0
News
    Home Berita Featured Kultum Romadhon Puasa Puasa Romadhon Romadhon Spesial

    Kultum Ramadhan: Hikmah Puasa dalam Membentuk Kesadaran Sosial - NU Online

    6 min read

     

    Kultum Ramadhan: Hikmah Puasa dalam Membentuk Kesadaran Sosial


    Ilustrasi penjual ta'jil. Sumber: NU Online.

    Kita semua mengetahui dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa kehidupan ini tidak pernah berjalan di atas garis yang sama rata. Ada di antara kita  yang sejak lahir hidup dalam kelapangan, rezekinya mengalir, makan dan minumnya terjamin, bahkan tidak pernah mengenal bagaimana rasanya lapar dan dahaga.

    Namun di sisi lain, ada pula hamba Allah yang sejak kecil harus berjibaku dengan kekurangan, bersahabat akrab dengan lapar dan dahaga. Kelompok masyarakat terpinggirkan mereka adalah orang-orang yang mengalami keterbatasan akses terhadap sumber daya, pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan layak, serta perlindungan sosial. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap kemiskinan struktural, ketidakadilan, dan diskriminasi sosial.  

    Syariat Islam tidak membedakan hamba-hamba-Nya dengan pilih kasih. Yang kaya tidak diberi keringanan hanya karena hartanya, dan yang miskin tidak dibebaskan hanya karena keadaannya.

    Seperti perintah puasa Ramadhan yang mewajibkan seluruh lapisan umat. Kaya atau miskin, kuat atau lemah, terbiasa kenyang ataupun akrab dengan lapar, semuanya diwajibkan berpuasa.  

    Kewajiban puasa yang menyeluruh ini mengandung hikmah sebab-sebab ketakwaan, yaitu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Ibnu Sa'di dalam tafsirnya saat menjelaskan ayat perintah puasa Ramadhan yakni firman Allah surat Al-Baqarah ayat 183.

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

    Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah:183)

    Beliau mengatakan bahwa kalimat (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) "agar kamu bertakwa" merupakan hikmah disyariatkannya puasa, sebab puasa merupakan lebih besar-besarnya ketakwaan, karena di dalam mengerjakan puasa termuat melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangannya, di antaranya orang kaya dapat ikut merasakan pedihnya yang dirasakan oleh orang-orang miskin, dan dari itu akan menimbulkan empati dan keprihatinannya terhadap orang miskin. Berikut selengkapnya: 

    ومنها: أن الغني إذا ذاق ألم الجوع، أوجب له ذلك، مواساة الفقراء المعدمين، وهذا من خصال التقوى

    Artinya: "Di antara sebab-sebab ketakwaan adalah ketika orang kaya merasakan pedihnya rasa lapar, hal itu akan mendorongnya untuk ikut merasakan dan menghibur penderitaan kaum fakir yang serba kekurangan. Dan sikap seperti ini termasuk bagian dari sifat ketakwaan." (Abdurrahman As-Sa'di, Tafsir as-Sa'di, [Muassasah Ar-Risalah: 2000] juz I halaman 87). 

    Puasa adalah sarana terbaik untuk menumbuhkan pada diri orang kaya perasaan seperti yang dirasakan orang miskin dan paling efektif untuk membangkitkan dorongan kasih sayang, rahmat, dan kepedulian sosial pada orang kaya. Dengan demikian, kasih sayang dan empati di antara kaum Muslimin akan benar-benar terwujud dan inilah pilar tegaknya masyarakat Islam. Berikut keterangan kitab Fiqih Manhaji

    إن من أهم المبادئ التي ينهض عليها المجتمع الإسلامي تراحم المسلمين وتعاطفهم، وهيهات أن يرحم الغني الفقير رحمة صادقة من غير أن يتخلله شعور بآلام الفقر وشدته، ومرارة الجوع وضراوته. وشهر الصيام خير ما يكسب الغني شعور الفقير، ويجعله يعيش معه في آلامه وحرمانه، ومن ثم كان الصوم خير ما يثير في نفس الأغنياء دوافع العطف والرحمة والمواساة

    Artinya: "Di antara prinsip paling penting yang menjadi pilar tegaknya masyarakat Islam adalah adanya kasih sayang dan empati di antara kaum Muslimin. Dan mustahil orang kaya dapat benar-benar mengasihi orang miskin dengan tulus, tanpa ikut merasakan penderitaan kemiskinan dan beratnya hidup, pahitnya rasa lapar dan kerasnya tekanannya. Bulan puasa adalah sarana terbaik untuk menumbuhkan pada diri orang kaya perasaan seperti yang dirasakan orang miskin, membuatnya seakan hidup bersama mereka dalam penderitaan dan kekurangan. Oleh karena itu, puasa menjadi ibadah yang paling efektif dalam membangkitkan dorongan kasih sayang, rahmat, dan kepedulian sosial pada orang-orang kaya." (Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha dan Ali As-Syarbini, Al-Fiqh al-Manhaji [Damaskus, Darul Qalam, cetakan ketiga: 1992] juz II, halaman 76). 

    Dalam Kitab Shiyam karya Darul Ifta al-Mishriyyah yang diterbitkan pada 1426 H, halaman 18, dijelaskan bahwa puasa merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa syukur. Dengan menahan diri dari berbagai nikmat yang Allah anugerahkan, seperti makan, minum, dan seluruh syahwat yang dibolehkan, seseorang menjadi lebih sadar akan nilai besar nikmat-nikmat tersebut.

    Melalui pengalaman menahan diri itu, manusia menyadari betapa ia sangat membutuhkan nikmat Allah serta memahami beratnya penderitaan orang-orang yang terhalang dari kenikmatan tersebut. Puasa menghadirkan kesadaran batin bahwa apa yang selama ini dinikmati bukanlah sesuatu yang sepele.

    Dari sinilah jiwa terdorong untuk mensyukuri Sang Pemberi nikmat Yang Maha Besar lagi Maha Kaya, yang memberi tanpa mengharap balasan. Hati pun dipenuhi rasa rahmat, kasih sayang, dan empati terhadap kaum fakir, miskin, dan mereka yang membutuhkan.

    Dan makna-makna inilah yang ditunjukkan oleh firman Allah Ta‘ala di penutup ayat-ayat tentang puasa:

    وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون

    Artinya, “Agar kamu bersyukur,” (QS. Al-Baqarah: 185).

    Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar ibadah individual yang berdimensi ritual, melainkan ibadah sosial yang memiliki daya besar dalam membangun empati dan kepedulian terhadap kelompok masyarakat terpinggirkan, terutama kaum fakir dan miskin.

    Melalui rasa lapar dan dahaga yang dirasakan bersama, orang-orang yang hidup dalam kelapangan diajak untuk merasakan sekelumit penderitaan yang setiap hari dialami oleh mereka yang kekurangan.

    Dari sinilah tumbuh rasa iba, kasih sayang, dan dorongan untuk berbagi sebagai bagian dari manifestasi ketakwaan yang hakiki. Selain itu, puasa dapat juga melahirkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat-Nya, sekaligus menggerakkan hati untuk lebih peduli terhadap sesama. 

    Ustadz Muhamad Hanif Rahman, Dosen Ma'had Aly Al-Iman Bulus dan Pengurus LBM NU Purworejo.


    Komentar
    Additional JS