Keberkahan Sahur di Bulan Ramadhan sebagai Sunnah Penuh Pahala dan Penguat Ibadah Puasa - NU Online
Keberkahan Sahur di Bulan Ramadhan sebagai Sunnah Penuh Pahala dan Penguat Ibadah Puasa
Sahur merupakan salah satu anugerah yang Allah berikan kepada umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Aktivitas ini bukan sekadar makan dan minum untuk mengisi energi sebelum menahan lapar dan dahaga seharian, melainkan juga bentuk nyata menghidupkan sunnah Rasulullah SAW.
Melalui sahur, seorang Muslim tidak hanya mempersiapkan kekuatan fisik, tetapi juga meneguhkan komitmen spiritual dalam menjalankan ibadah puasa. Rasulullah SAW bahkan memberikan penekanan khusus agar umatnya tidak meninggalkan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan.
Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
تَسَخَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
Artinya: "Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari Muslim).
Hadits tersebut menunjukkan bahwa sahur memiliki dimensi ibadah yang sangat kuat. Keberkahan yang disebutkan Rasulullah SAW bukan sekadar simbolik, melainkan memiliki makna yang luas, baik dari sisi fisik maupun spiritual.
Mengenai makna keberkahan dalam sahur, Syekh Hasan al-Masyath dalam kitab Is'afu Ahlil Iman bi Wadza'ifi Syahri Ramadhan menjelaskan:
وَفِي مَعْنَى كَوْنِهِ بَرَكَةً وُجُوهُ، مِنْهَا أَنْ يُبَارَكَ فِي الْقَلِيلِ مِنْهُ بِحَيْثُ يَحْصُلُ بِهِ الْإِعَانَةُ عَلَى الصَّوْمِ. وَمِنْهَا أَنَّ الْمُرَادَ بِالْبَرَكَةِ نَفْيُ التَّبِعَةِ وَالْمُحَاسَبَةِ. وَمِنْهَا أَنَّ الْمُرَادَ التَّقَوِّي عَلَى الصِّيَامِ وَغَيْرِهِ مِنْ أَعْمَالِ النَّهَارِ. وَمِنْهَا أَنَّ الْمُرَادَ بِالْبَرَكَةِ الْأُمُورُ الْأُخْرَوِيَّةُ، فَإِنَّ إِقَامَةَ السُّنَّةِ تُوجِبُ الْأَجْرَ وَالزَّيَادَةَ
Artinya: "Mengenai makna bahwa sahur itu mengandung keberkahan, terdapat beberapa sudut pandang (penjelasan), di antaranya: 1) diberikannya keberkahan pada makanan yang sedikit, sehingga makanan tersebut cukup untuk membantu seseorang dalam menjalankan ibadah puasa; 2) ditiadakannya konsekuensi dosa (tabi'ah) dan hisab (pertanggungjawaban yang memberatkan) atas apa yang dimakan saat sahur; 3) memberikan kekuatan fisik untuk menjalankan puasa serta amal-amal siang hari lainnya; 4) perkara-perkara ukhrawi (akhirat); karena menjalankan sunnah akan mendatangkan pahala dan tambahan kebaikan." (Is'afu Ahlil Iman bi Wadza'ifi Syahri Ramadhan, hal. 60-61).
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa keberkahan sahur memiliki beberapa dimensi penting. Pertama, makanan sahur yang meskipun sedikit tetap dapat memberikan kekuatan yang cukup untuk menjalankan puasa. Kedua, tidak adanya konsekuensi dosa atau hisab atas makanan yang dikonsumsi saat sahur.
Ketiga, sahur menjadi sumber energi untuk menjalankan berbagai amal di siang hari. Keempat, sahur mengandung nilai ukhrawi karena termasuk dalam menjalankan sunnah, yang tentu mendatangkan pahala dan tambahan kebaikan.
Sahur dengan demikian menjadi titik temu antara kebutuhan jasmani dan peningkatan spiritualitas. Di balik aktivitas makan di waktu dini hari, terdapat makna yang lebih dalam. Seorang Muslim tidak sekadar mengonsumsi nutrisi, tetapi juga sedang menghidupkan sunnah dan menjemput keberkahan Ilahi.
Momentum sahur juga berlangsung pada waktu yang mustajab untuk berdoa. Fase dini hari dikenal sebagai waktu penuh rahmat, sehingga sahur menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, sahur tidak boleh dipandang sebagai rutinitas semata, melainkan sebagai sunnah penuh pahala yang menguatkan ibadah puasa sekaligus memperkokoh hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Tulisan ini dikutip dari artikel karya Muhammad Ryan Romadhon sebagaimana dimuat di NU Online.