0
News
    Home Featured Kultum Romadhon Puasa Romadhon Spesial

    Kultum Ramadhan: Mari Perkuat Kesalehan Sosial Lewat Puasa - NU Online

    7 min read

     

    Kultum Ramadhan: Mari Perkuat Kesalehan Sosial Lewat Puasa

    Ilustrasi puasa. Sumber: Canva/NU Online.
    Sunnatullah
    SunnatullahKolomnis

    Saat ini kita sedang berada di bulan yang sangat dinanti oleh semua umat Islam. Bulan Ramadhan yang kehadirannya selalu dirindukan, bahkan jauh sebelum ia benar-benar datang. Banyak doa dipanjatkan agar kita bisa dipertemukan dengannya dan bisa menjalani hari-harinya dengan sebaik-baiknya. Dan alhamdulillah, pada hari ini kita tidak lagi menunggunya, tetapi sedang berada di dalamnya.

    Oleh karena itu, inilah kesempatan emas yang telah Allah SWT berikan kepada kita semua, karena Ramadhan merupakan bulan yang disediakan untuk saling berlomba-lomba dalam meningkatkan ketakwaan. Di dalamnya, semua amal ibadah dan kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183).

    Ayat ini menegaskan bahwa tujuan final dari ibadah puasa kita adalah meraih gelar “muttaqin”, yaitu menjadi orang-orang yang bertakwa. Namun, sering kali makna takwa ini kita persempit hanya sebagai rasa takut kepada Allah yang membuat kita rajin beribadah ritual saja. Padahal takwa adalah sebuah konsep yang sangat luas dan dinamis.

    Salah satu bukti kuat bahwa puasa Ramadhan tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan ritual ibadah semata adalah peringatan Rasulullah tentang seseorang yang masih terus berkata dusta, mengucapkan perkataan bohong, serta melakukan perbuatan yang menyakiti sesama, maka puasanya tidak bernilai di hadapan Allah. Dalam salah satu haditsnya, Nabi bersabda:

    مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

    Artinya, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, mengamalkannya, dan perbuatan bodoh (yang menyakiti), maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya (puasanya).” (HR. Bukhari).

    Oleh karena itu, puasa yang kita jalani pada bulan Ramadhan ini tidak hanya tentang peningkatan ibadah spiritual semata, tetapi juga tentang peningkatan kesalehan sosial. Kita tidak hanya dituntut untuk rajin shalat, membaca Al-Qur’an, dan berzikir, tetapi juga dituntut untuk peduli terhadap sesama, membantu orang yang kesusahan, menyantuni anak yatim, menjenguk orang sakit, dan berbuat baik kepada tetangga kita.

    Spirit tentang kesalehan sosial ini pada hakikatnya telah ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak menjadikan ukuran kebaikan dan ketakwaan hanya pada simbol-simbol ritual semata, tetapi juga pada sejauh mana ketakwaan itu melahirkan kepedulian sosial yang nyata. Allah berfirman:

    لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

    Artinya, “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177).

    Oleh sebab itu, mari kita jadikan puasa di bulan Ramadhan ini tidak hanya sebagai ladang untuk meningkatkan kesalehan individual saja, tetapi juga sebagai momentum untuk berusaha sekuat mungkin meningkatkan kesalehan sosial.

    Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa meningkatkan kesalehan sosial di bulan Ramadhan ini? Caranya bisa kita mulai dari hal yang paling dekat dengan kita, yaitu menjaga lisan agar tidak melukai perasaan orang lain, menahan diri dari ghibah, adu domba, dan ucapan yang menyakitkan, sebab sering kali dosa sosial justru lahir dari kata-kata yang dianggap sepele tapi berdampak kepada yang lain.

    Selain itu, mari jadikan puasa sebagai madrasah kehidupan yang menumbuhkan kepekaan sosial. Rasa lapar yang kita rasakan hendaknya menyadarkan kita betapa beratnya perjuangan saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan setiap hari. Dari kesadaran itu, lahirkan kepedulian yang nyata, misalnya dengan berbagi takjil atau membantu mereka yang membutuhkan.

    Dan memang demikianlah salah satu sebab disyariatkannya puasa yang perlu kita pahami dan kita sadari, sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad Ali as-Shabuni dalam salah satu karya tafsirnya,

    فَلَيْسَ الصِّيَامُ حِرْمَانًا لِلْإِنْسَانِ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، بَلْ هُوَ تَفْجِيرٌ لِلطَّاقَةِ الرُّوحِيَّةِ فِي نَفْسِ الْإِنْسَانِ، لِيَشْعُرَ بِشُعُورِ إِخْوَانِهِ، وَيُحِسَّ بِإِحْسَاسِهِمْ، فَيَمُدَّ إِلَيْهِمْ يَدَ الْمُسَاعَدَةِ وَالْعَوْنِ، وَيَمْسَحَ دُمُوعَ الْبَائِسِينَ، وَيُزِيلَ أَحْزَانَ الْمَنْكُوبِينَ، بِمَا تَجُودُ بِهِ نَفْسُهُ الْخَيِّرَةُ الْكَرِيمَةُ الَّتِي هَذَّبَهَا شَهْرُ الصِّيَامِ

    Artinya, “Puasa tidak hanya menghalangi manusia dari makan dan minum, tetapi juga menghalangi pancaran energi spiritual dalam jiwa manusia, sehingga ia mampu merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya, ikut merasakan perasaan mereka, lalu mengulurkan tangan pertolongan dan bantuan, mengusap air mata orang-orang yang menderita, serta menghilangkan kesedihan mereka yang tertimpa musibah, disebabkan kemurahan jiwa yang baik dan mulia, yang telah ditempa dan dibina oleh bulan puasa.” (Rawai’ul Bayan fi Tafsiri Ayatil Ahkam, [Damaskus: Maktabah al-Ghazali, 1400 H], halaman 93).

    Oleh karena itu, setelah kita merasakan lapar dan dahaga di siang hari Ramadhan, jangan biarkan rasa itu berlalu begitu saja. Jadikan ia sebagai pengingat akan saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yang setiap hari harus berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi. Kemudian, wujudkan kepedulian itu dalam tindakan nyata.

    Kemudian jangan lupa, bahwa di era digital ini kesalehan sosial juga berarti menggunakan media sosial dengan bijak, menyebarkan kebaikan, menahan diri dari komentar yang buruk, dan menjadi agen perdamaian di tengah hiruk-pikuk informasi. Dengan begitu, kita tidak hanya berhasil meningkatkan kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial.

    Demikianlah kultum Ramadhan tentang puasa dan kesalehan sosial. Semoga apa yang telah dijelaskan ini tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan dan nasihat di lisan saja, tetapi benar-benar meresap ke dalam hati dan terwujud dalam perilaku keseharian kita. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

    Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.


    Komentar
    Additional JS