Kota Gurun yang Melahirkan Para Penjaga Kalam Ilahi - Tebuireng
Kota Gurun yang Melahirkan Para Penjaga Kalam Ilahi
Ilustrasi kota kecil bernama Syinqith (sumber: merdekacom)
Di tengah hamparan luas Gurun Sahara, terdapat sebuah kota kecil bernama Syinqith, yang bagi sebagian orang mungkin terdengar asing, namun bagi dunia Islam memiliki makna yang begitu mendalam. Kota ini terletak di Mauritania, Afrika Barat, dan meski kini sebagian besar wilayahnya hampir terkubur oleh pasir gurun, Syinqith tetap dikenang sebagai pusat ilmu dan spiritualitas.
Sejak abad ke-13, kota ini menjadi persinggahan penting bagi para kafilah dagang dan jamaah haji dari Afrika Barat yang hendak menuju Makkah. Dari titik inilah Syinqith berkembang, bukan hanya sebagai tempat singgah, tetapi juga sebagai pusat pengajaran agama, terutama Al-Qur’an. UNESCO bahkan menetapkannya sebagai situs warisan dunia pada tahun 1996, menegaskan bahwa meski kecil dan terpencil, Syinqith menyimpan warisan peradaban yang tak ternilai.
Yang membuat Syinqith begitu istimewa bukanlah bangunan megah atau kekayaan materi, melainkan tradisi yang telah berakar selama berabad-abad: tradisi menghafal Al-Qur’an. Di kota ini, menghafal kitab suci bukanlah pilihan, melainkan bagian dari identitas sosial. Seorang anak yang tumbuh di Syinqith akan sejak dini diperkenalkan pada lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan, sebagian ibu membacakan ayat-ayat suci sejak masa kehamilan, dengan keyakinan bahwa suara Al-Qur’an akan meresap ke dalam jiwa sang bayi.
Baca Juga: Kisah Rasulullah Membangun Masjid Nabawi: Gotong Royong dan Pemanfaatan Tenaga Ahli
Setelah lahir, anak-anak terus diperdengarkan bacaan Al-Qur’an, hingga pada usia sekitar lima tahun mereka mulai belajar secara formal di ma’had tradisional. Media belajar yang digunakan sederhana: papan kayu yang disebut lauh, ditulisi ayat-ayat dengan tinta alami. Anak-anak menyalin ayat, membacanya berulang-ulang, lalu menghafalkannya. Setelah hafal, tulisan dihapus, diganti dengan ayat baru, dan proses itu terus berulang hingga tiga puluh juz tersimpan dalam ingatan.
Di banyak tempat, seorang anak yang hafal Al-Qur’an dianggap istimewa, namun di Syinqith hal itu adalah standar sosial. Konon, jika seorang anak berusia tujuh tahun belum hafal Al-Qur’an, keluarga akan merasa malu. Bagi masyarakat Syinqith, kegagalan mengantarkan anak menjadi hafiz adalah aib. Tekanan sosial ini bukanlah beban, melainkan dorongan kolektif. Semua orang, dari keluarga hingga tetangga, mendukung proses hafalan. Anak-anak tumbuh dalam atmosfer yang penuh dengan lantunan ayat suci. Di pasar, di rumah, bahkan di jalanan, suara bacaan Al-Qur’an terdengar di mana-mana. Tidak heran jika hampir setiap penduduk kota ini adalah penghafal Al-Qur’an.
Metode hafalan mereka pun unik. Anak-anak menulis sebelum menghafal, sehingga mereka belajar membaca, menulis, dan menghafal sekaligus. Hafalan dilakukan dengan lantang dan berulang-ulang, menciptakan suasana yang penuh gema ayat suci. Guru-guru di Syinqith dikenal tegas, memastikan hafalan sempurna tanpa kesalahan tajwid maupun makhraj. Lingkungan yang sederhana, tanpa distraksi modern, membuat anak-anak fokus sepenuhnya pada Al-Qur’an. Hasilnya, banyak hafiz dari Syinqith yang mampu melafalkan Al-Qur’an dengan ketepatan luar biasa, bahkan di usia sangat muda.
Karena tradisi ini, Syinqith mendapat julukan “Kota Seribu Hafiz” Para ulama dari berbagai belahan dunia menghormati kota ini. Banyak murid dari Afrika Barat, Timur Tengah, hingga Asia datang untuk belajar. Syinqith menjadi simbol bahwa kekuatan iman dapat melampaui keterbatasan materi. Bahkan, ada ungkapan dari seorang ulama besar Syinqith: “Jika engkau ingin melihat Al-Qur’an berjalan di muka bumi, datanglah ke kota kami.” Ungkapan ini menggambarkan betapa eratnya masyarakat Syinqith dengan kitab suci mereka. Namun, meski tradisi ini masih bertahan, Syinqith menghadapi tantangan besar. Gurun yang terus meluas mengancam keberadaan kota.
Baca Juga: Strategi Jenius Khalid bin Walid di Perang Dzatus Salasil
Banyak generasi muda juga mulai tergoda untuk meninggalkan tradisi lama demi kehidupan modern di ibu kota Mauritania atau negara lain. Meski demikian, para ulama dan tokoh masyarakat berusaha menjaga warisan ini. Mereka mendirikan lembaga pendidikan, memperbaiki masjid, dan mengajarkan pentingnya melestarikan tradisi hafalan. Pemerintah Mauritania pun mendukung, dengan menjadikan Syinqith sebagai simbol identitas nasional.
Dari Syinqith, dunia bisa belajar banyak hal
Pertama, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar. Di tengah gurun yang keras, masyarakat Syinqith membuktikan bahwa ilmu bisa tumbuh subur.
Kedua, mereka menunjukkan bahwa komunitas yang bersatu dapat mencetak generasi luar biasa. Hafalan Al-Qur’an bukan hanya hasil kerja individu, melainkan buah dari dukungan sosial yang kuat.
Ketiga, Syinqith mengingatkan kita bahwa spiritualitas dapat menjadi benteng peradaban. Meski kota ini hampir terkubur pasir, tradisi menghafal Al-Qur’an membuatnya tetap hidup dalam ingatan umat Islam di seluruh dunia.
Membayangkan Syinqith adalah membayangkan sebuah kota kecil yang sederhana, dengan rumah-rumah pasir, masjid kuno, dan anak-anak yang duduk bersila sambil melantunkan ayat suci. Tidak ada gemerlap modernitas, tidak ada teknologi canggih, namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga: kekuatan iman dan ilmu yang diwariskan lintas generasi. Di era digital, ketika banyak orang kesulitan fokus bahkan untuk membaca satu halaman buku, anak-anak Syinqith mampu menghafal enam ratus halaman Al-Qur’an dengan ketelitian sempurna. Fenomena ini seharusnya menjadi cermin bagi kita: betapa besar potensi manusia jika diarahkan dengan disiplin, tradisi, dan cinta pada ilmu.
Baca Juga: Teladan Rasulullah dalam Berkomunikasi Lintas Budaya
Syinqith bukan sekadar kota di gurun. Ia adalah simbol keteguhan, dedikasi, dan cinta pada Al-Qur’an. Dari tanah yang gersang, lahirlah ribuan hafiz yang menjaga kemurnian kitab suci. Tradisi ini telah berlangsung berabad-abad, dan meski tantangan modern terus datang, semangat itu tetap menyala. Bagi dunia Islam, Syinqith adalah pengingat bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kekayaan materi, melainkan pada warisan ilmu dan iman. Dan bagi kita semua, kisah Syinqith adalah undangan untuk merenung.
Sudahkah kita memberi tempat yang layak bagi Al-Qur’an dalam hidup kita?
Tambahan refleksi yang tak kalah penting adalah bagaimana Syinqith memberi teladan tentang hubungan manusia dengan teks suci. Di banyak tempat, Al-Qur’an hanya dibaca sesekali, bahkan kadang hanya dijadikan simbol. Namun di Syinqith, Al-Qur’an benar-benar hidup, hadir dalam setiap detik kehidupan. Anak-anak tumbuh dengan ayat-ayat, orang dewasa meneguhkan hafalan mereka, dan para orang tua menjadikan bacaan suci sebagai penutup hari.
Kota ini seakan bernafas dengan Al-Qur’an. Gambaran itu mengingatkan kita bahwa kitab suci bukan sekadar bacaan ritual, melainkan cahaya yang membentuk budaya, etika, dan arah hidup. Jika sebuah kota kecil di gurun mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat peradaban, maka seharusnya masyarakat modern yang jauh lebih kaya sumber daya pun bisa melakukannya. Pertanyaannya tinggal: apakah kita memiliki tekad yang sama, atau justru terjebak dalam kenyamanan yang membuat kita lalai? Syinqith telah menunjukkan jalannya, dan kini giliran kita untuk menimbang, apakah kita ingin sekadar mengagumi, ataukah meneladani.
Penulis: Muhammad Anwar
Editor: Rara Zarary
