0
News
    Home Berita Featured Spesial Toet Leumang Tradisi Tradisi Romadhon

    Toet Leumang, Tradisi Ramadhan yang Kian Langka tetapi Tetap Bertahan di Barsela - NU Online

    4 min read

     

    Toet Leumang, Tradisi Ramadhan yang Kian Langka tetapi Tetap Bertahan di Barsela

    Bireuen, NU Online

    Tradisi Toet Leumang atau memanggang lemang untuk menyambut bulan suci Ramadhan masih bertahan di sejumlah wilayah Barat Selatan Aceh (Barsela), meski di banyak daerah lain mulai memudar. Tradisi yang dahulu kuat di Kabupaten Pidie dan kawasan pesisir Aceh itu kini menjadi simbol ketahanan budaya, kebersamaan, serta spiritualitas masyarakat dalam menyongsong bulan penuh berkah.


    Sejarawan Aceh, T.A. Sakti, menuturkan pada dekade 1960-an hampir setiap rumah tangga di Pidie melaksanakan Toet Leumang. Aroma santan dan ketan yang dipanggang dalam buluh bambu menjadi penanda Ramadhan kian dekat. Anak-anak mengumpulkan batok kelapa dan pelepah kering sebagai bahan bakar, sementara orang tua menyiapkan ketan dan santan untuk diolah bersama.


    Kini, suasana tersebut hampir tak terdengar lagi di Pidie. Lemang lebih banyak dijual saat momentum Mak Meugang di pasar tradisional, bukan dimasak bersama di halaman Rumoh Aceh seperti dahulu.


    Penggiat sosial budaya dari Universitas Islam Al-Aziziyah Samalanga, Tgk Iswadi, menilai Toet Leumang memiliki nilai sosial tinggi.


    “Ini bukan sekadar kuliner tradisional. Ia adalah simbol gotong royong, pendidikan karakter anak-anak, dan media memperkuat hubungan masyarakat dengan ulama,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).


    Menurutnya, tradisi tersebut juga mengandung makna spiritual sebagai penanda kesiapan batin menyambut Ramadhan. Proses memasak bersama menjadi ruang membangun rasa syukur dan kebersamaan.


    Tidak Merata di Seluruh Aceh

    Toet Leumang tidak dikenal merata di seluruh Aceh. Sejumlah warga di Aceh Utara dan Aceh Timur menyebut tradisi itu bukan bagian dari kebiasaan daerah mereka.


    Sebaliknya, wilayah Barsela seperti Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dan Nagan Raya justru dikenal sebagai benteng terakhir tradisi tersebut. Di Bakongan, Aceh Selatan, persiapan Mak Meugang dilakukan jauh sebelum Ramadhan. Kaum lelaki mencari kayu bakar, sementara perempuan menyiapkan bahan lemang. Di Blang Pidie, Aceh Barat Daya, tradisi memasak lemang bersama keluarga besar dahulu menjadi pemandangan umum.


    Kini, meski tidak semeriah masa lalu, tradisi itu masih dijalankan dalam skala lebih sederhana. Lemang tetap menjadi pelengkap kenduri dan sajian istimewa menyambut bulan puasa.


    Di Nagan Raya, Toet Leumang erat dengan kenduri Mak Meugang. Teungku Imum atau Teungku Sagoe diundang dari rumah ke rumah sebagai tamu utama. Tradisi ini bukan sekadar menyajikan makanan, tetapi juga bentuk penghormatan kepada tokoh agama sekaligus mempererat silaturahmi.


    Tantangan Modernisasi

    Perubahan gaya hidup dan modernisasi menjadi tantangan keberlangsungan tradisi ini. Banyak keluarga memilih membeli lemang siap saji karena lebih praktis serta keterbatasan waktu dan ruang.


    T.A. Sakti menilai pergeseran tersebut tidak sepenuhnya negatif, namun pelestarian tetap diperlukan agar generasi muda mengenal akar budayanya.


    “Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Tradisi seperti ini membentuk identitas masyarakat Aceh,” katanya.


    Ia berharap pemerintah daerah dan tokoh masyarakat dapat menginisiasi agenda budaya tahunan untuk menghidupkan kembali Toet Leumang, terutama di daerah yang mulai meninggalkannya.


    Di tengah arus modernisasi, Barsela menjadi saksi bahwa tradisi ini belum sepenuhnya hilang. Aroma santan dan asap kayu bakar yang sesekali mengepul menjelang Ramadhan menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas dan kearifan lokal Aceh.


    Komentar
    Additional JS