0
News
    Home Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Kebaikan Seseorang akan Nampak Usai Wafat - Tebuireng Online

    8 min read

     

    Kebaikan Seseorang akan Nampak Usai Wafat


    Santri Tebuireng saat shalat berjamaah di masjid Pesantren Tebuireng. (foto: irsyad-TO)

    Khutbah disampaikan oleh: Dr. H. Mohamad Anang Firdaus*

    اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه وخَلِيْلُه وصَفِيُّه بَلغُ الرِسِالَة وأدى الأمَانَة ونصح الأُمَّة وكَشَف الله به الغُمّة

    اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

    يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    Jamaah Jum’at Rahimakumullah

    Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan cara imtisal awamirillah (melaksanakan perintah-Nya) serta ijtinab al-nawahi (menjauhi larangan-Nya). Karena takwa ini menjadi wasiat yang bersifat mingguan yang diserukan oleh para khatib. Sehingga semoga kita menjadi hamba Allah yang muflihin yakni seorang hamba yang berkedudukan lebih baik setiap harinya (yaumuhu khairun min al-ams).  

    Baca Juga: Begini Sejarah Natal yang Sebenarnya, Sekaligus Cara Menyikapinya

    Baru-baru ini kita memperingati Haul guru kita semua KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) beserta dengan segenap masyayikh Tebuireng. Banyak cerita dari para masyarakat, tokoh, ulama, ataupun negarawan yang mengakui bagaimana Gus Dur meninggalkan legasi yang sangat penting bagi bangsa ini. Namanya masih harum mewangi, pikirannya masih dikaji, ditulis dalam buku dan disertasi. Dan bentuk terakhir penghargaan negara ini kepadanya adalah memberinya gelar kepahlawanan. Prestasi seseorang yang diakui setelah kewafatannya memiliki bahasa yang kuat dengan bahasa Al-Qur’an dalam surah Al-Syu’ara’: 84

    Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

    وَٱجْعَل لِّى لِسَانَ صِدْقٍۢ فِى ٱلْـَٔاخِرِينَ

    “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.”

    Baca Juga: 5 Petunjuk yang Harus Dilalui oleh Setiap Manusia

    Imam Mutawalli Al-Sya’rawi mengomentari makna lisana sidqin dengan kalimat atrukuhu atsaran thayyiban yadzkuru ba’di, yakni seseorang yang meninggalkan sesuatu yang berharga sehingga banyak yang mengenang dan menghargai tinggalan tersebut. Ayat ini adalah doa Nabi Ibrahim yang dipanjatkan kepada Allah, lantas Allah mengijabahnya. Sehingga kemudian amalan-amalan nabi Ibrahim dijadikan oleh Allah sebagai manasik dalam Haji. Beberapa doanya pun juga diikuti, dan agama Islam itu sendiri dibangun di atas millata ibrahima hanifa.

    Karena peninggalan yang sangat berharga tersebut beliau lantas dijadikan rebutan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Mereka saling berlomba berebut nisbat kepada nabi Ibrahim, orang Yahudi bilang bahwa nabi Ibrahim adalah Yahudi, sementara orang Nasrani bilang bahwa nabi Ibrahim adalah Nasrani. Lantas Allah membantah itu semua wa ma kana ibrahimu yahudiyyan wa la nasraniyyan walakin kana hanifan musliman, wama kana minal musyrikin (Nabi Ibrahim bukanlah seorang Yahudi atau Nasrani, melainkan seorang hanif). Hingga akhirnya kita semua berangkat dari millata ibrahima ini meniti jalan syariat Islam.

    Jamaah Jum’at Rahimakumullah

    Wafat (الوَفَاة) secara bahasa memiliki derivasi makna dengan al-wafa’ (الوَفَاء), artinya adalah istifa’ al-syai’ sesuatu yang telah telah lengkap. Artinya Allah telah mengambil jatah umur seseorang secara lengkap atau penuh. Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang wafat ada banyak sekali. Namun, muaranya ada pada tiga makna utama, pertama, tawaffi al-naum (tidur). Sebagaimana firman Allah:

    وَهُوَ ٱلَّذِى يَتَوَفَّىٰكُم بِٱلَّيْلِ

    “Dialah zat yang mewafatkanmu (menidurkanmu) di malam hari.” (Al-An’am: 60)

    Baca Juga: Hidup Selalu Berubah, Tetapi Bekalnya Tetaplah Takwa

    Oleh karena itu, tidur oleh sebagian ulama’ dianggap sebagai al-maut al-ashgar (mati kecil). Sebagaimana kita tahu bahwa nabi Muhammad mengingatkan agar orang yang hendak tidur itu untuk wudhu lantas berbaring menghadap kiblat. Dan ketika bangun tidur doa yang diajarkan kepada kita semua adalah alhamdulillah alladzi ahyana ba’da ma amatana. Dari sini kita tahu bahwa Allah mendesain kita untuk selalu mengingat kematian. Kita dilatih oleh Allah untuk menghadapi kematian setiap hari. Dan siapa yang menolak latihan mati ini, maka metabolisme tubuhnya akan tidak seimbang.

    Makna yang kedua adalah dicabut dari bumi. Seperti yang difirmankan oleh Allah:

    إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (55)

    “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.”

    Mutawaffika bukanlah berarti Allah mewafatkan nabi Isa. Akan tetapi maknanya adalah membawanya dari bumi dan dipindah ke langit. Sedangkan makna yang ketiga adalah wafat yang berarti pisahnya ruh dari raga seorang manusia. Sebagaimana dalam ayat:

    اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا

    “Allah memegang/mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya.” (Al-Zumar 42)

    Baca Juga: Jika Tak Bisa Mengukir Kebahagiaan Orang Lain, Jangan Sampai Menghapusnya

    Menurut tafsir Al-Thabari nabi Isa mengalami jenis wafat yang pertama dan kedua sekaligus. Yakni ketika Allah mengangkat nabi Isa dari bumi ke langit, nabi Isa berada dalam kondisi tidur. Dan dibangunkan ketika sampai di langit. Hal ini berbeda dengan keadaan nabi Muhammad yang sedang terjaga ketika diangkat oleh Allah ke langit saat mi’raj. Keduanya, nabi Isa dan Muhammad sama-sama diangkat ke langit, lantas mengapa cara Allah mengangkat bisa berbeda? Tentu nabi Isa diangkat oleh Allah dalam rangka evakuasi dari pada pembunuhan dan penyaliban orang kafir (Romawi). Sedangkan nabi Muhammad tujuan diangkatnya adalah untuk memuliakan dan mengagungkannya agar teguh keimanannya.

    Maka dari sini para ulama menyimpulkan di samping pembahasan nabi Isa yang terus berulang setiap tahun—entah seputar hari Natal, hukum mengucapkan selamat Natal, atau kontroversi hari lahir nabi Isa—merupakan bentuk keunggulan nabi Muhammad berbanding nabi Isa. Dari sini kita juga tentu sadar bahwa kita tidak akan bisa seperti nabi Isa yang ketika mengalami problematika dalam hidup kita lantas kita meminta kepada Allah untuk diangkat ke langit. Dan kita pula tidak bisa menjadi seperti nabi Muhammad yang karena Allah ingin menunjukkan kuasa-Nya lantas Allah angkat ke sidratul muntaha. Maka Allah menurunkan hamba-hambanya untuk menjadi ayatih al-‘udzmah salah satunya adalah para hamba-Nya yang saleh. Salah satunya yakni KH. Abdurrahman Wahid.

    Beliau telah menciptakan perdaimaian, mengukuhkan ke-Bhineka-an, dan melindungi para minoritas, sehingga kerukunan beragama atas semua makhluk-Nya bisa terwujud. Hingga benarlah al-ismu ka al-musamma, nama Abdurrahman yang berarti hamba zat yang Maha Kasih benar-benar berwujud dalam diri seorang Gus Dur. Oleh karena itu, harusnya kita sebagaimana pengikut para ulama’ bisa membuka mata selebar-lebarnya, bagaimana legasi baik yang mereka tinggalkan seusai wafat. Dan itu harus menjadi teladan dalam hidup kita.

    Baca Juga: Santri Harus Menjaga Hubungannya dengan Guru dan Orang Tuanya

    Hadratussyaikh seringkali mengulang dalam khutbah muktamarnya al-ulama’ umana’ allah ‘ala ‘ibadih, al-ulama’ hujjah allah ‘ala al-‘awwam kita sebagai orang awam sudah selayaknya dapat melihat bagaimana para pendahulu kita bisa menutup hidupnya dengan manis, dengan ridha Allah dan ridha para manusia.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Pentranskip: Yuniar Indra
    Editor: Rara Zarary


    Komentar
    Additional JS