0
News
    Home Aceh Berita Featured Kenduri Jeurat Romadhon Spesial Tradisi Ziarah Ziaroh

    Kenduri Jeurat, Tradisi Ziarah dan Perjamuan Menyambut Ramadhan di Aceh - NU Online

    4 min read

     

    Kenduri Jeurat, Tradisi Ziarah dan Perjamuan Menyambut Ramadhan di Aceh

    Bireuen, NU Online
    Menjelang Ramadhan, masyarakat Aceh memiliki satu tradisi religius yang terus dijaga lintas generasi, yakni kenduri jeurat. Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan spiritual menyambut bulan suci, yang pelaksanaannya dilakukan dengan berziarah ke makam keluarga, memanjatkan doa bersama, serta membawa hidangan sederhana sebagai bentuk kebersamaan.

     

    Secara bahasa, “kenduri” berarti perjamuan makan untuk memperingati suatu peristiwa atau memohon keberkahan. Sementara "jeurat” dalam Bahasa Aceh berarti kuburan atau makam. Dari pengertian tersebut, kenduri jeurat dimaknai sebagai kegiatan makan bersama di area pemakaman, disertai doa untuk sanak keluarga yang telah meninggal dunia.

     

    Tradisi ini lazim dilakukan menjelang Ramadan, Idul Fitri, maupun Idul Adha. Namun, suasananya terasa lebih kuat ketika menyambut Ramadan. Sejumlah keluarga berbondong-bondong mendatangi makam orang tua, kakek-nenek, maupun kerabat dekat. Di antara deretan nisan, lantunan doa dipanjatkan dengan khusyuk, memohon ampunan dan rahmat bagi mereka yang telah lebih dahulu berpulang.


    Suasana makam yang hening menghadirkan ruang perenungan. Di tempat itu, manusia diingatkan pada kefanaan hidup, bahwa setiap yang bernyawa akan kembali kepada Allah Swt. Momentum ini menjadi sarana membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci, agar Ramadan dijalani dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam.

     

    Pakar sosial agama Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Tgk. Iswadi, menilai kenduri jeurat tidak sekadar praktik budaya, tetapi memiliki dimensi teologis dan sosial yang kuat. Menurutnya, tradisi ini selaras dengan ajaran Islam tentang anjuran ziarah kubur untuk mengingat kematian dan mendoakan orang yang telah wafat.

     

    “Kenduri jeurat bukan ritual yang berdiri sendiri, melainkan bentuk ekspresi keagamaan masyarakat Aceh yang memadukan nilai syariat dan budaya. Ada unsur doa, ada sedekah makanan, ada silaturahmi keluarga. Semua itu memperkuat kesiapan spiritual menjelang Ramadan,” ujarnya. Sabtu, (14/2/2026) 

     

    Ia menjelaskan, selama tidak mengandung unsur keyakinan yang menyimpang, tradisi ini dapat dipahami sebagai bagian dari ‘urf (kebiasaan) yang baik dalam Islam. Bahkan, momen berkumpul di makam sering kali menjadi sarana mempererat hubungan keluarga yang mungkin jarang bertemu di hari-hari biasa.

     

    Pimpinan Dayah MADAH Bireuen itu menambahkan dalam konteks persiapan Ramadan, kenduri jeurat menjadi tahap awal pembersihan hati. Doa-doa yang dipanjatkan di pusara keluarga menghadirkan kesadaran bahwa hidup bersifat sementara. Kesadaran itu mendorong seseorang untuk memperbaiki amal, memperbanyak istighfar, serta menata niat sebelum memasuki bulan penuh ampunan.. 


    "Nilai penting kenduri jeurat dapat dilihat dari beberapa aspek. Secara spiritual, tradisi ini mengandung doa untuk arwah keluarga, pengingat akan kematian, dan persiapan batin menyambut Ramadan. Dari sisi sosial, ia mempererat silaturahmi serta membangun kebersamaan antaranggota keluarga. Dari sisi budaya, kenduri jeurat merupakan warisan turun-temurun yang menjadi identitas religius masyarakat Aceh."paparnya.

     

    Hal senada disampaikan oleh pengamat komunikasi sosial masyarakat sekaligus dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk. Muhammad Aminullah. Ia melihat kenduri jeurat sebagai ruang komunikasi simbolik antara generasi yang masih hidup dengan warisan nilai dari generasi terdahulu.

     

    “Dalam perspektif komunikasi sosial, kenduri jeurat menghadirkan narasi kolektif tentang asal-usul keluarga, perjuangan orang tua, dan nilai-nilai hidup yang diwariskan. Anak-anak yang ikut dalam tradisi ini belajar tentang akar identitasnya,” jelasnya.

     

    Menurut Aminullah, tradisi tersebut juga berfungsi memperkuat kohesi sosial. Ketika keluarga besar berkumpul, terjadi interaksi yang membangun solidaritas dan empati. Makanan yang dibawa dan dibagikan menjadi simbol berbagi rezeki, sekaligus mempererat rasa kebersamaan.

     

    Kenduri jeurat juga mencerminkan karakter masyarakat Aceh yang religius dan komunal. Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi ini tetap bertahan karena memiliki makna yang relevan dengan kebutuhan batin masyarakat. Ia menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar ritual puasa, melainkan momentum pembaruan diri.


    Pakar Alamtologi itu menjelaskan di antara doa, kenangan, dan kebersamaan itu, masyarakat Aceh menyambut Ramadan dengan hati yang tertaut pada keluarga—baik yang masih hidup maupun yang telah berpulang. Kenduri jeurat bukan sekadar perjamuan di area makam, melainkan perjumpaan batin antara masa lalu dan masa kini, antara dunia yang fana dan kesadaran menuju akhirat.

     

    "Tradisi ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan masyarakat Aceh, agama dan budaya tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya berpadu dalam praktik sosial yang sarat makna. Melalui kenduri jeurat, Ramadan disambut bukan hanya dengan persiapan fisik, tetapi juga dengan keteduhan hati dan penguatan ikatan kekeluargaan., "lanjutnya

     

    Lebih lanjut, ia menyebutkan kenduri jeurat tetap relevan sebagai bagian dari dinamika keberagamaan masyarakat Aceh. Ia menjadi jembatan antara nilai spiritual, solidaritas sosial, dan pelestarian budaya—sebuah tradisi yang hidup di tengah perubahan zaman, namun tetap berakar pada keyakinan dan kebersamaan.


    Komentar
    Additional JS