Waraqah bin Naufal dan Identifikasi Tanda-Tanda Kenabian Nabi Muhammad - NU Online
Peristiwa itu bermula di sebuah tempat bernama Gua Hira. Di sanalah, Rasulullah menerima wahyu pertamanya. Namun detik-detik awal turunnya wahyu itu tidak datang dengan tenang dan nyaman, tetapi dengan guncangan yang amat dahsyat. Tubuh Rasulullah gemetar, dadanya bergetar hebat, dan hatinya dipenuhi rasa takut yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Setelah wahyu pertama ia terima, Nabi segera bergegas pulang meninggalkan Gua Hira. Dan sesampainya di rumah, Nabi berkata kepada istrinya, Khadijah, “Zammiluni, zammiluni - Selimutilah aku, selimutilah aku.” Maka Khadijah pun segera menyelimutinya dengan lembut dan menenangkan suaminya yang sedang terguncang.
Ketika rasa takut itu mereda, Rasulullah menceritakan seluruh peristiwa yang baru saja ia alami. Kemudian ia berkata kepada istrinya, “Aku khawatir atas diriku, wahai Khadijah.” Mendengar itu, Khadijah menatap suaminya dengan tenang dan berkata:
“Sekali-kali tidak, demi Allah! Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang selalu menyambung tali silaturahmi, menanggung beban orang lain, memberi kepada yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong dalam hal-hal kebenaran.” (Lihat, Shahih al-Bukhari, [Beirut: Dar Ibn Katsir, 1407 H], jilid I, halaman 4).
Kemudian setelah berhasil menenangkan Rasulullah dan mengembalikan keteguhan hati suaminya tersebut, ia segera membawanya menemui Waraqah bin Naufal yang merupakan sepupu Khadijah yang memeluk agama Nasrani di masa jahiliyah saat itu.
Namun siapa sebenarnya Waraqah bin Naufal? Kenapa harus dibawa kepadanya, padahal tokoh-tokoh besar di kalangan masyarakat Arab saat itu sangat banyak? Nah, barangkali di sinilah penting bagi kita untuk mengetahui sekilas tentang biografinya.
Merujuk penjelasan Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Waraqah bin Naufal merupakan tokoh yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama Nasrani. Ia telah memeluk agama tersebut sejak zaman jahiliyah dan tetap konsisten menjalankan ajaran-ajaran yang ada dalam agama tersebut. Ia juga memiliki pemahaman mendalam tentang kitab Injil dan mampu menyalinnya ke dalam bahasa Ibrani. Simak penjelasan berikut ini:
وَرقَةُ بْنُ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ العُزَّى ابْنُ عَمِّ خَدِيجَةَ، وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ يَكْتُبُ الكِتَابَ العِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالعِبْرَانِيَّةِ
Artinya, “Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza adalah sepupu Khadijah. Ia adalah seorang yang memeluk agama Nasrani di masa Jahiliyah. Ia mampu menulis kitab dalam bahasa Ibrani, dan menyalin sebagian isi Injil dalam bahasa Ibrani.” (ar-Rahiqul Makhtum, [Beirut: Darul Fikr, 2002 M], halaman 51).
Penjelasan yang sama juga pernah disampaikan oleh Muhammad Husain Haikal, dalam salah satu karyanya ia berkata:
ورقة بن نوفل وكان كما قدّمنا قد تنصّر وعرف الإنجيل ونقل بعضه إلى العربية
Artinya, “Waraqah bin Naufal, dan dia, seperti yang telah kami sebutkan, telah memeluk agama Nasrani, memahami kitab Injil, dan menerjemahkan sebagiannya ke dalam bahasa Arab.” (Hayatu Muhammad, [Beirut: Maktabah al-Ashriyah, t.t], halaman 96).
Oleh sebab itu, membawa Nabi Muhammad kepada Waraqah dalam kondisi yang penuh kegelisahan merupakan langkah yang sangat tepat dan strategis dari Khadijah. Berdasarkan penjelasan dalam kitab suci sebelumnya yang banyak dikuasai oleh Waraqah, Khadijah menyadari bahwa sepupunya tersebut dapat memberikan penjelasan yang menenangkan serta menguatkan hati Nabi Muhammad setelah mengalami peristiwa luar biasa di Gua Hira.
Pertemuan dengan Waraqah bin Naufal
Sesampainya Khadijah dan Rasulullah di rumah Waraqah, Khadijah berkata kepada, “Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang disampaikan oleh anak saudaramu ini.” Waraqah pun mempersilakan Rasulullah untuk berbicara dan menceritakan semua yang ia alami di Gua Hira, “Wahai anak saudaraku, apa yang telah engkau lihat?” Tanyanya dengan pelan.
Rasulullah kemudian menceritakan seluruh kejadian yang ia alami di Gua Hira, mulai dari malaikat yang datang, perintah Iqra, hingga guncangan dahsyat yang menyelimuti dirinya. Setelah mendengar semua yang disampaikan oleh Rasulullah, Waraqah berkata dengan penuh takjub:
هَذَا النَّامُوْسُ الَّذِيْ أَنْزَلَ اللهُ عَلَى مُوْسَى، يَا لَيْتَنِيْ أَكُوْنُ فِيْهَا جَذَعًا، يَا لَيْتَنِيْ أَكُوْنُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ
Artinya, “Ini adalah Namus (Jibril) yang Allah turunkan kepada Musa. Alangkah baiknya sekiranya aku masih muda dan kuat! Alangkah baiknya sekiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu!”
Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah terkejut dan bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”
Waraqah menjawab, “Ya. Tidak pernah seorang pun membawa kebenaran seperti yang engkau bawa melainkan ia dimusuhi. Jika aku masih hidup di hari itu, pasti aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sungguh-sungguh.” (Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Durrul Mantsur, [Beirut: Darul Fikr, 1993 M], jilid VIII, halaman 561).
Dari penjelasan Waraqah tersebut, Nabi Muhammad mendapatkan jawaban atas kegelisahan yang menghantuinya. Waraqah menjelaskan bahwa apa yang dialami oleh Rasulullah adalah permulaan dari tugas kenabian yang agung, sama seperti yang dialami oleh para nabi sebelumnya. Waraqah juga memberikan gambaran tentang tantangan dan rintangan yang akan dihadapi dalam menyampaikan risalahnya, yaitu penolakan dan permusuhan dari kaumnya sendiri.
Dalam riwayat lain yang dicatat oleh Imam Abu Bakar bin Abi Syaibah al-Kufi (wafat 235 H) disebutkan bahwa Rasulullah seringkali mendengar suara memanggil namanya ketika menyendiri. Suara itu membuat dirinya ketakutan dan selalu melarikan diri menuju Khadijah, kemudian menceritakan kejadian itu kepada sang istri.
Kemudian Khadijah membicarakan hal itu secara rahasia kepada Abu Bakar yang merupakan teman dekatnya di masa Jahiliyah. Maka Abu Bakar menggandeng tangan Nabi dan membawanya kepada Waraqah. Setelah menceritakan semua itu, Waraqah bertanya: “Apakah engkau melihat sesuatu?”
Nabi menjawab: “Tidak, tetapi jika aku keluar (menyendiri), aku mendengar panggilan, tetapi aku tidak melihat apa pun, maka aku langsung pergi.” Waraqah berkata: “Jangan lakukan itu. Apabila engkau mendengar panggilan, tetaplah di tempatmu hingga engkau mendengar apa yang ia katakan kepadamu.”
Maka ketika Nabi keluar untuk menyendiri di momen berikutnya, ia mendengar panggilan: “Wahai Muhammad!” Beliau menjawab: “Labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu).” Kemudian suara itu kembali berkata: “Katakanlah: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Kemudian suara itu berkata lagi kepadanya: “Bacalah: Al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn, ar-raḫmânir-raḫîm, mâliki yaumid-dîn...” hingga selesai Surah Al-Fatihah.
Setelah itu Rasulullah kembali menemui Waraqah dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Maka Waraqah berkata,
أَبْشِرْ، ثُمَّ أَبْشِرْ، ثُمَّ أَبْشِرْ، فَإِنِّي أَشْهَدُ أَنَّك الرَّسُولُ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ: {بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ}، فَأَنَا أَشْهَدُ أَنَّك أَنْتَ أَحْمَدُ، وَأَنَا أَشْهَدُ أَنَّك مُحَمَّد، وَأَنَا أَشْهَدُ أَنَّك رَسُولُ اللهِ، وَلَيُوشِكُ أَنْ تُؤْمَرَ بِالْقِتَالِ، وَلَئِنْ أُمِرْتَ بِالْقِتَالِ وَأَنَا حَيٌّ لأُقَاتِلَنَّ مَعَك
Artinya, “Bergembiralah, kemudian bergembiralah, kemudian bergembiralah! Sesungguhnya aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam: (seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad. [QS. Ash-Shaff: 6]). Maka aku bersaksi bahwa engkau adalah Ahmad, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Muhammad, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah. Dan sungguh, engkau akan segera diperintahkan untuk berperang. Dan jika engkau diperintahkan untuk berperang dan aku masih hidup, pasti aku akan berperang bersamamu.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, [Riyadh: Dar Kunuz, 2017 M], jilid XIV, halaman 292).
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa jika ditanya, “Tanda-tanda kenabian yang dibaca oleh Waraqah bin Naufal berasal dari kitab apa?” maka jawabannya merujuk pada dua sumber utama yang dikuasai Waraqah secara mendalam.
Pertama, dari kitab Taurat. Pengetahuannya tentang pola kenabian Musa dan identifikasi bahwa “Ini adalah Namus (Jibril) yang Allah turunkan kepada Musa” menunjukkan pemahaman teologis yang mendalam terhadap sejarah kenabian dalam Taurat.
Kedua, dari kitab Injil. Hal ini diperkuat oleh penguasaannya yang dalam tentang kitab Injil hingga memiliki kemampuan untuk menyalin sebagian isi kitab Injil ke dalam bahasa Ibrani, sekaligus riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas, di mana Waraqah secara eksplisit menyebutkan pengakuan Nabi Isa tentang kedatangan seorang rasul setelahnya yang bernama Ahmad (yang merupakan nama lain dari Nabi Muhammad).
Demikianlah tulisan tentang kisah pertemuan Nabi Muhammad dengan Waraqah bin Naufal, serta asal kitab yang menjadi rujukan Waraqah dalam mengenali tanda-tanda kenabian. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.