0
News
    Home Akhlaq Featured Ilmu Pengetahuan Spesial

    KH. Nurul Huda Ahmad: Kunci Mendapatkan Ilmu - Lirboyo net

    4 min read

     

    KH. Nurul Huda Ahmad: Kunci Mendapatkan Ilmu

    kunci ilmu

    Ada satu pertanyaan klasik yang sering muncul ketika membandingkan santri masa kini dengan santri masa lampau: mengapa santri dulu, meskipun tidak belajar banyak kitab seperti sekarang, justru lebih “ampuh”? Lebih tekun, lebih mapan batinnya, dan dan memiliki ilmu yang lebih membekas.

    Baca juga: Refleksi Kejujuran Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Pesan KH. Abdulloh Kafabihi

    KH. Nurul Huda Ahmad memberikan jawabannya dengan sangat jernih. Menurut beliau, kualitas santri zaman dulu tidak dapat kita tentukan dengan banyaknya kitab yang dia kaji, tetapi oleh kekuatan batin dan kedisiplinan mereka dalam ibadah malam. Beliau menyampaikan:

    “Santri-santri dulu itu kebanyakan paling tinggi belajarnya sampai kitab Amriti (kitab nahwu tingkat dasar-menegah). Namun begitu, mengapa kok bisa Ampuh-ampuh? Karena dibarengi dengan ikhtiar-ikhtiar semacam tahajud dan semacamnya.”

    Baca juga: KH. Ahmad Haris Shodaqoh: Melestarikan Tradisi, Mengoreksi yang Perlu Dikoreksi

    Dari dawuh ini kita belajar bahwa ilmu itu bukan sekadar urusan akal, tetapi urusan hati. Jumlah kitab yang kita pelajari boleh sedikit, tetapi kualitas ruhani menjadi bahan bakar yang membuatnya hidup dan menancap dalam kehidupan seseorang. Itulah yang membuat santri dulu kuat: malamnya tahajud, siangnya ngaji. Hatinya mudah menangkap cahaya keilmuan karena terbiasa dibersihkan.

    Ilmu Akan Bertambah Ketika Kita Amalkan

    KH. Nurul Huda juga menekankan bahwa keilmuan kita tidak boleh berhenti di kepala. Ia harus kita amalkan. Karena ketika kita amalkan, Allah membuka pintu ilmu berikutnya. Beliau menuturkan:

    “Apa bila kita mau mengamalkan ilmu yang kita dapat, maka Insyaallah Allah akan memberikan ilmu lain yang belum kita ketahui.”

    Adab: Pondasi yang Tidak Boleh Retak

    Selain kekuatan batin dan amal ilmu, para kiai selalu menekankan pentingnya adab. Adab adalah “wadah” yang menentukan apakah ilmu bisa menetap atau justru hilang. KH. Nurul Huda mengingatkan tentang prinsip luhur yang dipegang para santri Jawa:

    “Hendaknya seorang santri itu harus bisa memegang prinsip ‘Mikul duwur mendem jero’ artinya kita bisa menjaga martabat guru serta pesantren dan menyimpan serapat-rapatnya jika terdapat kekurangan.”

    Baca juga: KH. An’im Falahuddin Mahrus: Santri adalah Aset Berharga Bangsa

    Prinsip ini adalah mutiara akhlak. Mikul duwur mendem jero berarti mengangkat tinggi kehormatan guru, dan menyimpan rapat kekurangannya. Santri yang menjaga adab biasanya ilmunya lebih mudah masuk, lebih mudah melekat, dan lebih mudah membawa manfaat.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo


    Komentar
    Additional JS