Berpuasa Jadi Sehat? Menelusuri Pesan Hadis dan Temuan Medis -
Puasa merupakan “makanan” bagi hati. Para ulama juga bersepakat bahwa rasa lapar memiliki peran penting sebagai jalan menuju hidayah dan kesehatan, sebab melalui lapar Allah menerangi hati, menyucikan jiwa, serta memberikan kekuatan pada tubuh ketika organ-organ lainnya berada dalam kondisi lemah.
Bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa bagi kaum Islam di seluruh dunia, karena hanya di bulan ini berpuasa menjadi kegiatan yang wajib dilaksanakan. Ada banyak hikmah yang bisa diambil dari berpuasa dalam bulan Ramadan, salah satunya adalah kesehatan, hal ini seperti hadis Nabi Muhammad Saw;
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ زَكرنا نا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ فُضَيْلِ الْجَزَرِيُّ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي دَاوُدَ، نا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم : “اغْزُوا تَعْلَمُوا، وَصُومُوا تصحوا، وَسَافِرُوا تَسْتَغْنُوا، لَمْ يَرُو هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ سُهَيْلٍ، هَذَا اللفظ، إلا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ.[1]
Artinya: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Berperanglah (di jalan Allah), niscaya kalian akan belajar; berpuasalah, niscaya kalian akan sehat; dan bepergianlah, niscaya kalian akan menjadi kaya (atau tercukupi).” Tidak ada yang meriwayatkan hadis ini dari Suhail dengan lafaz ini kecuali Zuhair bin Muhammad.
Baca Juga: Sudahkah Lisanmu Ikut Berpuasa? Refleksi di Tengah Ramadhan
Hadis ini memiliki sanad yang lemah. Bahkan seluruh riwayat lain yang dijadikan sebagai penguat (syawāhid) juga menunjukkan kelemahan sanad yang serupa. Sehingga, hadis tersebut tidak dapat dijadikan landasan dalam penetapan hukum.[2] Namun, penelitian kajian matan menunjukkan hadis ini tidak dapat digugurkan makna kandungannya, karena isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, hadis lain, maupun ilmu medis. Karena itu, hadis ini dapat diamalkan dari sisi maknanya.[3]
Pesan hadis:
Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang berpuasa akan memperoleh berbagai kebaikan, baik berupa kesehatan jasmani, keberkahan rezeki, maupun pahala yang agung di akhirat. Al-Ḥarālī menyatakan bahwa puasa merupakan “makanan” bagi hati. Para ulama juga bersepakat bahwa rasa lapar memiliki peran penting sebagai jalan menuju hidayah dan kesehatan, sebab melalui lapar Allah menerangi hati, menyucikan jiwa, serta memberikan kekuatan pada tubuh ketika organ-organ lainnya berada dalam kondisi lemah.[4]
Al- Ghazali menjelaskan bahwa mengurangi makan memiliki dampak positif bagi kesehatan.Menurutnya, banyak penyakit bersumber dari kebiasaan makan berlebihan serta penumpukan sisa-sisa makanan dan cairan dalam lambung maupun pembuluh darah. Ketika tubuh terserang penyakit, hal itu bukan hanya melemahkan fisik, tetapi juga dapat mengganggu ibadah, mengeraskan hati, menghambat zikir, dan membuat kehidupan terasa berat.[5] Dalam karyanya, Ihya Ulum al-Din, ia mengutip sebuah hadis:
البطنة أصل الداء والحمية أصل الدواء
“Kekenyangan adalah pangkal penyakit, dan pengaturan pola makan adalah pangkal pengobatan.”
Pesan ini menegaskan bahwa seorang Muslim dianjurkan untuk menjaga dan mengendalikan pola makan secara seimbang, tidak berlebihan, agar kesehatan tubuh terpelihara dan ibadah dapat dijalankan dengan optimal.
Baca Juga: Puasa, Istighfar, dan Amal Sunyi di Bulan Rajab
Temuan medis:
Puasa adalah ibadah yang mengharuskan seseorang menahan diri dari makan dan minum selama satu hari. Secara fisiologis, ketika seseorang merasa lapar, perut mengirimkan sinyal ke otak. Sinyal tersebut mendorong kelenjar lambung untuk mengeluarkan enzim pencernaan. Zat inilah yang dapat menimbulkan rasa nyeri, terutama pada penderita maag. Namun, pada orang yang berpuasa, rasa sakit tersebut tidak dirasakan karena otak tidak memerintahkan kelenjar lambung untuk mengeluarkan enzim tersebut.[6]
Ulama kedokteran asal Mesir, Muhammad Al-Jawhari, menjelaskan bahwa puasa berperan dalam memperkuat daya tahan kulit sehingga dapat membantu mencegah berbagai penyakit kulit yang disebabkan oleh kuman berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, puasa juga disebut mampu menekan risiko serangan jantung, karena praktik pengendalian diri selama berpuasa dapat mencegah peningkatan kadar hormon katekolamin dalam darah.[7]
Elson M. Haas, M.D., Direktur Medical Centre of Marin sejak tahun 1984, menyatakan bahwa puasa merupakan bagian dari trilogy of nutrition yang mencakup cleansing (pembersihan), balancing (penyeimbangan), dan building (penguatan), ia menyebut puasa sebagai the missing link atau “mata rantai yang hilang” dalam pola makan masyarakat modern, terutama di dunia Barat yang sering kali mengonsumsi makanan berlebihan dengan kadar protein dan lemak tinggi. Haas menekankan bahwa puasa dapat membantu purifikasi tubuh, peremajaan sel, memberi waktu istirahat bagi organ pencernaan, menghambat penuaan dini, mengurangi alergi, menurunkan berat badan, serta meningkatkan kesehatan mental dan emosional.[8]
Baca Juga: Bukan Allah, Tapi Hakikatnya Diri Sendiri yang Mewajibkan Puasa
Selain itu, puasa juga berperan sebagai metode detoksifikasi alami bagi tubuh. Ketika berpuasa, organ-organ pencernaan dapat beristirahat dari aktivitas berat, sehingga tubuh memiliki kesempatan untuk membersihkan diri dari sisa racun, residu, dan zat berbahaya yang berasal dari makanan. Proses ini membantu menyeimbangkan metabolisme
Menurut Dr. Muhammad Munib dan tim dari Turki terhadap seratus responden menunjukkan bahwa puasa dapat menurunkan kadar gula darah, kolesterol, dan trigliserida. Penurunan ini terjadi tanpa efek samping berbahaya seperti pembentukan zat keton, yang biasanya muncul saat tubuh kekurangan energi. Dengan kata lain, puasa membantu memperbaharui metabolisme tubuh, memperbaiki proses pembakaran lemak dan menghasilkan energi yang lebih stabil.
Dari berbagai hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa puasa memiliki manfaat besar bagi kesehatan tubuh.
Baca Juga: Dapatkan Pahala Puasa Satu Tahun dengan Cara Ini
Masih banyak penelitian lain yang mengatakan bahwa puasa memang benar membuat tubuh sehat. Terlepas dari perdebatan kedhaifan hadis Ṣūmū taṣiḥḥū, dari sini dapat disimpulkan, bahwa Rasulullah merupakan sosok yang paling tepat untuk diikuti, baik dari ucapan, perbuatan maupun cara Rasulullah dalam menjaga kesehatan tubuh.
Penulis: Muhammad Fatkhun Niam
[1] Sulaiman at-Tabrānī, al-Mu’jam al-Ausat (Kairo: Dar al-Haramain, juz 8 halaman 174)
[2] Maḥmūd al-Ṭaḥḥān, Taisīr Muṣṭalaḥal-Ḥadīṡ, Maktabat al-Maʿārif lil-Nashr wa-al-Tawzīʿ, hal 81.
[3] Dewi Nurul Izzah, CRITICAL STUDY OF THE HADITH “ŞÜMÜ TAŞIHHU” AND ITS RELATION TO MEDICINE, Nabawi: Journal of Hadith Studies
[4] Abdurrauf Al-Munawi, Faidh al-Qadir, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1994, hlm. 280
[5] Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, (Beirut: Darul Ma’rifah), Juz III, hal 87
[6] Ahmad Fawait, Relevansi Hadis Dan Sains Tentang Manfaat Puasa, jurnal: Prosiding AnSoPS (Annual Symposium on Pesantren
[7] Muhaimin, B.A., dkk. Dalam Puasa dan Hikmahnya terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Spiritual, Jurnal Serambi Tarbawi Vol.3 No.1 (2015).
[8] Anisa Fitriyani, Makna Edukatif dan Manfaat Medis di Balik Ibadah Puasa, jurnal ilmiah multidisiplin
