0
News
    Update Haji
    Home Featured Fiqh Idul Fitri Lebaran Sholat Idul Fitri Spesial Zakat Fitrah

    Hukum Zakat Fitrah Setelah Shalat Idul Fitri -NU Online

    15 min read

     

    Hukum Zakat Fitrah Setelah Shalat Idul Fitri


    Setiap menjelang datangnya Idul Fitri, kaum Muslimin di berbagai daerah berbondong-bondong menunaikan kewajiban zakat fitrah sebagai penutup ibadah puasa Ramadhan. Ibadah ini bukan sekadar kewajiban individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat: membersihkan orang yang berpuasa dari kekurangan selama Ramadhan sekaligus menghadirkan kegembiraan bagi kaum fakir miskin pada hari raya.

     

    Dalam praktik di masyarakat, zakat fitrah biasanya dihimpun oleh panitia zakat di masjid, mushalla, atau lembaga keagamaan untuk kemudian didistribusikan kepada para mustahiq. Proses ini sering berlangsung hingga malam takbiran bahkan pada pagi hari sebelum pelaksanaan shalat Id.

     

    Namun dalam beberapa tahun terakhir muncul fenomena yang cukup menarik sekaligus membingungkan di tengah masyarakat. Sebagian penceramah atau tokoh agama menyampaikan bahwa batas akhir pembayaran zakat fitrah adalah sebelum khatib naik mimbar untuk khutbah Id. Bahkan ada yang menyatakan dengan tegas bahwa apabila zakat fitrah dibayarkan setelah pelaksanaan shalat Id, maka zakat tersebut tidak lagi sah sebagai zakat fitrah, melainkan hanya dianggap sebagai sedekah biasa.

     

    Pernyataan ini kemudian tersebar luas melalui ceramah, pengajian, hingga media sosial. Akibatnya, muncul kegelisahan di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang merasa khawatir zakat Fitrahnya tidak sah hanya karena terlambat menyerahkannya beberapa saat setelah shalat Id. Di sisi lain, ada pula yang saling menyalahkan praktik pengumpulan zakat Fitrah di beberapa tempat yang masih menerima pembayaran setelah shalat Id, karena dianggap telah melewati batas waktu syariat.

     

    Fenomena ini pada akhirnya menimbulkan pertanyaan penting dalam kajian fiqh: apakah benar waktu أداء (Pelaksanaan yang dianggap tunai) zakat fitrah berakhir dengan pelaksanaan shalat Idul Fitri? Ataukah sebenarnya waktu أداء zakat fitrah masih berlangsung hingga berakhirnya hari raya, yaitu sampai terbenamnya matahari pada tanggal 1 Syawal?

     

    Perbedaan pemahaman ini perlu diluruskan dengan merujuk kepada pendapat para ulama dalam kitab-kitab fiqh klasik, agar masyarakat mendapatkan kejelasan hukum dan tidak terjebak pada kesimpulan yang terlalu sempit dalam memahami batas waktu penunaian zakat Fitrah.

     

    Pertanyaan:

     

    Apakah waktu أداء zakat fitrah berakhir dengan pelaksanaan shalat Idul Fitri sehingga zakat yang dibayarkan setelahnya tidak lagi dianggap zakat fitrah, ataukah waktu أداء zakat fitrah masih berlangsung hingga terbenamnya matahari pada hari raya Idul Fitri?

     

    Jawaban:

     

    Para فقهاء (ahli fikih) berbeda pendapat mengenai waktu di mana pembayaran zakat fitrah dianggap sebagai ada’ (penunaian tepat waktu); apakah terbatas pada waktu sebelum salat Id saja, atau memanjang hingga setelah shalat?

     

    Pendapat Pertama :

     

    Mayoritas فقهاء dari kalangan Al-Hanafiyyah (1), Al-Malikiyyah (2), Asy-Syafi’iyyah (3), dan Al-Hanabilah (4) berpendapat bahwa boleh mengeluarkan zakat fitrah setelah salat Id, dan sesungguhnya waktunya luas hingga terbenamnya matahari pada hari raya Id. Al-Kasani berkata:

     

    "وأما وقت أدائها، فجميع العمر عند عامة أصحابنا، ولا تسقط بالتأخير عن يوم الفطر"

     

    “Adapun waktu penunaiannya, maka (waktunya) adalah sepanjang umur menurut pandangan umum sahabat-sahabat kami (ulama mazhab Hanafi), dan ia tidak gugur dengan sebab pengakhiran (penundaan) dari hari raya Id” (5).

     

    Pendapat Kedua :

     

    Ibnu Hazm (6), sebagian ulama Al-Hanabilah (7), Asy-Syaukani (8), Ash-Shan’ani (9), dan sebuah pendapat dari Ibnu al-Qayyim (10) berpendapat tentang haramnya mengakhirkan penunaian zakat fitrah hingga setelah salat Id, namun meskipun ada keharaman ini, zakat tersebut tidaklah gugur dan tetap menjadi tanggungan (hutang). Dalam hal ini, Ibnu Hazm berkata:

     

    "ووقت زكاة الفطر الذي لا تجب قبله، إنما تجب بدخوله، ثمّ لا تجب بخروجه فهو إثر طلوع الفجر الثاني من يوم الفطر، ممتداً إلى أن تبيض الشمس وتحل الصلاة من ذلك اليوم نفسه...، فإذا تم الخروج إلى صلاة الفطر بدخولهم في الصلاة فقد خرج وقتها... فمن لم يؤدها حتى خرج وقتها فقد وجبت في ذمته ومَالِهِ لمن هي له -يقصد المستحقين لها-، فهي دين لهم، وحقّ من حقوقهم"

     

    Dan waktu zakat Fitrah yang mana ia tidak wajib sebelum (waktu) tersebut, sesungguhnya ia menjadi wajib dengan masuknya waktu itu, kemudian tidak wajib dengan keluarnya waktu itu; yaitu setelah terbit fajar kedua pada hari raya Id, membentang hingga matahari memutih (terang) dan halalnya salat pada hari itu sendiri... maka apabila telah selesai keluar menuju salat Id dengan masuknya mereka ke dalam salat, maka sungguh telah keluar waktunya... maka barangsiapa yang belum menunaikannya hingga keluar waktunya, maka sungguh zakat itu telah wajib dalam tanggungannya dan hartanya bagi orang yang berhak menerimanya —maksud beliau adalah para mustahik—, maka ia adalah hutang bagi mereka, dan hak dari hak-hak mereka” (11).

     

    Pendapat Ketiga :

     

    Ibnu Taimiyyah (12), dan dikuatkan oleh Ibnu al-Qayyim (13), serta sebagian ulama kontemporer (14) berpendapat bahwa penunaian zakat fitrah berakhir dengan selasainya pelaksanaan salat Id. Ibnu al-Qayyim berkata:

     

    "وكان من هديه صلى الله عليه وسلم إخراج هذه الصدقة قبل صلاة العيد، .. ومقتضى هذين الحديثين أنه لا يجوز تأخيرها عن صلاة العيد، وأنها تفوت بالفراغ من الصلاة، وهذا هو الصواب، فإنه لا معارض لهذين الحديثين ولا ناسخ، ولا إجماع يدفع القول بهما، وكان شيخنا يقوي ذلك وينصره"

     

    Dan termasuk di antara petunjuk beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah mengeluarkan sedekah (zakat) ini sebelum salat Id, .. dan konsekuensi dari kedua hadis ini  adalah bahwasanya tidak boleh mengakhirkannya dari salat Id, dan sesungguhnya ia (waktunya) telah luput dengan selesainya salat, dan inilah yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada penentang bagi kedua hadis ini dan tidak pula penghapus (nasikh), serta tidak ada ijma yang menolak pendapat berdasarkan keduanya, dan guru kami (Ibnu Taimiyyah) senantiasa menguatkan hal itu dan membelanya” (15).

     

    Dalam pembahasan ini, kita perlu memaparkan penukilan beberapa teks fikih dari kitab-kitab para fuqaha yang mulia dari berbagai mazhab, karena keterkaitannya dengan pendalilan dalam masalah ini.

     

    Pertama, Mazhab Al-Hanafi:

     

    • Al-Marghinani berkata:

    "والمستحب أن يخرج الناس الفطرة يوم الفطر قبل الخروج إلى المصلى، لأنه صلى الله عليه وسلم كان يخرج قبل أن يخرج... وإن أخروها عن يوم الفطر لم تسقط، وكان عليهم إخراجها.."

     

    “Dan yang disunnahkan adalah manusia mengeluarkan (zakat) fitrah pada hari raya Idulfitri sebelum berangkat ke tempat salat (mushalla), karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dahulu mengeluarkannya sebelum beliau berangkat... dan jika mereka mengakhirkannya (menundanya) dari hari raya Idulfitri, maka ia tidaklah gugur, dan mereka tetap wajib mengeluarkannya..”(16)

     

    • Al-Kasani berkata:

     

    "وأما وقت أدائها فجميع العمر عند عامة أصحابنا ولا تسقط بالتأخير عن يوم الفطر... غير أن المستحب أن يخرج قبل الخروج إلى المصلى؛ لأنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم كذا كان يفعل..."

     

    Adapun waktu penunaiannya, maka (waktunya) adalah sepanjang umur menurut pandangan umum sahabat-sahabat kami (ulama mazhab Hanafi), dan ia tidak gugur dengan sebab pengakhiran dari hari raya Idulfitri... hanya saja yang disunnahkan adalah mengeluarkannya sebelum berangkat ke tempat salat; karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dahulu melakukan hal yang demikian...” (17). 

     

    Kedua, Mazhab Al-Maliki:

     

    • Imam Malik berkata:

     

    "رأيتُ أهل العلم يستحبون أن يخرجوا صدقة الفطر إذا طلع الفجر من يوم الفطر من قبل أن يغدوا إلى المصلى، قال مالك: وذلك واسع إن شاء أن يؤدي قبل الصلاة أو بعدها" 

     

    “Aku melihat ahli ilmu menyukai (mensunnahkan) untuk mengeluarkan sedekah fitrah apabila telah terbit fajar pada hari raya Idulfitri sebelum mereka pergi menuju tempat salat. Malik berkata: Dan hal itu luas (longgar), jika ia mau, ia boleh menunaikannya sebelum salat atau sesudahnya” (18). 

     

    • Ad-Dasuqi berkata :

     

    "وندب إخراجها بعد الفجر قبل الصلاة... ولا تسقط الفطرة بمضي زمنها"

     

    “Dan disunnahkan mengeluarkannya setelah fajar sebelum salat... dan zakat fitrah tidaklah gugur dengan berlalunya waktunya” (19). 

     

    Ketiga, Mazhab Asy-Syafi’i :

     

    • Imam An-Nawawi berkata:

    "واتفقت نصوص الشافعي والأصحاب على أنَّ الأفضل أن يخرجها يوم العيد قبل الخروج إلى صلاة العيد، وأنه يجوز إخراجها في يوم العيد كله، وأنه لا يجوز تأخيرها عن يوم العيد، وأنه لو أخرها عصى ولزمه قضاؤها، وسموا إخراجها بعد يوم العيد قضاء"

     

    “Teks-teks asy-Syafi’i dan para sahabat (ulama Syafi’iyyah) telah bersepakat bahwa yang paling utama adalah mengeluarkannya pada hari raya sebelum berangkat menuju salat Id, dan bahwasanya boleh mengeluarkannya pada seluruh hari raya itu, dan bahwasanya tidak boleh mengakhirkannya dari hari raya tersebut, dan bahwasanya jika ia mengakhirkannya maka ia telah bermaksiat (berdosa) dan wajib baginya meng-qada-nya, dan mereka menamakan pengeluarannya setelah hari raya sebagai qadha” (20). 

     

    • Asy-Syirbini berkata:

     

    "ويسنّ أن لا تؤخر عن صلاته للأمر به قبل الخروج إليها في الصحيحين...، ويحرم تأخيرها عن يومه بلا عذر...، فلو أخر بلا عذر عصى وقضى لخروج الوقت على الفور لتأخيره من غير عذر"

     

    “Dan disunnahkan untuk tidak mengakhirkannya dari salatnya karena adanya perintah untuk hal itu sebelum berangkat menuju salat dalam kitab Ash-Shahihain... dan diharamkan mengakhirkannya dari hari (raya) tersebut tanpa adanya uzur... maka jika ia mengakhirkannya tanpa uzur, ia telah bermaksiat dan wajib meng-qada karena keluarnya waktu secara seketika (faur) disebabkan pengakhirannya tanpa uzur” (21). 

     

    Keempat, Mazhab Al-Hanbali :

     

    • Ibnu Qudamah berkata :

     

    "المستحب إخراج صدقة الفطر يوم الفطر قبل الصلاة؛ لأنَّ النبيّ صلى الله عليه وسلم أمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة...، فإن أخرها عن الصلاة ترك الأفضل...، فإن أخرها عن يوم العيد أثم ولزمه القضاء"

     

    “Disunnahkan mengeluarkan sedekah fitrah pada hari raya Idulfitri sebelum salat; karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan hal itu agar ditunaikan sebelum keluarnya manusia menuju salat... maka jika ia mengakhirkannya dari salat, ia telah meninggalkan yang paling utama... dan jika ia mengakhirkannya dari hari raya, ia berdosa dan wajib baginya meng-qada” (22). 

     

    • Al-Bahuti berkata:

     

    "وآخر وقتها غروب الشمس يوم الفطر...، فإن أخرها عنه أثم لتأخيره الواجب عن وقته، ولمخالفته الأمر وعليه القضاء؛ لأنها عبادة فلم تسقط بخروج الوقت، كالصلاة والأفضل: إخراجها يوم العيد قبل الصلاة أو قدرها"

     

    “Dan akhir waktunya adalah terbenamnya matahari pada hari raya Idulfitri... maka jika ia mengakhirkannya dari waktu tersebut, ia berdosa karena mengakhirkan kewajiban dari waktunya, dan karena menyelisihi perintah, serta wajib baginya meng-qada; karena ia adalah ibadah sehingga tidak gugur dengan keluarnya waktu, sebagaimana salat. Dan yang paling utama: mengeluarkannya pada hari raya sebelum salat atau seukuran waktu tersebut”(23).

     

    Pendapat Jumhurul Ulama bahwa zakat Fitrah boleh dibayarkan meskipun setelah shalat Id adalah dilalah mujmal-nya (makna global/umum) kata ‘yaum’(hari) dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anh :

     

    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: «كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ. وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ: وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالْأَقِطُ وَالتَّمْرُ.

     

    “Dari Abu Said al-Khudri, ia berkata: ‘Kami dahulu pada zaman Rasulullah ﷺmengeluarkan pada hari raya Idulfitri satu sha’ dari makanan.’ Abu Said berkata: ‘Dan makanan kami (saat itu) adalah gandum, kismis, keju, dan kurma’.”

     

    Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih-nya (3/566) menjelaskan:

     

    وقول أبى سعيد: كنا نخرج يوم الفطر، هو مجمل يحتمل أن يكون قبل الصلاة، ويحتمل أن يكون بعد الصلاة، وإذا كانت صدقة الفطر لإغناء السؤال عن المسألة ذلك اليوم جاز إخراجها بعد الصلاة.

     

    “Dan perkataan Abu Said: ‘Kami dahulu mengeluarkan pada hari raya Idulfitri’, adalah (makna) mujmal (global) yang mengandung kemungkinan (dilakukan) sebelum shalat, dan mengandung kemungkinan sesudah shalat. Dan apabila sedekah Fitrah itu tujuannya adalah untuk mencukupi orang miskin dari meminta-minta pada hari tersebut, maka boleh mengeluarkannya setelah shalat.”

     

    Lantas, bagaimana dengan hadis Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum? Mengenai hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, yaitu hadis :

     

    حدثنا آدم حدثنا حفص بن ميسرة حدثنا موسى بن عقبة عن نافع عن ابن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بزكاة الفطر قبل خروج الناس إلى الصلاة

     

    “Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah, telah menceritakan kepada kami Musa bin Uqbah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi ﷺmemerintahkan zakat fitrah (ditunaikan) sebelum keluarnya manusia menuju shalat.”

     

    Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqallani berkata dalam al-Fath (3/439):

     

    وحمل الشافعي التقييد بقبل صلاة العيد على الاستحباب لصدق اليوم على جميع النهار.

     

    “Dan Imam Asy-Syafi’i membawa (menafsirkan) pembatasan dengan ‘sebelum shalat Id’ atas dasar istihbab (anjuran/sunnah), karena sebutan ‘hari’ berlaku untuk sepanjang siang.”

     

    Dalam Tharh at-Tatsrib (4/63), al-Iraqi menjelaskan :

     

    لِأَنَّ صِيغَةَ أَمَرَ مُحْتَمِلَةٌ لِلِاسْتِحْبَابِ كَاحْتِمَالِهَا لِلْإِيجَابِ وَلَيْسَتْ ظَاهِرَةً فِي أَحَدِهِمَا بِخِلَافِ صِيغَةِ افْعَلْ فَإِنَّهَا ظَاهِرَةٌ فِي الْوُجُوبِ

     

    “Karena bentuk kata ‘Amara’ (memerintah) mengandung kemungkinan untuk bermakna istihbab (sunnah) sebagaimana ia mengandung kemungkinan untuk bermakna ijab (wajib), dan ia tidaklah zhahir (nampak jelas) pada salah satunya. Berbeda dengan bentuk kata perintah ‘If’al’ (kerjakanlah), karena sesungguhnya ia zhahir dalam menunjukkan kewajiban.”

     

    Adapun hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yaitu:

     

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: "فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ"

     

    “Dari Ibnu Abbas, ia berkata: ‘Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat, maka itu adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu adalah satu sedekah di antara sedekah-sedekah’.”

     

    Al-Badr al-‘Aini dalam Syarh Sunan Abi Dawud (6/319) menjelaskan:

     

    ومن أداهما بعد الصلاة" أي: بعد صلاة العيد. وليس فيها ما يدلّ على أنه إذا أداها بعد الصلاة أنها لا تقبل؛ بل الذي يدلّ أن إخراجها قبل الصلاة أفضل، لئلا يتشاغل الفقير بالمسألة عن الصلاة.

     

    “Dan barangsiapa yang menunaikan keduanya setelah shalat’ maksudnya: setelah shalat Id. Dan tidak ada di dalam (hadis) tersebut apa yang menunjukkan bahwa jika ia menunaikannya setelah shalat maka ia tidak diterima; melainkan yang ditunjukkan adalah bahwa mengeluarkannya sebelum shalat itu lebih utama, agar orang fakir tidak disibukkan dengan urusan meminta-minta sehingga meninggalkan shalat.”

     

    Ibnu Nujaim, Zainuddin bin Ibrahim bin Muhammad dalam kitab Al-Bahr al-Ra’iq Syarh Kanz al-Daqa’iq, Jilid 2, hlm. 275 berkata : 

     

    "وفي أي وقتٍ أدى كان مؤدياً لا قاضياً كما في سائر الواجبات الموسعة... والتحقيق أنه بعد اليوم الأول قاضٍ لا مؤدٍ؛ لأنهُ من قبيل المقيد بالوقت بقولهصلى الله عليه وسلم: "أغنوهم في هذا اليوم عن المسألة"، ومقتضاه أنه يأثمبتأخيره عن اليوم الأول على القول بأنه مقيد، وعلى أنه مطلق فلا إثم"

     

    "Dan pada waktu kapan pun ia menunaikannya, maka ia adalah orang yang menunaikan (mu'addin/ada') bukan orang yang meng-qada (qadhin), sebagaimana dalam seluruh kewajiban yang bersifat luas waktunya (muwassa')... Namun tahqiq-nya (hasil penelitian mendalamnya) adalah bahwasanya setelah hari pertama ia adalah orang yang meng-qada bukan menunaikan tepat waktu; karena hal itu termasuk jenis yang dibatasi oleh waktu dengan sabda Nabi ﷺ: 'Cukupilah mereka (orang miskin) pada hari ini dari meminta-minta'. Dan konsekuensinya adalah bahwasanya ia berdosa dengan mengakhirkannya dari hari pertama atas pendapat yang menyatakan bahwa ia dibatasi (muqayyad), sedangkan atas pendapat bahwasanya ia mutlak (tidak dibatasi hari itu saja) maka tidak ada dosa.”

     

    Kesimpulan

     

    Berdasarkan penjelasan para ulama dari berbagai mazhab fiqhdapat disimpulkan:

     

    1. Waktu yang paling utama untuk menunaikan zakat fitrah adalah sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri.

     

    2. Mayoritas ulama dari empat mazhab berpendapat bahwa zakat fitrah masih sah ditunaikan setelah shalat Id.

     

    3. Waktu أداء zakat fitrah menurut jumhur ulama berlangsung hingga terbenamnya matahari pada tanggal 1 Syawal.

     

    4. Jika zakat fitrah ditunaikan setelah hari raya berlalu maka ia tetap wajib ditunaikan sebagai qadha dan tidak gugur kewajibannya.

     

    Dengan demikian, anggapan bahwa zakat fitrah yang dibayarkan setelah shalat Id tidak lagi sah sebagai zakat fitrah bukanlah pendapat mayoritas ulama fiqh, sehingga pemahaman tersebut perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat.

     

    Penyusun:

    Tim LBM PCNU Jakarta Utara

     

    Sumber:

     

    ([1]) الكاساني، بدائع الصنائع، 2/74.

    ([2]) الدسوقي، حاشية الدسوقي على الشرح الكبير، دار الفكر، 1/507- 508.

    ([3]) الشيرازي، المهذب في فقه الإمام الشافعي، دار الكتب العلمية، 1/303.

    ([4]) البهوتي، كشاف القناع، دار الكتب العلمية، 2/252.

    ([5]) الكاساني، بدائع الصنائع، 2/74.

    ([6]) ابن حزم، المحلى بالآثار، دار الفكر، 4/265.

    ([7]) المرداوي، الإنصاف، دار إحياء التراث العربي، ط2، 3/178.

    ([8]) الشوكاني، نيل الأوطار، دار الحديث، ط1، 1413هـ، 4/218.

    ([9]) الصنعاني، سبل السلام، دار الحديث، 1/538.

    ([10]) الصنعاني، سبل السلام، 1/538.

    ([11]) المحلى، 4/265.

    ([12]) عزاه إليه ابن القيم في زاد المعاد، ولم أجده في مجموع الفتاوى.

    ([13]) ابن القيم، زاد المعاد، مؤسسة الرسالة، ط27، 1415هـ، 2/21.

    ([14]) إشارة إلى حديثي ابن عمر وابن عباس، وسيأti تخريجهما لاحقاً.

    ([15]) زاد المعاد, 2/21.

    ([16]) العيني، البناية شرح الهداية، دار الكتب العلمية، ط1، 1420هـ، 3/503.

    ([17]) بدائع الصنائع، 2/74.

    ([18]) المدونة، 1/385؛ ابن عبد البر، الاستذكار، دار الكتب العلمية، ط1، 3/271.

    ([19]) حاشية الدسوقي، 1/507- 508؛ وانظر: حاشية العدوي، 1/514.

    ([20]) النووي، المجموع شرح المهذب، دار الفكر، 6/128.

    ([21]) مغني المحتاج، 2/112؛ وانظر: أسنى المطالب، 1/388؛ المهذب، 1/303.

    ([22]) المغني، 3/89.

    ([23]) كشاف القناع، 2/252؛ وانظر: العدة شرح العمدة، دار الحديث، ص152.

     

    Ustadz Suwandi, Ketua LBM PCNU Jakarta Utara


    Komentar
    Additional JS