah berlangsung

    Seperti yang sudah dijelaskan, pada dasarnya apabila khatib sudah naik ke mimbar, maka seluruh jamaah jumat diperintahkan untuk menyimak dengan seksama materi khutbah dan dilarang untuk melaksanakan salat sunah.

    Baca juga: Bolehkah Berziarah ke Makam Pahlawan Non-Muslim?

    Hukum salat sunah bagi orang yang di dalam masjid

    Namun, ketika khutbah sedang berlangsung, khusus bagi jamaah jumat yang masuk ke dalam masjid dan mungkin untuk melakukan salat dua rakaat tanpa tertinggal takbiratul ihram-nya imam, tetap ada anjuran untuk melaksanakan salat sunah tahiyyat al-masjid (salat sunah dua rakaat sebelum duduk yang dianjurkan bagi setiap orang yang memasuki masjid). Hal ini sebagaimana keterangan dalam hadits:

    جَاءَ سُلَيْكُ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ فَجَلَسَ، فَقَالَ لَهُ: «يَا سُلَيْكُ، قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا». ثُمَّ قَالَ: «إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ، وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

    Telah datang Sulaik al-Ghathafani pada hari Jumat sementara Nabi ﷺ sedang berkhutbah, lalu ia duduk. Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya:
    “Wahai Sulaik, bangunlah, lalu kerjakanlah dua rakaat salat, dan ringankanlah keduanya.”

    Kemudian beliau ﷺ bersabda:
    “Apabila salah seorang di antara kalian datang pada hari Jumat, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia salat dua rakaat, dan hendaklah ia meringankan keduanya.” [Shams al-Dīn Muḥammad ibn Aḥmad al-Khaṭīb al-Syarbīnī al-Syāfi‘ī, Mughnī al-Muḥtāj ilā Ma‘rifat Ma‘ānī Alfāẓ al-Minhāj, juz 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1415 H/1994 M), h. 553-554.]

    Baca juga: Zakat Pertanian: Bolehkah dari Gabah? Ini Batas Nishabnya!

    Tata cara salat sunahnya

    Salat tersebut dapat ia gabung dengan salat sunah jumat atau salat qadla dua rakaat, namun harus ia laksanakan dalam durasi yang singkat, yakni sebatas melakukan rukun-rukun salat saja. Keterangan ini sebagaimana yang berada dalam kitab Nihayah al-Muhtaj dan Fath al-Mu’in.

    Baca juga: Meninggalkan Salat Jumat Tiga Kali, Benarkah Murtad?

    Dalil salatnya harus dengan durasi singkat

    وَكُرِهَ لِدَاخِلٍ تَحِيَّةٌ فَوَّتَتْ تَكْبِيرَةَ الْإِحْرَامِ إِنْ صَلَّاهَا، إِلَّا فَلَا تُكْرَهُ بَلْ تُسَنُّ، لَكِنْ يَلْزَمُهُ تَخْفِيفُهَا بِأَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى الْوَاجِبَاتِ كَمَا قَالَهُ شَيْخُنَا.”

    “Makruh bagi orang yang masuk masjid untuk melaksanakan salat tahiyyat al-masjid apabila pelaksanaannya menyebabkan ia terluput dari takbiratul ihram bersama imam. Namun, jika tidak (sampai terluput), maka salat itu tidak makruh, bahkan sunah. Hanya saja, ia wajib meringankannya dengan cukup melaksanakan kewajiban-kewajibannya saja, sebagaimana keterangan dari guru kami.” [Zayn al-Dīn Aḥmad ibn ‘Abd al-‘Azīz ibn Zayn al-Dīn ibn ‘Alī ibn Aḥmad al-Ma‘barī al-Malībārī al-Hindī, Fatḥ al-Mu‘īn bi-Syarḥ Qurrat al-‘Ayn bi-Muhimmāt al-Dīn (Beirut: Dār Ibn Ḥazm, cet. 1), h. 209.]

    Baca juga: Hati-Hati Menulis Lafadz Suci di Undangan!

    Tetap berdiri menunggu khutbah selesai

    Adapun jika dengan melaksanakan salat dua rakaat ia akan tertinggal takbiratul ihramnya imam, maka hendaknya ia tetap berdiri menunggu khutbah selesai dan tidak dianjurkan melaksanakan salat sunah. Hal ini sebagaimana keterangan Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’:

    وَإِنْ دَخَلَ وَالْإِمَامُ فِي آخِرِ الْخُطْبَةِ، وَغَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ إِنْ صَلَّى التَّحِيَّةَ فَاتَتْهُ تَكْبِيرَةُ الْإِحْرَامِ مَعَ الْإِمَامِ لَمْ يُصَلِّ التَّحِيَّةَ، بَلْ يَقِفُ حَتَّى تُقَامَ الصَّلَاةُ، وَلَا يَقْعُدْ لِئَلَّا يَكُونَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ قَبْلَ التَّحِيَّةِ، وَإِنْ أَمْكَنَهُ الصَّلَاةُ وَإِدْرَاكُ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ صَلَّى التَّحِيَّةَ.

    “Apabila seseorang masuk (masjid) sementara imam sudah berada pada akhir khutbah, dan ia berprasangka kuat bahwa jika ia melaksanakan salat tahiyyat al-masjid maka ia akan terluput dari takbiratul ihram bersama imam, maka ia tidak melaksanakan salat tahiyyat al-masjid. Akan tetapi ia berdiri hingga salat didirikan, dan janganlah ia duduk agar tidak menjadi orang yang duduk di masjid sebelum melaksanakan tahiyyat al-masjid. Namun jika memungkinkan baginya untuk melaksanakan salat (tahiyyat al-masjid) sekaligus masih mendapatkan takbiratul ihram bersama imam, maka hendaklah ia melaksanakan salat tahiyyat al-masjid.” [Abū Zakariyyā Muḥyī al-Dīn Yaḥyā ibn Syaraf al-Nawawī, al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, juz 4 (Beirut: Dār al-Fikr, t.t.), h. 551.]

    Baca juga: Refleksi: Fenomena Konten S-Line

    Bagi jamaah yang di luar masjid

    Sedangkan bagi jamaah jumat yang berada di luar masjid—saat khatib sudah naik ke mimbar—dilarang melaksanakan salat sunah dan diperkenankan untuk langsung duduk menunggu khutbah selesai. [Shams al-Dīn Muḥammad ibn Abī al-‘Abbās Aḥmad ibn Ḥamzah Syihāb al-Dīn al-Ramlī, Nihāyat al-Muḥtāj ilā Syarḥ al-Minhāj, juz 2 (Beirut: Dār al-Fikr, cet. terakhir, 1404 H/1984 M), h. 314.]

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo


    Komentar
    Additional JS