Hukum dan Penjelasan Bacaan Qunut Witir saat Pertengahan Ramadhan - NU Online
Dalam beberapa hari ke depan, umat Islam akan memasuki separuh bulan Ramadhan (nisfu Ramadhan). Hal ini dianggap penting karena terdapat amalan yang berbeda, yakni ketika melaksanakan shalat tarawih, maka akan membaca doa qunut di akhir shalat witir.
Amalan membaca qunut ini dilaksanakan ketika shalat witir pada malam 16 Ramadhan. Mengenai hal ini, ada banyak sekali dalil yang bisa dijadikan hujjah. Mulai dari atsar (perkataan sahabat Nabi) hingga pendapat para ulama salaf dalam beberapa kitab klasik.
Di antaranya ialah Atsar Hasan yang diriwayatkan Imam Abu Dawud sebagai berikut:
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ جَمَعَ النَّاسَ عَلَىٰ أَبِي بْنِ كَعْبٍ فَكَانَ يُصَلِّي لَهُمْ عِشْرِينَ لَيْلَةً وَلَا يَقْنُتُ إِلَّا فِي النِّصْفِ الْبَاقِي مِنْ رَمَضَان رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ
Artinya: "Sesungguhnya Umar bin Khattab mengumpulkan umat untuk shalat tarawih di belakang Ubay bin Ka'ba, dan dia (Ubay bin Ka'ab) shalat bersama mereka selama dua puluh malam, dan tidak berdoa qunut kecuali pada separuh sisa (malam) di bulan Ramadan." (HR. Abu Dawud).
Begitu juga ahli hadits al-Imam al-Hafidz al-Baihaqi menjelaskan riwayat qunut dalam witir setelah separuh kedua bulan Ramadhan dalam kitabnya as-Sunan al-Kubro 2/498, yang diriwayatkan dari tabi'in:
عَنْ مُحَمَّدٍ هُوَ ابْنُ سِيرِينَ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِهِ أَنَّ أُبَيًّا بْنَ كَعْبٍ أَمَّهمْ يَعْنِي فِي رَمَضَانِ وَكَانَ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ الْآخِرِ مِنْ رَمَضَانِ
Artinya: "Dari Muhammad, yaitu Ibnu Sirin, dari sebagian sahabatnya bahwa Ubay bin Ka'b menjadi imam mereka (dalam shalat tarawih) pada bulan Ramadan, dan dia berdoa qunut pada separuh terakhir dari bulan Ramadan."
Berdasarkan riwayat-riwayat di atas banyak mazhab yang menjadikannya sebagai dalil melakukan doa qunut saat witir Ramadhan separuh kedua. Salah satunya Madzhab Syafi'i:
فَصْلٌ فِي القُنُوتِ وَهُوَ مُسْتَحَبٌّ بَعْدَ الرَّفْعِ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنَ الصُّبْحِ وَكَذَانِكَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ مِنَ الوِتْرِ فِي النِّصْفِ الْآخِرِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانِ
Artinya: "Bab mengenai qunut, yang disunnahkan setelah bangkit dari rukuk pada rakaat kedua shalat Subuh, serta pada rakaat terakhir dari shalat witir di separuh akhir bulan Ramadan." (Imam An-Nawawi, Raudlatut Thalibin, [Beirut: Maktabah Al-Islamiy, 1991 M/1412 H], juz 1, halaman 253).
Lebih jauh, Imam Ibrahim bin Muhammad juga menjelaskan dalam karyanya Hasyiyatul Bajuri Syarh Fathul Qorib bahwa memang disunnahkan untuk melakukan qunut pada separuh kedua bulan Ramadhan, bahkan ketika ada orang yang meninggalkannya disunnahkan untuk sujud sahwi:
{قَوْلُهُ وَالقُنُوتُ فِي آخِرِ الوِتْرِ} أَي فِي اعْتِدَالِ الرَّكْعَةِ الْآخِيرَةِ مِنْهُ {قَوْلُهُ: فِي النِّصْفِ الثَّانِي}، وَفِي نُسْخَةٍ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ، فَلَوْ قَنَتَ فِي غَيْرِ النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانِ أَوْ تَرَكَهُ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْهُ كَرِهَ ذَلِكَ وَسَجَدَ لِلسَّهْوِ
Artinya: “Dan qunut pada akhir witir”, maksudnya adalah pada saat i‘tidal (berdiri setelah rukuk) pada rakaat terakhir salat witir. Dan yang dimaksud“Pada separuh yang kedua”, dan dalam sebagian naskah tertulis “pada separuh yang terakhir” itu adalah, apabila seseorang membaca qunut bukan pada separuh terakhir bulan Ramadan, atau meninggalkannya pada separuh terakhir bulan tersebut, maka hal itu dihukumi makruh, dan ia disunnahkan melakukan sujud sahwi." (Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri, Hasyiyatul Bajuri, [Beirut: Darul Minhaj, 2016 M/1437 H], juz 1, halaman 639).
Senda dengan pendapat di atas, Imam al-Nawawi dalam Syarh Muhadzdzab juga menjelaskan:
(فَرْعٌ) فِي مَذَاهِبِهِمْ فِي الْقُنُوتِ فِي الْوِتْرِ: قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْمَشْهُورَ مِنْ مَذْهَبِنَا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ الْقُنُوتُ فِيهِ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ خَاصَّةً وَحَكَاهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَابْنُ عُمَرَ وَابْنُ سِيرِينَ وَالزُّبَيْرِيُّ وَيَحْيَى بْنُ وَثَّابٍ وَمَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَحُكِيَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ والحسن البصري والنخعي واسحق وَأَبِي ثَوْرٍ أَنَّهُمْ قَالُوا يَقْنُتُ فِيهِ فِي كُلِّ السَّنَةِ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ وَقَالَ بِهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا كَمَا سَبَقَ
Artinya: (Cabang pembahasan) tentang pendapat para ulama mengenai qunut dalam salat witir: "Sungguh telah kami sebutkan bahwa pendapat yang masyhur dalam mazhab kami (Syafi‘i) adalah bahwa disunnahkan qunut pada salat witir (terkhusus) pada separuh terakhir bulan Ramadan. Pendapat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir dari Ubay bin Ka‘b, Ibnu ‘Umar, Ibnu Sirin, az-Zubairi, Yahya bin Watsab, Malik, asy-Syafi‘i, dan Ahmad."
Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas‘ud, al-Hasan al-Bashri, an-Nakha‘i, Ishaq, dan Abu Tsaur bahwa mereka berpendapat qunut dalam witir dilakukan sepanjang tahun. Ini juga merupakan mazhab Abu Hanifah, dan merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Pendapat ini juga diikuti oleh sejumlah ulama dari kalangan mazhab kami, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. (Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, [Kairo: At-Tadhamun al-Akhawi, 1347 H], juz 4, halaman 24).
Oleh karena itu, dari dalil-dalil dan pendapat para ulama di atas dapat kita pahami bahwasanya melakukan qunut pada shalat witir di bulan Ramadhan hukumnya diperbolehkan bahkan disunnahkan. Dan waktu dimulainya pada malam separuh terakhir bulan Ramadhan yakni pada malam 16 bulan Ramadhan dalam rakaat witir terakhir setelah bangun dari rukuk. Wallahu a’lam.