0
News
    Home Arwah Jama’ Berita Featured Kampung Bustaman Semarang Spesial Tradisi

    Tradisi Arwah Jama’ di Kampung Bustaman Semarang, Merawat Doa dan Ingatan Leluhur - NU Online

    4 min read

     

    Tradisi Arwah Jama’ di Kampung Bustaman Semarang, Merawat Doa dan Ingatan Leluhur

    Semarang, NU Online

    Kesejukan pagi menembus dinding-dinding rumah. Suara ayam berkokok bersahutan, sementara kilauan sinar mentari mulai menyeruak di Kampung Bustaman Kota Semarang, Jawa Tengah. Hiruk pikuk di sepanjang jalan setapak menjadi tanda kegiatan Gebyar Bustaman akan segera dimulai. Alunan pujian kepada Baginda Nabi Muhammad Saw pun menggema, disambut sorak sorai penuh semangat warga.

     

    Kamis (12/2/2026) pagi itu, warga Kampung Bustaman sedang menggelar tradisi Arwah Jama’ dan Gebyuran Bustaman di Musala Al Barokah. Kearifan lokal ini rutin dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadhan.

     

    Warga tampak antusias saling melempar air berwarna yang diambil dari sumur dekat musala tanpa rasa amarah. Tradisi ini melambangkan pembersihan diri dari dosa dan kesalahan.


    Rangkaian tradisi juga diisi dengan Arwah Jama’, yakni doa bersama yang diperuntukkan bagi para leluhur kampung, termasuk tokoh-tokoh yang menjadi bagian sejarah Bustaman. Warga memadati ruangan mushala sembari melafalkan doa-doa bagi para pendahulu.


    Dini, Ibu Rukun Tetangga (RT) Kampung Bustaman, menyampaikan bahwa Gebyar Bustaman bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur.

     

    “Arwah Jama’ ini adalah momen untuk tetap mengingat orang-orang yang lebih dulu meninggalkan kami. Tradisi ini bertujuan untuk tetap menjaga hubungan kami dengan para leluhur. Dengan memanjatkan doa bersama, dalam satu ruangan yang menyatukan hati dan jiwa," ujar Dini.

     

    Menurutnya, suasana Arwah Jama’ berbeda dengan kegiatan keagamaan harian di kampung. Jika tahlilan biasanya dilaksanakan dalam lingkup terbatas, Arwah Jama’ melibatkan hampir seluruh warga.


    “Kalau di kegiatan tahlilan, tidak semua orang hadir dan Khidmah mengirim doa, tetapi di saat Arwah Jama' hampir semua warga datang dan duduk bersama di tempat ibadah. Suasana pembacaannya terasa khusyuk, guyub, dan khidmat," kata dia kepada NU Online, Sabtu (14/2/2026).

     

    Bagi warga Bustaman, doa bersama menjadi bagian yang paling dinikmati dan sarat keharuan. Nama-nama leluhur disebut dan didoakan bersama.


    “Kadang kala saya teringat orang tua atau sesepuh yang sudah tidak ada. Rasanya teduh dan haru, karena kita sadar mereka sudah tiada, tapi doa kita tetap tersambung untuk mereka,” imbuh Dini.


    Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai penguatan nilai spiritual bagi warga dari berbagai usia. Lantunan salawat bersautan di tengah keramaian.


    Kemeriahan Gebyar Bustaman diikuti semua kalangan. Anak-anak dan remaja yang tergabung dalam Ikatan Remaja Bustaman (IRB) menjadi motor penggerak kegiatan, mulai dari menyiapkan tempat, konsumsi, hingga memastikan kelancaran acara.


    “Untuj bagian menyiapkan tempat, konsumsi, dan teknis itu remaja. Kalau yang memimpin doa biasanya orang tua,” tandas Dini.

     

    Anak-anak hadir bersama keluarga, sementara kalangan ibu-ibu menyiapkan hidangan untuk kebersamaan setelah acara selesai.

     

    Dini mengaku senang melihat lintas generasi menyambut hangat tradisi keagamaan tahunan yang sarat tali persaudaraan tersebut. “Saya senang sekali. Yang terlihat tidak hanya orang tua atau dewasa, melainkan anak-anak dan remaja turut membantu mempersiapkan rentetan acara Gebyar Bustaman dengan suka cita," paparnya.

     

    Fondasi Spiritual dan Kebersamaan

    Arwah Jama’ dan Maulid Nabi menjadi rangkaian yang membangun fondasi spiritual sekaligus mempererat kebersamaan warga. Sinergi kedua kegiatan tersebut memperkokoh kekompakan warga Bustaman menjelang puncak perayaan kampung.

     

    “Arwah Jama’ adalah cara warga Bustaman menjaga doa, menjaga kebersamaan, dan menjaga ingatan pada leluhur agar kampung ini tetap punya akar,” pungkas Dini.


    Ia berharap, melalui tradisi ini, hubungan sosial antarwarga semakin erat dalam satu ruang ibadah yang sama.


    Komentar
    Additional JS