Qatayef, Ratu Kue Ramadhan yang Menolak Menyerah pada Reruntuhan Gaza - Republika
Qatayef, Ratu Kue Ramadhan yang Menolak Menyerah pada Reruntuhan Gaza
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Warga Palestina di Jalur Gaza bersiap merayakan bulan puasa Ramadhan 2026 dengan menghidupkan kembali tradisi membuat Qatayef di atas tungku kayu darurat. Di Gaza, kedatangan bulan suci Ramadhan disambut melalui aroma kue tradisional Palestina yang kembali memenuhi pasar setelah dua tahun menjadi korban genosida yang dilakukan Israel.
Di Pasar Garasi Rafah di Kota Khan Younis, Gaza Selatan, yang dulu ramai dengan pembeli sebelum Israel melakukan genosida, sejumlah pemilik toko berusaha menghidupkan kembali usaha mereka seiring mendekatnya bulan puasa. Di antaranya adalah pembuat Qatayef yang kembali menyalakan tungku kayu di tengah puing-puing bekas bombardir yang dilakukan Israel.
Pemilik toko terus bekerja di bawah kondisi sulit di tengah kehancuran yang meluas dan wilayah sekitar yang masih dijajah Israel di timur kota, termasuk kekurangan bahan bakar dan gas, dikutip dari laman Anadoly Agency, Ahad (15/2/2026). Dengan lebih dari 20 tahun pengalaman, Salim Al-Bayouk yang dikenal sebagai “Raja Qatayef” terus menyiapkan kue ini secara manual meskipun sumber daya langka dan bahan dasar tidak tersedia.
Bayouk (54 tahun) mengatakan kepada Anadolu bahwa ia memulai bisnisnya di Kota Rafah sebelum pindah ke Khan Younis setelah Israel menduduki kota tersebut. Ia mengungkapkan tekadnya untuk terus berlanjut meskipun dalam kondisi sulit.

Qatayef dianggap sebagai “ratu kue Ramadhan” di kalangan Palestina, dikenal karena kemudahan pembuatannya dan biayanya yang terjangkau. Kue ini terdiri atas pancake kecil yang diisi dengan kacang, keju, atau kurma, kemudian dipanggang dan direndam dalam sirup gula.
Bayouk mengatakan selama Ramadhan, pekerjaannya bergantung pada bahan bakar gas untuk memasak, yang membutuhkan sekitar 25 kg per hari. Namun, kelangkaan pasokan memaksanya untuk bergantung pada kayu agar dapat melanjutkan profesinya.
Halaman 2 / 3
Sejak perjanjian gencatan senjata berlaku pada Oktober, Israel telah mengizinkan pasokan gas dalam jumlah terbatas ke Gaza, sementara wilayah tersebut membutuhkan 20 truk per hari, menurut pejabat setempat. Meskipun kekurangan pasokan dan biaya operasional yang meningkat, warga Palestina tetap bersikeras melanjutkan pekerjaan mereka, menolak pengungsian, dan mempertahankan tradisi Ramadhan yang mereka tolak untuk hilang dari kota mereka.
Bayouk mengatakan ia menurunkan harga per kilogram menjadi 10 shekel (sekitar 3 dolar AS) dan memberikan pekerjaan untuk 10 hingga 15 pekerja selama musim ini, menekankan komitmennya untuk tetap bertahan meskipun tokonya rusak dan ia bergantung pada perbaikan sementara. Ratusan warga Palestina lainnya di berbagai bagian Jalur Gaza juga terus menjalankan profesi musiman ini di antara tenda-tenda, gang-gang sempit, dan kamp-kamp padat. Mereka mendirikan kompor darurat dan menyalakan api kayu untuk menggantikan kekurangan gas, berusaha menghidupkan kembali ritual Ramadhan yang mereka terbiasa lakukan meskipun ada pembatasan dari penjajah.

Saeed Khalaf (38 tahun) mengatakan jalan tempat pasar tersebut berada dulunya dipenuhi pembeli sebelum perang, dan hampir tidak mungkin untuk berjalan melalui sana karena kerumunan orang. “Qatayef tetap menjadi makanan pokok di meja Ramadhan setiap keluarga,” kata Khalaf, sambil mengekspresikan harapan untuk pemulihan kehidupan normal dan implementasi fase kedua perjanjian gencatan senjata.
Halaman 3 / 3
Gencatan senjata mengakhiri serangan Israel yang dimulai pada Oktober 2023 dan berlangsung selama dua tahun. Lebih dari 72 ribu warga Palestina dibunuh Israel, dan Israel melukai lebih dari 171.000 lainnya, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur Gaza.
Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata, tentara Israel terus melanggarnya. Israel terus membunuh, setidaknya 591 warga Palestina telah dibunuh selama gencatan senjata dan melukai lebih dari 1.578 orang lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Amerika Serikat mengumumkan pada pertengahan Januari peluncuran fase kedua kesepakatan setelah penundaan, dengan mengatakan rencana tersebut mencakup penarikan pasukan Israel lebih lanjut, pengaturan pemerintahan transisi untuk Gaza, dan dimulainya upaya rekonstruksi.