0
News
    Home 1 Abad NU Berita Featured Mujahadah Kubro Nahdhatul Ulama Prabowo Subianto Spesial

    Prabowo di Harlah 1 Abad NU: Tak Ada Bangsa yang Kuat Kalau Pemimpin Tidak Rukun - Kumparan

    7 min read

     

    Prabowo di Harlah 1 Abad NU: Tak Ada Bangsa yang Kuat Kalau Pemimpin Tidak Rukun

    Perbesar
    Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya di puncak peringatan Hari Lahir ke-100 NU di Stadion Gajayana, Malang, Minggu (8/2). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

    Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan peran NU yang selalu memberikan contoh persatuan dan toleransi. Ia menegaskan, bangsa yang kuat hanya bisa terjadi bila pemimpinnya rukun.

    Hal itu disampaikan Prabowo dalam acara Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Malang, Minggu (8/2).

    "NU selalu memberi contoh, selalu berusaha untuk menjaga persatuan dan memang itulah pelajaran sejarah tidak ada bangsa yang kuat dan bisa maju kalau pemimpin-pemimpinnya tidak rukun," kata Prabowo.

    Prabowo mengatakan, pemimpin harus selalu mengabdikan diri untuk bangsa dan rakyat Indonesia. Ia menyebut pemimpin tidak boleh punya dendam.

    Suasana puncak Hari Lahir ke-100 NU di Stadion Gajayana Malang. Foto: kumparan
    zoom-in-whitePerbesar
    Suasana puncak Hari Lahir ke-100 NU di Stadion Gajayana Malang. Foto: kumparan

    "Tidak boleh pemimpin punya dendam tidak boleh pemimpin punya rasa benci tidak boleh pemimpin punya rasa dengki tidak boleh pemimpin selalu mencari-cari kesalahan pihak lain," tegasnya.

    Karenanya, Prabowo mengajak semua pemimpin Indonesia untuk rukun menjaga persatuan bangsa Indonesia setelah bertanding.

    "Oleh karena itu saya selalu mengajak semua unsur selalu mari kita bersatu, boleh kita bertanding, boleh kita bersaing, boleh kita berbeda, boleh kita berdebat, tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia semua pemimpin masyarakat harus rukun harus menjaga persatuan dan kesatuan," ujarnya.

    Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya di puncak peringatan Hari Lahir ke-100 NU di Stadion Gajayana, Malang, Minggu (8/2). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
    zoom-in-whitePerbesar
    Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya di puncak peringatan Hari Lahir ke-100 NU di Stadion Gajayana, Malang, Minggu (8/2). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

    Prabowo menjelaskan, dalam sejarah kehidupan manusia, tidak ada kemakmuran di suatu bangsa apabila pemimpinnya tidak bersatu.

    "Sejarah manusia mengajarkan kepada kita tidak mungkin ada kemakmuran tanpa perdamaian tidak mungkin ada perdamaian kalau pemimpin-pemimpinnya tidak bersatu tidak rukun tidak kompak pemimpin di setiap eselon pemimpin pemimpin politik pemimpin ekonomi pemimpin intelektual semuanya harus berpikir berpikir berpikir berjuang," ujarnya.

    Lebih jauh, Prabowo menegaskan tidak ada kemakmuran di suatu bangsa apabila para pemimpin saling ribut dan terpecah belah.

    Suasana puncak Hari Lahir ke-100 NU di Stadion Gajayana Malang. Foto: kumparan
    zoom-in-whitePerbesar
    Suasana puncak Hari Lahir ke-100 NU di Stadion Gajayana Malang. Foto: kumparan

    Prabowo lalu mengutip pepatah jawa Mikul duwur mendhem jeru yang berarti menjunjung tinggi kebaikan dan mengubur dalam-dalam kekurangan.

    "Guru-guru kita kiai-kiai kita leluhur kita mengajarkan selalu mikudur mendem ceruh tidak boleh ada rasa benci tidak boleh ada rasa dendam. Berbeda tidak masalah sesudah berbeda cari persatuan cari kesamaan, musyawarah untuk mufakat, itu kepribadian bangsa Indonesia," tutupnya.


    Komentar
    Additional JS