0
News
    Home Akhlaq Featured Spesial

    Islam Mengajarkan Umatnya untuk Soft Spoken - Lirboyo ne5

    6 min read

     

    Islam Mengajarkan Umatnya untuk Soft Spoken

    Dalam dunia yang semakin gaduh oleh debat dan kebisingan opini, Islam justru hadir membawa ajaran yang menyejukkan: lemah lembut dalam bertutur kata. Sikap soft spoken bukan hanya etika sosial, melainkan refleksi dari kedalaman iman dan keluasan akhlak yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

    Ketika al-Qur’an Menyarankan untuk Soft Spoken

    Tanpa kita ketahui lebih dalam, diam-diam Allah pernah memerintahkan kita secara tersirat untuk selalu soft spoken. Dalam al-Qur’an, Allah pernah berfirman:

    “فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا”

    Artinya: Katakanlah kepadanya (Firaun) dengan perkataan yang lembut. QS. Thaha: 44

    Ayat ini adalah perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam agar menyampaikan dakwah kepada Firaun -seorang penguasa zalim yang mengaku sebagai tuhan- dengan perkataan yang lembut.

    Tafsir klasik menyingkap keindahan makna ini. Dalam Tafsir al-Baghawi, Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mahmud al-Baghawi meriwayatkan bahwa ketika ayat tersebut dibacakan di hadapan Yahya bin Mu‘adz, beliau menangis dan berkata:

    “Ya Allah… jika ini kelembutan-Mu kepada orang yang berkata ‘aku adalah tuhan’, maka bagaimana kelembutan-Mu kepada orang yang berkata ‘Engkaulah Tuhanku’?”

    Sebuah ungkapan yang menggugah hati. Yahya bin Mu’adz menyadarkan kita bahwa kelembutan dalam berbicara bukan hanya untuk menjaga adab, tapi juga mencerminkan rahmat Allah yang luas terhadap hamba-Nya, bahkan terhadap yang paling durhaka sekalipun.

    Baca juga: Tanda-tanda Orang Beruntung.

    Rasulullah ﷺ, Teladan Lembut dalam Perkataan

    Imam al-Bukhari pernah meriwayatkan perihal Anas bin Malik, seorang pelayan Nabi selama sepuluh tahun:

    حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: خَدَمْتُ النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي: أُفٍّ، قَطُّ، وَمَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا كُنْتَ فَعَلْتَهُ؟ وَلَا لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَهُ؟
    صحيح

    “Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Tidak pernah beliau berkata ‘ah’ padaku, tidak pernah berkata atas sesuatu yang aku lakukan: ‘Mengapa kamu melakukannya?’ dan tidak pula berkata atas sesuatu yang belum aku kerjakan: ‘Mengapa kamu tidak melakukannya?’”
    (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

    Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling soft spoken. Ucapannya tidak pernah menyakitkan, tidak pernah menghina, dan selalu mengandung makna kasih sayang. Bahkan ketika menegur, beliau memilih kata yang halus, sebab beliau tahu: kebenaran akan sampai lebih mudah jika dibungkus dengan kelembutan.

    Di kesempatan lain, Nabi Muhammad pernah menpredikatkan ciri-ciri orang mukmin dengan:

    لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللِّعَانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ

    Artinya: Orang mukmin bukanlah orang yang sering mencela, sering melaknat, bukan orang yang keji dan bukan orang yang bertutur kata kotor.

    Baca juga: Khutbah Jum’at Dzulqa’dah Adalah Bulan yang Mulia

    Kata-Kata Baik adalah Sedekah

    Dalam sabda beliau yang agung:

    الكلمة الطيبة صدقة


    “Perkataan yang baik adalah sedekah.”
    (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    Betapa tinggi nilai tutur kata dalam Islam. Satu ucapan lembut dan baik dapat menjadi amal yang bernilai pahala, menjadi sebab lunaknya hati orang lain, bahkan bisa menjadi awal dari sebuah hidayah.

    Allah itu Rafiq dan Mencintai Kelembutan

    Dalam Riyadh as-Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan hadits:

    “إنَّ اللهَ رفيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّه”


    “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.”
    (Muttafaq ‘alaih)

    Dalam Islam, kelembutan bukan hanya sunnah, tapi juga cerminan dari sifat Tuhan yang harus dicontoh oleh hamba-Nya. Maka dari itu, berbicara dengan lemah lembut bukanlah pilihan, melainkan jalan hidup seorang muslim yang ingin meraih ridha-Nya.

    Refleksi untuk Kita Bersama

    Jika Nabi Musa dan Nabi Harun mampu berkata lembut kepada Fir’aun yang zalim,
    Jika Nabi Muhammad ﷺ selalu ramah dalam berucap kepada pembantunya,
    Jika para ulama menangis hanya karena mendengar perintah kelembutan,
    Maka kita pun mestinya merasa malu untuk berkata kasar kepada siapa pun.

    Kesimpulan: Lisan yang Lembut adalah Jalan Menuju Kedamaian

    Menjadi soft spoken bukan berarti menahan kebenaran. Tapi itu berarti menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling rahmah, paling berakhlak, dan paling bijak.
    Karena dalam Islam, bukan hanya apa yang kita sampaikan yang penting, tapi bagaimana kita menyampaikannya itulah yang menentukan keberkahan dan penerimaannya.

    Mari kita belajar berkata lembut. Karena bisa jadi, satu kata lembutmu adalah sebab seseorang berubah menuju jalan Allah.

     Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo


    Komentar
    Additional JS