Untukmu yang Sedang Letih Hidup, Pesan Imam Masjidil Haram Ini Diam-Diam Menggetarkan Jiwa - Inilah
Di tengah kerasnya tekanan hidup modern yang membelit banyak orang, dari himpitan utang, sempitnya rezeki, hingga langkah mencari nafkah yang kerap tersandung, Imam dan Khatib Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, Syaikh Dr. Bandar Balilah hafizhahullahu ta’ala, menyampaikan pesan spiritual yang menyejukkan dan menguatkan jiwa umat Islam.
Pesan dalam sebuah potongan video diunggah akun Instagram Fawaid Haramain, dikutip inilah.com, Kamis (29/1/2026), ini kembali relevan kapan pun manusia berada di titik letih, resah, dan hampir menyerah, terutama di saat ujian hidup datang bertubi-tubi.
Pesan tersebut disampaikan oleh salah satu imam paling berpengaruh di dunia Islam, dari pusat spiritual umat Muslim, Masjidil Haram, tempat jutaan hati tertaut dalam doa dan harap.
Apa yang disampaikan bukan sekadar nasihat biasa, melainkan pengingat mendalam tentang siapa tempat bergantung manusia, mengapa doa tidak boleh ditinggalkan, dan bagaimana seorang hamba seharusnya bersikap saat hidup terasa sempit dari segala arah.
Menata Keyakinan dan Prasangka kepada Allah SWT
Dalam refleksi keimanannya, Syaikh Bandar Balilah mengajak umat untuk kembali menata keyakinan dan prasangka kepada Allah SWT. Mengapa manusia merasa sendirian, padahal Sang Maha Mulia selalu dekat? Bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap ketika rezeki terasa tertahan dan jalan hidup seolah tertutup? Jawaban itu ditegaskan melalui pesan yang menyentuh relung terdalam hati.
"Untukmu yang sedang dibebani oleh utang hingga melelahkannya, yang sempit rezekinya dan bertubi-tubi menghadapi kerasnya kehidupan, serta yang langkah-langkahnya tersandung dalam mencari nafkah," kata Syaikh Dr. Bandar Balilah dalam video tersebut.
Pertanyaan reflektif kemudian diarahkan langsung kepada kesadaran iman manusia, sebuah tamparan lembut yang mengajak berpikir ulang tentang sumber pertolongan sejati.
Di manakah engkau dari kemurahan Sang Maha Mulia, rezeki Sang Maha Pemberi rezeki, dan karunia Sang Maha Pemberi?
Dalam pesan tersebut, Syaikh Bandar Balilah mengingatkan bahwa kedekatan Allah bukan sekadar konsep teologis, melainkan janji Ilahi yang ditegaskan langsung dalam Al-Qur’an. Allah SWT sendiri menegaskan bahwa jarak antara hamba dan Rabb-Nya bukanlah jarak ruang, melainkan jarak keyakinan.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Ayat tersebut menjadi fondasi penguatan jiwa bagi siapa pun yang merasa doanya tak kunjung berjawab. Allah tidak pernah lalai, tidak pernah jauh, dan tidak pernah abai terhadap jerit batin hamba-Nya. Yang sering kali menjauh justru hati manusia sendiri, karena lelah, kecewa, atau putus asa.
Doa Senjata Utama
Syaikh Bandar Balilah juga mengarahkan pesan khusus bagi mereka yang hidupnya dikepung kesulitan, baik berupa tekanan fisik, sosial, maupun ancaman dari pihak-pihak yang memusuhi.
"Dan untukmu yang sedang ditimpa kesulitan, dikepung oleh musuh-musuh, dan terasa sempit baginya seluruh penjuru, angkatlah tangan-tangan permohonan kalian dan berdoalah kepada Allah dengan keyakinan penuh akan dikabulkan," ujarnya.
Keyakinan inilah yang menjadi inti kekuatan seorang mukmin. Doa bukan pelarian terakhir, melainkan senjata pertama orang beriman. Sebab, Allah SWT tidak hanya mendengar doa, tetapi juga menyaksikan setiap detail penderitaan hamba-Nya.
"Sesungguhnya Allah SWT melihat tempat kalian, mengetahui luka-luka kalian, menyaksikan air mata kalian, dan mendengar rintihan kalian. Dia Maha Kuasa untuk menundukkan musuh kalian," ungkap Syaikh Bandar Balilah.
Dalam perspektif iman, tidak ada penderitaan yang sia-sia. Tidak ada air mata yang jatuh tanpa disaksikan. Dan tidak ada doa yang terangkat tanpa diperhitungkan. Ketika pertolongan Allah datang, ia sering hadir melalui sebab-sebab yang tak disangka, tepat seperti yang dikehendaki-Nya.
Apabila Allah SWT menghendaki sesuatu, Dia akan menyiapkan sebab-sebabnya.
Karena itu, Syaikh Bandar Balilah menutup pesannya dengan ajakan untuk memperbaiki prasangka kepada Allah, berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Di sanalah, menurutnya, terletak kemenangan sejati, keteguhan jiwa, dan keselamatan yang pasti, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Pesan tersebut bukan sekadar penghiburan sesaat, melainkan kompas ruhani bagi siapa pun yang sedang letih menghadapi kerasnya kehidupan. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap kesempitan, selalu ada pintu langit yang terbuka, selama hati masih mau mengetuknya.