0
News
    Home Bencana Featured Lintas Peristiwa Spesial

    Tanah Bergerak di Lebaksiu Tegal Kian Masif, 24 Rumah Rusak dan Mushala Roboh -NU Online

    3 min read

     

    Tanah Bergerak di Lebaksiu Tegal Kian Masif, 24 Rumah Rusak dan Mushala Roboh

    Tegal, NU Online

    Fenomena tanah bergerak di Desa Kajen, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah kian meluas dan menimbulkan kerusakan serius. Hingga Ahad (15/2/2026), terdapat 24 rumah warga dan dua mushala hancur serta terancam ambruk akibat pergerakan tanah yang masih aktif. Pemerintah Kabupaten Tegal pun menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari dari 4-18 Februari 2026 untuk mempercepat penanganan dan relokasi warga ke zona aman.


    Bencana ini dipicu oleh erosi tebing Sungai Gung yang terus berlangsung seiring tingginya intensitas hujan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal, wilayah terdampak meliputi RT 01 hingga RT 04 RW 09. Rinciannya, 24 unit rumah warga terdampak langsung, 30 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan, Mushola Baitul Mutaqin sebagian besar bangunannya roboh, dan Madrasah Nurul Hidayah mengalami kerusakan serta masuk zona bahaya.


    Akibat kondisi tersebut, sebanyak 50 kepala keluarga atau 83 jiwa terpaksa mengungsi. Para pengungsi terdiri dari 42 laki-laki dan 41 perempuan, termasuk balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia. Mereka saat ini menempati posko darurat dan sebagian tinggal sementara di rumah kerabat di sekitar lokasi bencana.


    Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PAC GP Ansor) Lebaksiu, Kabupaten Tegal Muhammad Abdul Latif menjelaskan bahwa hujan deras yang meningkatkan debit Sungai Gung diduga menjadi faktor utama meluasnya pergerakan tanah hingga sekitar dua meter ke arah barat. Beberapa rumah bahkan roboh pada bagian tembok belakang.


    “Hingga kini, tidak ada korban jiwa karena warga sudah mengungsi dan meninggalkan rumah mereka. Lokasi pengungsian juga tidak jauh dari rumah mereka, jadi warga lebih mudah dievakuasi,” ujarnya kepada NU Online, Senin (16/2/2026).


    “Pergerakan tanah terbaru menunjukkan pergeseran signifikan pada akses jalan sebelah selatan sepanjang 12 meter akibat penggerusan arus sungai yang berpindah arah. Jarak dari sungai ke rumah warga hanya 50 meter,” lanjutnya.


    Ia menambahkan, pergerakan tanah berdampak signifikan di RW 09 dan tergolong parah. “Selain tiga unit rumah yang sudah rata dengan tanah pada bagian belakang, Mushola Baitul Mutaqin juga dilaporkan roboh total,” ujarnya.


    Latif mengatakan bahwa Madrasah Nurul Hidayah kini berada dalam ancaman serius karena hanya berjarak 233 meter dari bibir tebing yang terus longsor. Sementara, masih ada 11 kepala keluarga yang bertahan di rumah dengan kondisi siaga.

     

    “Suara air dari sungai itu terdengar dengan jelas yang mengakibatkan tanah tergerus makin parah hingga ahad, sekarang berhenti karena tidak turun hujan, kalau hujan turun pergerakan tanahnya cepat sekali,” ucapnya.


    Ia juga menyoroti faktor kerusakan lingkungan di hulu Gunung Slamet menjadi akar penyebab bencana terjadi.


    “Ketika alam yang berbicara kita tidak bisa membendung kita tidak bisa menanggulangi. Kami memohon korporat punya bisnis di area perhutani tidak ada lagi penebangan pohon dan para pemangku kebijakan barangkali ada izin-izin yang dikeluarkan untuk bisa dihentikan penebangan pohon di Gunung Slamet,” tegas Latif.


    Penggalangan bantuan kemanusiaan dapat disalurkan melalui rekening BRI 066101002297308 atas nama NU Peduli LAZISNU Kabupaten Tegal dan konfirmasi ke 081214368009.


    Komentar
    Additional JS