0
News
    Home Featured Romadhon Spesial

    Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Lapang dan Tangan yang Terbuka - Tebuireng

    4 min read

     

    Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Lapang dan Tangan yang Terbuka


    ilustrasi ibadah

    Ramadhan telah datang, suasananya selalu terasa berbeda. Laman media sosial ramai dengan ucapan menyambut bulan suci, jadwal imsak beredar di mana-mana, obrolan tentang menu buka puasa dan sahur tak ada habisnya, semua sibuk menyambutnya. Ada satu hal yang sering kita lalaikan yakni kesiapan hati beribadah di bulan suci Ramadhan.

    Bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, Ramadhan lebih dari itu. Tentang perisiapan hati di tengah hiruk pikuknya dunia. Sayangnya kebanyakan dari kita hanya sibuk mempersiapkan materi saja, apalagi ketika menjelang hari raya sementara urusan batin dan hubungan orang lain hanya kita anggap sebagai urusan yang remeh temeh.

    Padahal islam sejak awal telah menegaskan bahwa tujuan puasa adalah mementuk manusia agar  bertakwa bukan hanya sekedar siapa yang lebih kuat menahan lapar. Sebagaimana firman-Nya:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
    (Q.S. Al-Baqarah: 183)

    Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

    Artinya sebelum dan pada saat berlangsungnya bulan Ramadhan kita harus memperbanyak ibadah agar tidak ada yang janggal di dalam hati. Dendam, iri hati, atau prasangka yang diam-diam kita simpan perlahan kita ikhlaskan, kita maafkan agar kita terfokus beribadah di bulan ramadhan, bukan hanya fokus mengurus dendam, mencibiri tetangga, menggibah yang tidak ada kebermanfaatannya.

    Memang, membersihkan hati itu tidak semudah membersihkan rumah. Tidak ada sapu atau lap yang bisa langsung membersihkannya, tapi yang dibutuhkan adalah kejujuran dalam diri sendiri. Kita harus mengakui bahwa ada luka-luka yang belum sembuh dan emosi yang belum usai. Kedatangan bulan Ramadhan ini bukanlah untuk menuntut kita menjadi sempurna, tapi untuk mengajak kita jujur pada hati.

    Terkadang hati yang tidak tenang itu bukan hanya sekedar urusan pribadi, tetapi juga relasi hubungan sosial. Komunikasi yang terputus, konflik yang belum reda, emosi yang bersungut-sungut, semua itu diam-diam mempengaruhi kualitas ibadah. Sulit khusyuk saat sholat jika hati kita masih panas pada seseorang. Dan juga sulit menikmati momentum puasa ramadhan ini jika emosi mudah meledak hanya karena hal-hal yang sepele karena kita tidak mau memaafkan.

    Menyambut Ramadan dengan memperbaiki relasi sosial bukan berarti semua masalah harus selesai tuntas. Tidak semua konflik bisa langsung berakhir damai, dan tidak semua hubungan bisa kembali seperti dulu. Tapi setidaknya, ada satu hal yang bisa dilakukan siapa pun ialah berhenti memelihara kebencian.

    Memaafkan memang tidak selalu mudah. Kadang, yang paling sulit justru memaafkan tanpa penjelasan panjang. Tapi Ramadan mengajarkan bahwa memaafkan bukan soal siapa yang salah atau benar, melainkan tentang membebaskan diri dari beban batin. Hati yang lapang akan membuat ibadah terasa jauh lebih ringan.

    Membersihkan relasi sosial bisa dimulai dari hal-hal kecil namun berdampak besar bagi hati; menjaga lisan, mengurangi komentar yang negatif, tidak menyebarkan gosip, tidak menggunjing orang lain. Karena puasa kita diajarkan untuk peka pada orang lain, merasakan lelah agar tidak mudah diremehkan.

    Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Karena untuk menuju cinta kepada Allah harus mencintai sesama manusia dulu. Kesalehan yang hanya terlihat dalam ibadah ritual, tapi tidak tercermin dalam sikap sehari-hari, akan terasa timpang. Sebaliknya, ketika ibadah dibarengi dengan hati yang bersih dan relasi yang sehat, Ramadan akan benar-benar terasa hidup.

    Menyambut Ramadan dengan membersihkan hati dan relasi sosial adalah persiapan yang sering diremehkan, padahal dampaknya sangat besar. Ramadan akan berlalu cepat, tapi sisa bekasnya bisa panjang jika kita menjalaninya dengan hati yang lapang dan sikap yang lebih dewasa.

    Sebab, ibadah yang baik bukan hanya membuat kita lebih dekat kepada Allah, tapi juga membuat kita lebih manusiawi terhadap sesama. Jika hati mulai bersih dan hubungan mulai diperbaiki, maka Ramadan tidak hanya menjadi pajangan di Kalender saja ia hadir dengan bagaimana cara kita bersikap, berbicara, dan menjalani hidup setelahnya.

    Baca Juga: Ibadah Ramadan, Tadarus Al-Quran atau Ngaji Kitab Kuning?


    Penulis: Nabila Rahayu

    Editor: Sutan

    Komentar
    Additional JS