Khutbah Jumat: Bulan Sya’ban Sebagai Periode Pelatihan Seorang Muslim - NU Online
Sya’ban adalah gerbang terakhir sebelum kita memasuki istana megah bernama Ramadhan. Namun, sangat disayangkan, banyak di antara kita yang melewati bulan ini begitu saja tanpa makna, seolah-olah ia hanyalah bulan transisi biasa. Khutbah Jumat kali ini mengangkat judul: “Bulan Sya’ban Sebagai Periode Pelatihan Seorang Muslim”. Semoga bermanfaat!
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الزَّمَانَ مَوَاقِيْتَ لِلْأَعْمَالِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُورِ عَلَى بَعْضٍ بِالْفَضْلِ وَالْإِجْلَالِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَزِيْلَةِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى آلَائِهِ الْكَثِيْرَةِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمَلِكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، شَهَادَةً تَنْفَعُ قَائِلَهَا يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ صَامَ وَصَلَّى وَتَقَرَّبَ إِلَى مَوْلَاهُ بِصَالِحِ الْأَعْمَالِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ الزَّادُ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَهِيَ النَّجَاةُ مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ” (الحشر: (18
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah SWT yang hingga detik ini masih memberikan kita hembusan nafas, kekuatan iman, dan kesehatan lahir batin, sehingga kita bisa melangkahkan kaki menuju rumah-Nya yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada sebaik-baik teladan, Nabi Muhammad saw.
Saat ini, kita berada di bulan Sya’ban. Sebuah bulan yang secara bahasa berasal dari kata syi’ab yang berarti jalan di atas gunung atau jalan kebaikan. Sya’ban adalah gerbang terakhir sebelum kita memasuki istana megah bernama Ramadhan. Namun, sangat disayangkan, banyak di antara kita yang melewati bulan ini begitu saja tanpa makna, seolah-olah ia hanyalah bulan transisi biasa.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Mengapa Sya’ban begitu penting? Mengapa Rasulullah saw. memberikan perhatian ekstra pada bulan ini? Ada tiga alasan fundamental yang perlu kita renungkan:
Bulan Kelalaian yang Menipu (Al-Ghaflah) Rasulullah saw. bersabda dalam hadits riwayat Imam An-Nasa’i:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ
Artinya: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya, antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan.”
Manusia cenderung bersemangat di bulan Rajab karena ia termasuk asyhurul hurum (bulan haram), dan mereka sangat antusias saat Ramadhan tiba. Namun, di antara keduanya ada Sya’ban yang sering terlupakan. Padahal, para ulama mengatakan bahwa ibadah yang dilakukan di saat orang lain sedang lalai adalah ibadah yang memiliki nilai paling tinggi di sisi Allah.
Itulah mengapa bangun di tengah malam (tahajud) lebih utama karena saat itu manusia sedang tidur lalai. Maka, menghidupkan Sya’ban dengan ketaatan adalah bukti kejujuran iman seorang hamba.
Momentum Audit Tahunan (Raf’ul A’mal)
Sya’ban adalah waktu di mana laporan amal setahun kita diangkat ke langit. Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya:
وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Dan ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Tuhan semesta alam. Maka aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa.”
Bayangkan jika hari ini “buku raport” kehidupan kita sedang diserahkan kepada Allah. Apakah kita ingin laporan itu sampai saat kita sedang bermaksiat? Atau saat kita sedang menggunjing orang lain? Tentu kita ingin laporan itu sampai saat kita dalam keadaan suci, bersujud, atau sedang menahan lapar dan dahaga karena Allah.
Latihan Fisik dan Mental Menuju Ramadhan
Sya’ban adalah masa warming up atau pemanasan. Tidak mungkin seseorang bisa berlari maraton 30 hari penuh di bulan Ramadhan jika tidak pernah berlatih di bulan Sya’ban. Para ulama salaf seperti Abu Bakar Al-Balkhi memberikan perumpamaan yang sangat indah:
شَهْرُ رجبَ شهر لِلزَّرْع وشَعْبان شهر السَّقْي للزَّرْع ورمضانُ شهر حَصادُ الزرعِ
Bulan Rajab adalah waktu untuk menanam benih (taubat). Bulan Sya’ban adalah waktu untuk menyiram tanaman (istiqamah dan menambah ibadah).
Bulan Ramadhan adalah waktu untuk memanen hasilnya (pahala dan ampunan). Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab, dan tidak menyiram di bulan Sya’ban, maka mustahil ia akan memanen di bulan Ramadhan. Orang yang tidak terbiasa puasa sunnah dan membaca Al-Qur’an di bulan Sya’ban, biasanya akan merasa sangat berat dan cepat lelah saat memasuki minggu pertama Ramadhan.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Di dalam bulan Sya’ban ini juga terdapat malam yang sangat istimewa, yaitu Lailatul Nisfu Sya’ban (malam pertengahan Sya’ban). Dalam hadits shahih riwayat Ibnu Hibban, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah Swt. turun (dengan rahmat-Nya) untuk mengampuni dosa seluruh makhluk-Nya, kecuali dua golongan:
- Al-Musyrik: Orang yang menyekutukan Allah.
- Al-Musyahin: Orang yang menyimpan kebencian, permusuhan, dan dendam kepada sesama saudaranya.
Ini adalah teguran keras bagi kita. Shalat kita mungkin rajin, puasa kita mungkin lancar, namun jika hati kita masih kotor oleh dendam, jika hubungan kita dengan tetangga, kerabat, atau orang tua masih terputus, maka rahmat Allah di malam Nisfu Sya’ban akan terhalang untuk kita.
Oleh karena itu, marilah di sisa hari bulan Sya’ban ini, kita lakukan tiga hal:
- Perbanyak Puasa Sunnah: Sebagaimana Aisyah ra. menceritakan bahwa beliau tidak melihat Rasulullah saw. paling banyak puasa sunnahnya kecuali di bulan Sya’ban.
- Akratkan Diri dengan Al-Qur’an: Para ulama menyebut Sya’ban sebagai Syahrul Qurra’ (Bulan para pembaca Al-Qur’an).
- Bertaubat dan Meminta Maaf: Bersihkan hubungan dengan Allah melalui istighfar, dan bersihkan hubungan dengan sesama manusia melalui silaturahmi dan permohonan maaf.
Semoga Allah SWT. memberikan kita kekuatan untuk memaksimalkan bulan Sya’ban ini, sehingga kita benar-benar siap menyambut tamu agung, bulan Ramadhan, dengan jiwa yang fitrah.
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ , بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَحِيْمِ . وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الدُّنْيَا دَارُ مَمَرٍّ وَالْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْمَقَرِّ، فَخُذُوا مِنْ مَمَرِّكُمْ لِمَقَرِّكُمْ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا. اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ فِي صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَطَاعَةٍ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ شَعْبَانَ شَهْرًا لِتَطْهِيْرِ قُلُوْبِنَا وَتَزْكِيَةِ نُفُوْسِنَا.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Ditulis oleh: Kiai Nasshif Ubbadah